KONSEP WATERFRONT PADA PERMUKIMAN ETNIS KALI SEMARANG

*Ajeng Sarinastiti -  Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Hayam Wuruk 5, Kampus Undip Pleburan, Semarang, Indonesia
R. Siti Rukayah -  Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Hayam Wuruk 5, Kampus Undip Pleburan, Semarang, Indonesia
Titin Woro Murtini -  Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Hayam Wuruk 5, Kampus Undip Pleburan, Semarang, Indonesia
Dikirim: 16 Jun 2014; Diterbitkan: 10 Des 2015.
Akses Terbuka
Citation Format:
Article Info
Bagian: Artikel
Bahasa: EN
Teks Lengkap:
Statistik: 1789 1337
Sari

Kali Semarang sebagai sungai bersejarah di Semarang, dahulu memiliki fungsi transportasi yang membelah perekonomian dan pertahanan kota. Bermacam etnis pedagang tinggal di sekitarnya hingga daerah tersebut menjadi permukiman etnis. Contohnya Kampung Melayu, etnis Tionghoa pada Kampung Pecinan, etnis Arab pada Kampung Kauman, serta Kampung Sekayu. Dan juga Kawasan Kota Lama sebagai daerah bersejarah dalam masa pemerintahan Kota Semarang. Kali Semarang memberi pengaruh fungsi waterfront pada permukiman tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep waterfront pada permukiman etnis Kali Semarang, yaitu Kampung Melayu, Kawasan Kota Lama, Kampung Pecinan, Kampung Kauman, dan Kampung Melayu. Diperlukan eksplorasi dan deskripsi keadaan yang mendalam untuk mengidentifikasikan informasi baru pada lokasi penelitian dengan konsep atau teori yang menjelaskan fenomena yang akan terjadi. Metode kualitatif rasionalistik digunakan dengan landasan teori mengenai waterfront dan permukiman etnis disertai dengan pengumpulan data melalui studi literatur dari berbagai sumber, observasi lapangan langsung, dan pertanyaan mendalam kepada key person. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya Kampung Melayu dan Kawasan Kota Lama yang pada awal mulanya menggunakan konsep waterfront karena lokasinya merupakan kawasan pelabuhan, pergudangan, dan perdagangan. Kampung Pecinan sebagai kawasan perdagangan, serta Kampung Kauman dan Kampung Sekayu sebagai permukiman tidak menggunakan konsep waterfront.

[Title: Waterfront Concept on Ethnic Settlement in Kali Semarang] Kali Semarang, as a historical river in Semarang, has function as transportation to support the economy and city. Many ethnic traders settled around, so that area becomes ethnic settlement, such as Kampung Melayu, Chinese ethnic in Kampung Pecinan, Arabian ethnic in Kampung Kauman, and Kampung Sekayu, and Kota Lama areas as historical area in Semarang’s government era. The Kali Semarang giving influence of the waterfront function of those area. This paper purposes to understand waterfront concept of ethnicity settlement around Kali Semarang, such as: Kampung Melayu, Kawasan Kota Lama, Kampung Pecinan, Kampung Kauman, and Kampung Melayu. Exploration and deeper situations description are needed to identify new informations in respected location completed with concept or theories that explain the phenomenon. The qualitative rationalistic method is used for explaining theoritical basis regarding waterfront and ethnical settelement by data collecting through literature study, field observation, and key person question. The result of this research shows that Kampung Melayu and Kota Lama are pioneer to use the waterfront concept because of it location constitute as sea port area, warehouse, and commerce. Kampung Pecinan as a commerce area, Kampung Kauman and Kampung Sekayu, as settlement, did not use the waterfront concept.

Kata Kunci
waterfront; permukiman etnis; Kali Semarang; waterfront; ethnic settlements; Kali Semarang

Article Metrics:

  1. Breen, Ann, and Dick Rigby. (1996). The New Waterfront: A Worldwide Urban Success Story. Great Britain: Thames & Hudson.
  2. Breen, Ann, and Dick Rigby. (1994). Waterfront, Cities Reclaim Their Edge. New York: Mc. Graw Hill.
  3. Budiman, Amen. (1976). Boom Lama dan Boom Baru. Suara Merdeka, Jumat, 2 April 1976.
  4. Budiman, Amen. (1978). Semarang Riwayatmu Dulu. Semarang: Percetakan Satya Wacana.
  5. Budiman, Amen. (1979). Semarang Juwita. Semarang: Tanjung Sari.
  6. Cameron, W.H Morton. (1917). Present Day Impressions od The Far East and Prominent and Progressive Chinese at Home and Abroad. London: The Globe Encyclopedia Company.
  7. Liem, Thian Joe. (1933). Riwajat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo sampe terhapoesnja Kongkoan). Semarang: Boekhandel Ho Kim Yoe.
  8. M. Wrenn, D. (1983). Urban Waterfront Development. Washington DC: ULI - The Urban Land Institute.
  9. Muhammad, Djawahir. (1996). Semarang Sepanjang Jalan Kenangan. Semarang: Pemda Kota Semarang.
  10. Nasution, M.A. (1992). Metode Penelitian Naturalistik – Kualitatif. Bandung: Tarsito.
  11. Panitia Reuni 100 Tahun HBS V Semarang. (1977). Semarang Tempo Doeloe, 100 Tahun HBS V Semarang 1877-1977. Semarang.
  12. Pratiwo. (2010). Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Y ogyakarta: Penerbit Ombak.
  13. Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  14. Sugiyono. (2004). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.
  15. Suryabrata, Sumadi. (2012). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  16. www.googleearth.com. Diakses tanggal 16 April 2013.