Keanekaragaman Jenis, Tutupan Lamun, dan Kualitas Air di Perairan Teluk Ambon

*Marsya Jaqualine Rugebregt orcid scopus  -  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia - LIPI, Indonesia
Caleb Matuanakotta  -  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia - LIPI, Indonesia
Mr. Syafrizal  -  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia - LIPI, Indonesia
Received: 2 Oct 2020; Published: 30 Nov 2020.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Ekosistem lamun memiliki fungsi ekologi sebagai habitat, tempat pemijahan, pengasuhan, pembesaran, dan mencari makanan dari berbagai biota. Berkembangnya kegiatan manusia di wilayah pesisir khususnya di perairan Teluk Ambon seperti pariwisata, pemukiman, dan aktivitas lainnya berpengaruh terhadap ekosistem lamun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan persentase tutupan, serta kualitas air di ekosistem lamun Teluk Ambon. Penelitian dilakukan pada bulan September 2019 di Teluk Ambon pada tujuh stasiun yaitu Tanjung Tiram, Halong, Galala, Lateri, Passo, Waiheru, dan Tawiri. Data diperoleh menggunakan teknik transek dengan mengadopsi protocol dari UNESCO pada ekositem lamun yang kontinu atau koleksi bebas pada vegetasi lamun. Parameter kualitas air yang diukur meliputi parameter fisika (suhu dan salinitas) dan parameter kimia (pH, DO, nitrat, silikat dan fosfat. Suhu, salinitas, pH, dan Do diukur secara in situ dengan menggunakan Water Quality Checker WTW 3430 Set F. Sampel air dianalisa pada laboratorium Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon menggunakan metode spektrofotometri. Hasil yang diperoleh terdapat enam jenis lamun yang ditemukan di Teluk Ambon yaitu Enhalus acroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila minor, Cymonocea rotundata, dan Halodule pinifolia. Persentase tutupan lamun stasiun Galala : E. acroides (34,41%), T. hemprichii (28,37%), H. ovalis (1,40 %) dan H. pinifolia (35.81%); Halong : E. acroides (29,42%), T. hemprichii (7,95%), H. ovalis (1,77 %), C. rotundata (10.58%) dan H. pinifolia (35.81%); Tj. Tiram : E. acroides (41.51%), T. hemprichii (52,72%), H. ovalis (0,61 %) dan H. pinifolia (5.16%); Lateri : E. acroides (76.25%) dan T. hemprichii (52,72%); Passo : H. minor (100%); Waiheru : E. acroides (100%); Tawiri  H. ovalis (46,45%) dan H. pinifolia (53.55%). Suhu perairan lebih rendah dari suhu optimum. Salinitas perairan dan DO masih dalam bakumutu yang diperolehkan. Berdasarkan nilai pH maka perairan Teluk Ambon tergolong perairan tidak produktif. Kadar fosfat dan nitrat lebih tinggi dari baku mutu berdasarkan KMNLH 2004.

Keywords: Lamun, Keanekaragaman, Tutupan lamun, Kualitas air, Teluk Ambon
Funding: Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI

Article Metrics:

  1. Amelia, Y., Muskananfola, M.R dan Purnomo, P.W. 2014. Sebaran Struktur Sedimen, Bahan Organik, Nitrat dan Fosfat di Perairan Dasar Muara Morodemak. Diponegoro Journal of Maquares, Vol. 3 No. 4. Hal 208-215
  2. Azkab, M. H. 1999. Pedoman Inventarisasi Lamun. Balitbang Biologi Laut, Puslitbang Oseanologi. Vol. XXIV No. 1. Hal 1-16
  3. Christianen MJA, van der Heide T, Bouma TJ, Roelofs JGM, van Katwijk MM, Lamers LPM. 2011. Limited Toxicity of NHx Pulses on an Early and Late Successional Tropical Seagrass Species: Interactions with pH and Light Level. Aquatic Toxicology. Vo.l 104. Pages 73-79
  4. Den Hartog, C. 1970. The Seagrass of the World. Amsterdam: North Holland
  5. Den Hartog, C. and Kuo, J. 2006. Taxonomy and biogeography of seagrasses. In: Larkum, A.W.D., Orth, R.J. and Duarte, C.M., Eds., Seagrasses. Biology, Ecology and Conservation, Springer, The Netherlands. Pages 1-24
  6. English S., C. Wilkinson, dan V, Baker. 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resource (2nd Edition). Australian Institute of Marine Science. Australia. 41p
  7. Felisberto P, Jesus SM, Zabel F, Santos R, Silva J, Gobert S, Beer S, Björk M, Mazzuca S, Procaccini G, Runcie JW, Champenois W, Borges AV. 2015. Acoustic Monitoring of O2 Production of a Seagrass Meadow. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology. Vol. 464. Pages 75–87
  8. Irawan, A. 2011. Komunitas lamun di Teluk Ambon. Perairan Maluku dan Sekitarnya. Hal 61-69
  9. Irawan A., NR Nganro. 2016. Distribution of Seagrasses in Inner Ambon Bay. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 8 No. 1. Hal 99 -114
  10. Kiswara, W. 2004. Kondisi Padang Lamun (Seagrass) di Teluk Banten 1998 – 2001. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta
  11. KMNLH. 2004. Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup 2004. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkunganh Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. Sekretariat Negara. Jakarta
  12. Kordi, K. M.G.H. 2011. Ekosistem Lamun (Seagrass). Jakarta: Rineka Cipta
  13. Menez, E.G., R.C. Phillips and HP. Calumpong. 1983. Seagrass from the Philippines. Smithsonian Cont. Mar. Sci., 21. Smithsonian. Press, Washington. 40 pp
  14. Papathanasiou V, Orfanidis S, Brown MT. 2015. Intra-Specific Responses of Cymodocea nodosa to Macro-Nutrient, Irradiance and Copper Exposure. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology. Vol. 469. Pages 113–122
  15. Patty, S.I., Arfah, H. dan Abdul, M.S. 2015. Zat Hara (Fosfat, Nitrat), Oksigen Terlarut dan pH Kaitannya Dengan Kesuburan Di Perairan Jikumerasa, Pulau Buru. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis, Vol. 1 No. 1. Hal 43-50
  16. Short FT, Coles RG. (eds). 2003. Global Seagrass Research Methods. Amsterdam. Elsevier Science BV
  17. Tuapattinaya, P. M. J. 2014. Hubungan Faktor Fisik Kimia Lingkungan dengan Keanekaragaman lamun (seagrass) di Perairan Pantai Desa Suli. Jurnal Biologi Science & Education. Biologi SKL, Vol. 3 No. 1. Hal 54-67
  18. Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian International. Surabaya. 412 hal
  19. Waycott M, Collier C, McMahon K, Ralph P, McKenzie L, Udy J, Grech A. 2007. Climate change and the Great Barrier Reef: a vulnerability assesment. Queensland. Department of Primary Industries and Fisheries

Last update: 2021-03-07 23:48:05

No citation recorded.

Last update: 2021-03-07 23:48:05

No citation recorded.