PENGARUH PENGGUNAAN MINYAK IKAN TERSULFIT TERHADAP NILAI KELEMASAN DAN KUALITAS KULIT IKAN PARI MONDOL (Himantura gerardi) TERSAMAK The Effect of Using Different Concentration of Sulfited Fish Oil on The Softness and Quality of Formalin Tanned Stingray (Himantura gerardi) Leather

*Gina Utami Dewi -  Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Ratna Ibrahim -  Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Ima Wijayanti -  Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 29 Jan 2017; Published: 30 Jan 2017.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 728 2564
Abstract

 

Penyamakan kulit ikan Pari umumnya menggunakan minyak sintetis pada proses peminyakan. Kulit ikan Pari tersamak yang kaku membatasi pembentukan model aksesoris, sehingga perlu adanya alternative penggunaan minyak non sintetis, salah satunya minyak ikan tersulfit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan minyak ikan tersulfit terhadap nilai kelemasan dan kualitas kulit ikan Pari Mondol tersamak. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental laboratoris. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi minyak ikan tersulfit yang berbeda, yaitu 14%, 16%, 18%, dan kontrol (15% minyak sintetis). Variabel kualitas produk yang diamati adalah kelemasan, kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, ketebalan, ketahanan bengkuk, kadar air, kadar lemak, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan minyak ikan tersulfit pada proses peminyakan kulit ikan Pari Mondol tersamak berpengaruh nyata terhadap nilai kelemasan, kemuluran, kekuatan sobek, dan kadar lemak. Kualitas produkkulit ikan pari tersamak  terbaik yaitu produk yang menggunakan minyak ikan tersulfit dengan konsentrasi 16%. Produk tersebut menghasilkan nilai kelemasan yang memenuhi persyaratan ISO dan kualitasnya memenuhi persyaratan mutu Kulit Ikan Pari Tersamak menurut SNI.

  

Tannery of Stingray usually uses synthetic oil in fatliquoring process. Tanned Stingray leather is rigid, as of limiting the modeling accessories formation. so the need for alternative use of non-synthetic oil, sulfited  fish oil one. This study aims to determine the effect of sulfited fish oil against softness value and quality of fish Pari Mondol tanned skin. The study was conducted with laboratory experimental method. The experiments are designed with completely randomized design (CRD) by treatment with  sulfitted fish oil different concentration, namely 14%, 16%, 18%, and controls (15% synthetic oil). The variable quality of the products observed were softness, tensile strength, elongation, tear strength, thickness, crooked durability, moisture content, fat content, and pH. The results showed that the use of sulfited  fish oil in the process of tanned stingray leather significantly affect the value of softness, elongation, tear strength, and fat content. The best quality of tanned  stingray tanned leather was tanned stingray leather with sulfited fish oil 16%. The product produced softness value that fulfill the requirements of ISO and the quality requirements tanned stingray  leather by SNI.. 
Keywords
Kulit Ikan Pari Mondol Tersamak; Minyak Ikan Tersulfit; Nilai Kelemasan; Kualitas

Article Metrics:

  1. Kadar Lemak Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI-06-0564-1989. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  2. [BSN] Badan Standar Nasional. 1989. Standar Pengujian Kadar Air Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI-06-0644-1989. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  3. [BSN] Badan Standar Nasional. 1989. Standar Pengujian Kekuatan Bengkuk Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI-06-0995-1989. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  4. [BSN] Badan Standar Nasional. 1990. Standar Pengujian Kekuatan Sobek Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI-06-1795-1990. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  5. [BSN] Badan Standar Nasional. 1999. Syarat Mutu Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI-06-6121-1999. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  6. [BSN] Badan Standar Nasional. 2005. Standar Pengujian Ketebalan Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI-06-7128-2005. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  7. [BSN] Badan Standar Nasional. 2011. Standar Pengujian pH Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI ISO 4045:2011. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  8. [BSN] Badan Standar Nasional. 2012. Standar Pengujian Kelemasan Kulit Untuk Barang Kulit. SNI ISO 17235:2012. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  9. [BSN] Badan Standar Nasional. 2012. Standar Pengujian Kekuatan Tarik dan Kemuluran Kulit Ikan Pari Untuk Barang Kulit. SNI ISO 3376:2012. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  10. Balai Besar Kulit Karet dan Plastik. 2009. Panduan Teknis Teknologi Penyamakan Kulit Ikan. Yogyakarta.
  11. Covington, Tony. 2009. Tanning Chemistry. The Science of Leather. RSC Publishing. UK.
  12. Fajar, I. P. dan Emiliana K. 2012. Pengaruh Jumlah Minyak Ikan terhadap Sifat Fisis Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Untuk Bagian Atas Sepatu. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit Karet dan Plastik. Yogyakarta.
  13. Gutterres, M., dan L. M. D. Santos. 2007. Study of Fatliquoring Parameters Using Experimental Design. Federal University of Rio Grande do Soul. Brazil.
  14. Hadi. 1985. Pengetahuan Bahan dan Obat Penyamakan Kulit. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit Karet dan Plastik. Yogyakarta.
  15. Hermiyati, Indri. 2009. Panduan Praktikum Analisa Kulit. Akademi Teknologi Kulit. Yogyakarta.
  16. Judoamidjojo R. M. 1974. Dasar Teknologi dan Kimia Kulit. Fakultas. Teknologi Hasil Pertanian, Institut Pertaian Bogor. Bogor.
  17. Khusniyati, I., 2007. Pengaruh Pengenceran Cat Basis dengan Metanol terhadap Ketahanan Bengkuk dan Gosok Cat Kulit Batik dari Kulit Domba Samak Kombinasi. Universitas Diponegoro. Semarang.
  18. Mann, I. 1981. Rular Tanning Technique. FAO. Roma.
  19. Novia, S., 2009. Stabilitas Mikroenkapsulat Minyak Sawit Merah Hasil Pengeringan Lapis Tipis Selama Penyimpanan. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  20. Nurdiansyah, Dian. 2012. Pengaruh Penggunaan Minyak Ikan Tersulfit pada Proses Fat Liquoring terhadap Mutu Fisik Fur Kelinci. Universitas Padjajaran. Bandung.
  21. O’Flaherty, F. T., Roddy dan R. M. Lollar., 1978. The Chemistry and Technology of Leather. Huntington Publishing Company. New York.
  22. Purnomo, E. 1991. Penyamakan Kulit Reptil. Kanisius. Yogyakarta.
  23. Purnomo, E. 2002. Penyamakan Kulit Ikan Pari. Kanisius. Yogyakarta.
  24. Reetz, M. T., Carballeira, J.D., Vogel, A. 2006. Interactive Saturation Mutagenesis on the Basis of B Factors as a Strategy for Increasing Protein Thermostability. Angew. Chem. Int. Ed., 45, 7745-7751.
  25. Roddy, W. T. 1978. Histology of Animal Skin. Robert E. Krieger Publishing Company Huntington, New York.
  26. Rose, A. H., (1982). Fermented Foods, Economic Microbiology Volume 7. Academic Press Inc. London.
  27. Untari, S., 1997. Cara-cara Pengulitan dan Pengawetan Kulit Ikan Pari. Proyek Pengembangan dan Pelayanan Teknologi Industri Kulit, Karet dan Plastik. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit Karet dan Plastik. Yogyakarta.