1Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Indonesia
2Bagian Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
3Politeknik Kesehatan Semarang, Kementerian Kesehatan, Semarang, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{JKLI81961, author = {Irma Makiah and Zanuar Abidin and Sulistiyani Sulistiyani and Runjati Runjati and Rini Kusumasari and Sri Rindjaswati and Endah Lestari and Vanessa Aditya and Farida Kusumowardani and Siti Aisah and Meisy Khadijah and Riyantika Ramandhani and Muhammad Rahman and Jessyca Pratiwi and Amalia Adiningsih}, title = {Efektivitas Active Case Finding (ACF) Menggunakan Portable X-Ray untuk Deteksi Tuberkulosis Paru di Wilayah Pesisir Jawa Tengah}, journal = {Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia}, volume = {25}, number = {1}, year = {2026}, keywords = {Tuberkulosis; Portable x-ray; Skrining}, abstract = { Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Di Provinsi Jawa Tengah, tingkat deteksi kasus TB dan keberhasilan pengobatan masih di bawah target nasional yang menunjukkan proporsi kasus yang tidak terdeteksi yang tinggi. Faktor-faktor yang berkontribusi, meliputi keterbatasan dalam ACF akses terbatas terhadap diagnostik cepat, penyelidikan kontak yang tidak memadai, dan kesadaran masyarakat yang rendah. Kabupaten pesisir menghadapi risiko TB yang lebih tinggi akibat kepadatan penduduk yang tinggi, pekerjaan yang berpindah-pindah dan informal, lingkungan perkumpulan, serta kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk sehingga memudahkan penularan. Penemuan kasus aktif menggunakan portable X-Ray menawarkan pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan deteksi dini TB. Studi ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan ACF berbasis portable x-ray dalam mendeteksi TBC di wilayah Pesisir Jawa Tengah. Metode: Desain penelitian campuran berurutan eksplanatori menggunakan data sekunder SITB (Januari–Oktober 2025) dari 116 Puskesmas dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan 34 pemangku kepentingan. Ukuran kuantitatif meliputi frekuensi ACF, jumlah peserta yang diperiksa, jumlah yang diperiksa dengan portable X-Ray, dan kasus TB yang dikonfirmasi secara klinis. Analisis kuantiatif dengan statistik deskriptif dan regresi linier, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil: Di antara 116 Puskesmas 70 (60,9%) melakukan ACF tanpa portable X-Ray dan 45 (39,1%) dengan portable X-Ray. Rata-rata kasus TB yang dikonfirmasi secara klinis berbeda berdasarkan metode ACF: 4,52 (tanpa portable X-Ray) versus 1,68 (dengan portable X-Ray); perbedaan rata-rata antar kelompok adalah 2,84 (t = 5,28; p = 0,0001), dengan ukuran efek besar (partial η² = 0,44). Temuan kualitatif menunjukkan bahwa portable X-Ray meningkatkan penerimaan masyarakat, partisipasi dalam skrining, dan kemampuan mendeteksi kelainan radiologis pada individu tanpa gejala. Simpulan : Skrining ACF berbasis portable X-Ray lebih efektif daripada skrining berbasis gejala dalam meningkatkan deteksi TB paru dan berpotensi mempercepat pencapaian target eliminasi TB. ABSTRACT Title: Effectiveness of Active Case Finding (ACF) Using Portable X-Ray for Detecting Pulmonary Tuberculosis Cases in the Coastal Regions of Central Java Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health challenge in Indonesia. In Central Java Province, TB case detection and treatment success rates remain below national targets, indicating a high proportion of undetected cases. Contributing factors include limited active case finding (ACF), restricted access to rapid diagnostics, inadequate contact investigation, and low community awareness. Coastal districts face higher TB risk due to high population density, mobile and informal occupations, congregate settings, and poor housing and environmental conditions that facilitate transmission. Portable digital