DESAIN KRITERIA PEMILIHAN PENYEDIA JASA KONSTRUKSI BANGUNAN MENGGUNAKAN METODE EVALUASI DENGAN MERIT POINT SYSTEM

*Nia Budi Puspitasari  -  Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Dyah Ika Rinawati  -  Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Aditya Wiratama Putra  -  Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 31 May 2018.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Abstrak

Dalam melakukan proses pengadaan, Badan Usaha Milik Negara  mengacu pada peraturan Menteri BUMN No. 05 tahun 2008. Dimana tertulis dalam peraturan menteri bahwa tata cara pengadaan barang dan jasa diatur lebih lanjut oleh direksi BUMN. PT Asuransi ASEI Indonesia sebagai BUMN mempunyai keputusan direksi No : 01/045-2/SKD.KN.HKM sebagai landasan segala proses pengadaan. Salah satu bentuk evaluasi lelang adalah merit point system. Sistem yang digunakan untuk memilih penyedia jasa konstruksi pembangunan gedung di PT. Asuransi ASEI Indonesia adalah sistem design & build procurement. Namun PT. Asuransi ASEI Indonesia masih sulit untuk melakukan penilaian terhadap penyedia yang mengikuti proses lelang terbuka. Hal ini dibuktikan dengan merit point system yang diatur dalam keputusan direksi PT. Asuransi ASEI Indonesia belum memiliki sub-kriteria dan bobot untuk mengukur kriteria. Akibatnya merit point system dapat melahirkan penyedia dengan kinerja yang buruk. Seperti yang dialami oleh PT. Asuransi ASEI Indonesia bahwa pembangunan gedung kantor cabang di Surabaya tahun 2015 sedang terhenti akibat kesalahan penyedia. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka penelitian menggunakan tools Fuzzy Analytical Hierarchy Process untuk menentukan kriteria, sub-kriteria, dan bobot sebagai bahan masukan untuk menyempurnakan merit point system. Hasil Pengolahan data menunjukan bahwa kriteria structural system merupakan kriteria yang paling penting untuk memilih penyedia dengan bobot sebesar 19,7%.

 

Abstract

In the process of procurement, the state owned enteprises (BUMN) refer to minister regulation no 5 of 2008. Which is stated on the minister regulation that the procedure of procurement is further regulated by the regulation of the state owned enterprises itself. PT Asuransi ASEI Indonesia as one of the state owned enteprises has a director regulation no 01/045-2/SKD.KN.HKM as the foundation all of procurement process on PT. Asuransi ASEI Indonesia. One of the tender evaluations which is stated on  the director regulation is by merit point system. The system that used for selecting provider on the tender evaluation is by design & build procurement. But PT. Asuransi ASEI Indonesia have some problem for evaluating provider who join the tender. This is proved by merit point system that regulated on the regulation of PT. Asuransi ASEI Indonesia doesn’t have criteria and weight for measure the criteria. So, merit point system can provide some provider with a bad performance for doing the project.As experienced by PT. Asuransi ASEI Indonesia that the construction process of the Surabaya branch office has been stopped (2015) because of provider’s failure. For solving the problem, this research using tools Fuzzy Analytical Hierarchy Process for determining criteria, sub-criteria, and the weight as advice for complementing merit point system. The result show that structural system is the most important criteria for choosing the provide with the criteria weight of 19,7%.

 

Keywords: Procurement; Merit Point System; Fuzzy Analytical Hierarchy Process

Keywords: Pengadaan; Merit Point System; Fuzzy Analytical Hierarchy Process

Article Metrics:

Last update: 2021-03-03 09:09:16

No citation recorded.

Last update: 2021-03-03 09:09:17

No citation recorded.