PEMUTIHAN PULP DENGAN HIDROGEN PEROKSIDA

*Ahmad M. Fuadi -  Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta Jawa Tengah 57102, Indonesia
Hari Sulistya -  Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM Jalan Grafika 2, Kampus UGM, Yogyakarta Telp: 0274-902171, fax: 0274-902170, Indonesia
Published: 18 Nov 2008.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Article
Language: EN
Full Text:
Statistics: 1781 1938
Abstract

The use of bleaching agent has increased as the result of increasing of paper consumption. The conventional bleaching agent that commonly used is material containing of chlorine. This material is not environmentally friendly and should be replaced by environmentally benign chemical, such as H2O2. About 40 gram of dry Akasia pulp was mixed with 600 ml of distilled water was put into plastic bag heated in a water bath. When the temperature reached 630C, a solution of 4 % of H2O2 and distilled water was added to obtain 5 % consistency. This mixture was put into water bath and was heated for 2 hours. The same procedure was conducted with various concentration of H2O2, time and pH. At the end of the process, the pulp was dewatered and washed. The filtrate obtained from the initial dewatering was used to determine the residual of H2O2. The pulp was analyzed to determine brightness, fiber strength and kappa number. The maximum achievement of brightness was 62,1 % ISO, 6.86 of kappa number and 1.02 kg/15 mm of fiber strength, which are reached at16 % of the use of H2O2, pH 11 and 5 hours of bleaching time. This achievement is similar to bleaching result by the additional of 4% H2O2. Inefficient usage of H2O2 was caused by some metal ions in the pulp which facilitate the decomposition of H2O2 to produce oxygen and water which has not effect on increasing the brightness. To improve the bleach ability of H2O2, initial treatment to remove metal ions from pulp should be done.

 

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan kertas, kebutuhan bahan pemutih juga mengalami kenaikan. Saat ini bahan pemutih yang banyak digunakan adalah senyawa yang mengandung khlor. Senyawa ini sangat tidak ramah lingkungan, oleh karena itu, perlu dicari bahan yang ramah lingkungan untuk menggantikannya. Salah satunya adalah hidrogen peroksida. Pulp dari pohon akasia sebanyak 40 gram kering dicampur dengan 600 ml aquadest dimasukkan dalam kantung plastik dipanaskan dalam water bath. Setelah suhu mencapai 630C, kantung plastik diambil kemudian ditambah hidrogen peroksida sebanyak 4% dari pulp kering dan aquadest sehingga mencapai konsistensi 5%. Campuran dimasukkan kedalam water bath untuk dipanaskan lebih lanjut hingga 2 jam. Hal yang sama dilakukan pada berbagai kadar hidrogen peroksida, waktu dan pH. Pada akhir proses, pulp dipisahkan dengan filtratnya dan dicuci dengan aquades. Filtrat yang diperoleh dianalisa sisa hidrogen peroksidanya. Pulp yang diperoleh dianalisa derajat putih, kekuatan serat serta bilangan kappanya. Maksimum derajat putih yang bisa dicapai adalah 62,1% ISO, bilangan kappa 6,86 dan fiber strength 1,02 kg/15mm yang dicapai pada pemakaian H2O2 16%, pH 11 selama 5 jam. Pencapaian ini hampir sama dengan hasil yang dicapai ketika penambahan H2O2 4%. Ketidak efektifan pemakaian H2O2 disini disebabkan oleh adanya beberapa metal ion yang ada di dalam pulp yang bertindak sebagai katalisator terjadinya reaksi dekomposisi dari H2O2 membentuk oksigen dan air yang tidak efektif dalam memberikan efek terhadap proses pemutihan. Untuk meningkatkan bleach ability dari hydrogen peroksida, perlu dilakukan treatment awal untuk mengeluarkan metal ion dari pulp.

Keywords
akasia, pemutih, hidrogen peroksida

Article Metrics: