1Department of Civil Engineering, Vocational School, Universitas Gadjah Mada, Jl. Yacaranda Sekip Unit IV, Bulaksumur, Blimbing Sari, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55281, Indonesia
2Master of Technology for Sustainable Development, Graduate School, Universitas Gadjah Mada, Jl. Teknika Utara, Pogung Kidul, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55284, Indonesia
3Doctoral Program in Environmental Science, Graduate School, Universitas Gadjah Mada, Jl. Teknika Utara, Pogung Kidul, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55284, Indonesia
4 Department of Civil Engineering, Vocational School, Universitas Gadjah Mada, Jl. Yacaranda Sekip Unit IV, Bulaksumur, Blimbing Sari, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55281
5 Master of Technology for Sustainable Development, Graduate School, Universitas Gadjah Mada, Jl. Teknika Utara, Pogung Kidul, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55284
BibTex Citation Data :
@article{JIL68224, author = {Agus Maryono and Pratama Tirza Surya Sembada and Agus Prasetya and Muhammad Sulaiman}, title = {Rekayasa Injeksi Air Hujan untuk Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Air Tanah di D.I. Yogyakarta dengan 3 Model Variasi Injeksi}, journal = {Jurnal Ilmu Lingkungan}, volume = {23}, number = {6}, year = {2026}, keywords = {D.I. Yogyakarta; Injeksi Air Hujan; Muka Air Tanah (MAT)}, abstract = { Perkembangan pembangunan di wilayah D.I. Yogyakarta setiap tahun selalu meningkat. Pemerintah daerah mencatat jika jumlah bangunan di Tahun 2019 sebesar 1.191.685 bangunan sedangkan di Tahun 2020 sebesar 961.450 bangunan. Banyaknya bangunan ini tidak terlepas dari penggunaan air yang juga meningkat. Statistik penggunaan air di wilayah D.I. Yogyakarta di dominasi oleh air tanah dengan prosentase 45,92%. Permasalahan yang saat ini sering dihadapi masyarakat adalah turunnya tinggi muka air tanah dan buruknya kualitas air tanah yang menjadi air baku utama untuk konsumsi setiap hari. Menurut data DPUPESDM Yogyakarta terkait data kedudukan muka air tanah (MAT) Tahun 2022, rerata ketinggian MAT di 3 Kabupaten dan Kota Yogyakarta mengalami penurunan dibeberapa bulan (pada saat musim hujan juga turun). Hipotesa awal yang dibangun pada penelitian adalah penurunan MAT disebabkan dari penggunaan air tanah yang setiap tahun meningkat, sedangkan untuk usaha konservasi seperti meresapkan air hujan kedalam tanah tidak sebanding. Penelitian ini menyajikan data rerata ketinggian MAT dibeberapa wilayah di Yogyakarta dengan mengambil sampel wilayah di Kabupaten Sleman untuk menerapkan metode Injeksi Air Hujan sebagai langkah konservasi. Metode ini menggunakan 3 variasi model yang menyesuaikan bentuk bangunan (model atap rendah, model atap tinggi, dan model menggunakan tampungan). Parameter yang diteliti adalah besaran potensi air hujan dan perbandingan efektivitas laju injeksi air hujan ke dalam sumur masyarakat. Penggunaan model injeksi air hujan pada atap rendah dinilai lebih efektif. Kedepan, masyarakat di berbagai daerah khususnya D.I Yogyakarta dapat menerapkan metode ini untuk menjaga kuantitas dan kualitas air tanah yang dimiliki. }, doi = {10.14710/jil.23.6.%p}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ilmulingkungan/article/view/68224} }
Refworks Citation Data :
Perkembangan pembangunan di wilayah D.I. Yogyakarta setiap tahun selalu meningkat. Pemerintah daerah mencatat jika jumlah bangunan di Tahun 2019 sebesar 1.191.685 bangunan sedangkan di Tahun 2020 sebesar 961.450 bangunan. Banyaknya bangunan ini tidak terlepas dari penggunaan air yang juga meningkat. Statistik penggunaan air di wilayah D.I. Yogyakarta di dominasi oleh air tanah dengan prosentase 45,92%. Permasalahan yang saat ini sering dihadapi masyarakat adalah turunnya tinggi muka air tanah dan buruknya kualitas air tanah yang menjadi air baku utama untuk konsumsi setiap hari. Menurut data DPUPESDM Yogyakarta terkait data kedudukan muka air tanah (MAT) Tahun 2022, rerata ketinggian MAT di 3 Kabupaten dan Kota Yogyakarta mengalami penurunan dibeberapa bulan (pada saat musim hujan juga turun). Hipotesa awal yang dibangun pada penelitian adalah penurunan MAT disebabkan dari penggunaan air tanah yang setiap tahun meningkat, sedangkan untuk usaha konservasi seperti meresapkan air hujan kedalam tanah tidak sebanding. Penelitian ini menyajikan data rerata ketinggian MAT dibeberapa wilayah di Yogyakarta dengan mengambil sampel wilayah di Kabupaten Sleman untuk menerapkan metode Injeksi Air Hujan sebagai langkah konservasi. Metode ini menggunakan 3 variasi model yang menyesuaikan bentuk bangunan (model atap rendah, model atap tinggi, dan model menggunakan tampungan). Parameter yang diteliti adalah besaran potensi air hujan dan perbandingan efektivitas laju injeksi air hujan ke dalam sumur masyarakat. Penggunaan model injeksi air hujan pada atap rendah dinilai lebih efektif. Kedepan, masyarakat di berbagai daerah khususnya D.I Yogyakarta dapat menerapkan metode ini untuk menjaga kuantitas dan kualitas air tanah yang dimiliki.
Note: This article has supplementary file(s).
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-03-13 16:01:38
View My Stats
JURNAL ILMU LINGKUNGAN ISSN:1829-8907 by Graduate Program of Environmental Studies, School of Postgraduate Studies is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Based on a work at www.undip.ac.id.