skip to main content

STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN KOTA BANGUN

Moh Mustakim  -  Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Universitas Mulawarman, Indonesia
Abdunnur Abdunnur  -  Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Universitas Mulawarman, Indonesia
Akhmad Rafi’i  -  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman, Indonesia
*Rani Novia scopus  -  Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Universitas Mulawarman, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Perairan Kota Bangun (Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur) yang terhubung dengan Sungai Mahakam adalah sumber mata pencaharian utama (95% penduduknya nelayan) yang bergantung pada ikan bernilai ekonomi tinggi. Kunci kesehatan ekosistem perikanan ini adalah plankton, yang merupakan dasar rantai makanan dan bioindikator kualitas air. Saat ini, keterbatasan data komprehensif mengenai struktur komunitas plankton menghambat pengelolaan perikanan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian mendalam tentang struktur komunitas plankton di Kota Bangun sangat krusial, karena menjadi dasar ilmiah untuk pengelolaan perikanan air tawar yang efektif, mendukung populasi ikan dan menjamin keberlanjutan nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi plankton, kelimpahan dan indeks ekologi di perairan Kota Bangun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel plankton dilakukan secara vertikal (0–5 meter) menggunakan plankton net, sampel air diambil menggunakan water sampler di lima stasiun penelitian. Hasil penelitian ditemukan Jenis fitoplankton sebanyak 34 spesies, meliputi Kelas Bacillariophyceae, kelas Charophyta, kelas Chlorophyceae, kelas Cyanophyceae dan kelas Dinophyceae sedangkan jenis zooplankton ditemukan sebanyak 19 spesies, meliputi kelas Crustaceae, kelas Euglenaceae, kelas Protozoa, kelas Rotifer dan kelas Sacodina. Nilai kelimpahan plankton tertinggi pada stasiun 5 yaitu Muara Pela dengan 20853 ind/L, Kelimpahan fitoplankton tertinggi berasal dari genus Ulothrix aequalis kelas Chlorophyceae sebesar 26%. Hasil analisis indeks ekologi menunjukkan bahwa perairan Kota Bangun memiliki keanekaragaman dan keseragaman individu sedang, tidak ada spesies plankton yang dominan. Kondisi ini mengindikasikan ekosistem perairan yang relatif stabil dan memiliki daya tahan terhadap perubahan lingkungan dalam menerima perubahan lingkungan perairan, ekosistem perairan yang stabil serta tidak adanya jenis plankton tertentu yang mendominansi dalam komunitas.

Fulltext View|Download
Keywords: Kelimpahan; Plankton; Struktur Komunitas; Kota Bangun

Article Metrics:

  1. Ambarwati, R., Harly, R. E., & Sunarto, B. (2019). Keanekaragaman Fitoplankton di Waduk Bili-Bili, Gowa, Sulawesi Selatan. Jurnal Biologi Tropis, 2(2), 154-162
  2. APHA, AWWA, & WEF (2017). Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater. 23rd Edition. American Public Health Association, Washington, D.C
  3. Armiani, E., Wulandari, R., & Hartati, R. (2019). Hubungan antara Kualitas Perairan dengan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Estuari Sungai Silugonggo, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Kelautan, 24(1), 34-42
  4. Beals, M., Gross, L., & Harrell, S. (2023). Diversity Indices: Shannon's H' and Simpson's D. University of Tennessee
  5. Bellinger, E. G., & Sigee, D. C. (2015). Freshwater Algae: Identification, Enumeration and Environmental Applications. Wiley Blackwell
  6. Davis, C. C. (1955). The Marine and Fresh-Water Plankton. Michigan State University Press, East Lansing
  7. Fauziah, S. M., & Laily, A. N. (2015). Identifikasi Mikroalga dari Divisi Chlorophyta di Waduk Sumber Air Jaya Dusun Krebet Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi, 8(1), 20–22
  8. Gurning, L. F. P., Nuraini, R. A. T., & Suryono, S. (2020). Kelimpahan fitoplankton penyebab harmful algal bloom di perairan Desa Bedono, Demak. Journal of Marine Research,9(3),251260. https://doi.org/10.14710/jmr.v9i3.27483
  9. Hillebrand, H., et al. (2018). Biodiversity change is caused by changes in species loss, gain and dominance". Ecology Letters, 21(6), 807-815
  10. Jati, H. K., Sastrawidana, I. D. K., & Pratiwi, A. (2022). Hubungan Kualitas Air dengan Kelimpahan Fitoplankton di Sungai Cimanuk Hilir, Jawa Barat. Jurnal Ilmu Perairan dan Kelautan, 7(1), 1-10
  11. Krebs, C. J. (1978). Ecology: The Experimental Analysis of Distribution and Abundance. Edisi ke-2. New York: Harper and Row Publishers
  12. Lurling, M., et al., (2020). Climate Change and Water Quality: The Response of Algae and Cyanobacteria. Water, 12(4)
  13. Masithah, E. D. (2023). Plankton. Penerbit Yayasan Penerbit Muhammad Zaini. (Buku/Bab yang menjelaskan peran fitoplankton sebagai produsen dan zooplankton sebagai sumber pangan ikan)
  14. Oksanen, J., dkk. (2022). Community Ecology Package: Vegan. R Package Documentation
  15. Pratiwi, N., Purbani, M., & Soemarno. (2015). Analisis Kelimpahan dan Keanekaragaman Plankton Serta Hubungannya dengan Kualitas Perairan di Waduk Sempor, Jawa Tengah. Jurnal Biotropika, 3(2), 79-87
  16. Raven, J. A., & Beardall, J. (2021). Influence of Photosynthesis on Marine and Freshwater Environments. Journal of Experimental Botany
  17. Reynolds, C. S. (2016). The Ecology of Phytoplankton. Cambridge University Press
  18. Siregar, S. H., Mubarak, Effendi, I., & Kurniawan, R. (2025). Plankton: Peranan dalam Keseimbangan Perairan. Purbalingga: Eureka Media Aksara. (Diterbitkan Januari 2025)

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-02-05 14:23:34

No citation recorded.