chest x-ray based ACF offers a promising approach to improve early TB detection. This study assesses the effectiveness of portable X-ray–based active case finding (ACF) in detecting tuberculosis in six high-burden coastal districts of Central Java. Method: A mixed-methods sequential explanatory design used secondary SITB data (Jan–Oct 2025) from 116 primary health centers and FGDs with 34 stakeholders. Quantitative measures included ACF frequency, number of screened participants, number screened with portable x-ray, and clinically confirmed TB cases. Descriptive statistics and linear regression were applied; qualitative data underwent thematic analysis. Result: Among 116 PHCs, 70 (60.9%) performed ACF without portable x-ray and 45 (39.1%) with portable x-ray. Mean clinically confirmed cases differed by ACF method: 4.52 (non portable x-ray) versus 1.68 (portable x-ray); the between-group mean difference was 2.84 (t = 5.28; p = 0.0001), with a large effect size (partial η² = 0.44). Qualitative findings revealed that portable x-rays increased community acceptance, screening participation, and the ability to detect radiological abnormalities in asymptomatic individuals. Conclusion: Portable x-ray based ACF is more effective than symptom based screening in improving pulmonary TB detection, and has the potential to accelerate the achievement of TB elimination targets. }, issn = {2502-7085}, pages = {100--107} doi = {10.14710/jkli.81961}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/view/81961} }
Refworks Citation Data :
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Di Provinsi Jawa Tengah, tingkat deteksi kasus TB dan keberhasilan pengobatan masih di bawah target nasional yang menunjukkan proporsi kasus yang tidak terdeteksi yang tinggi. Faktor-faktor yang berkontribusi, meliputi keterbatasan dalam ACF akses terbatas terhadap diagnostik cepat, penyelidikan kontak yang tidak memadai, dan kesadaran masyarakat yang rendah. Kabupaten pesisir menghadapi risiko TB yang lebih tinggi akibat kepadatan penduduk yang tinggi, pekerjaan yang berpindah-pindah dan informal, lingkungan perkumpulan, serta kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk sehingga memudahkan penularan. Penemuan kasus aktif menggunakan portable X-Ray menawarkan pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan deteksi dini TB. Studi ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan ACF berbasis portable x-ray dalam mendeteksi TBC di wilayah Pesisir Jawa Tengah.
Metode: Desain penelitian campuran berurutan eksplanatori menggunakan data sekunder SITB (Januari–Oktober 2025) dari 116 Puskesmas dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan 34 pemangku kepentingan. Ukuran kuantitatif meliputi frekuensi ACF, jumlah peserta yang diperiksa, jumlah yang diperiksa dengan portable X-Ray, dan kasus TB yang dikonfirmasi secara klinis. Analisis kuantiatif dengan statistik deskriptif dan regresi linier, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik.
Hasil: Di antara 116 Puskesmas 70 (60,9%) melakukan ACF tanpa portable X-Ray dan 45 (39,1%) dengan portable X-Ray. Rata-rata kasus TB yang dikonfirmasi secara klinis berbeda berdasarkan metode ACF: 4,52 (tanpa portable X-Ray) versus 1,68 (dengan portable X-Ray); perbedaan rata-rata antar kelompok adalah 2,84 (t = 5,28; p = 0,0001), dengan ukuran efek besar (partial η² = 0,44). Temuan kualitatif menunjukkan bahwa portable X-Ray meningkatkan penerimaan masyarakat, partisipasi dalam skrining, dan kemampuan mendeteksi kelainan radiologis pada individu tanpa gejala.
Simpulan: Skrining ACF berbasis portable X-Ray lebih efektif daripada skrining berbasis gejala dalam meningkatkan deteksi TB paru dan berpotensi mempercepat pencapaian target eliminasi TB.
ABSTRACT
Title: Effectiveness of Active Case Finding (ACF) Using Portable X-Ray for Detecting Pulmonary Tuberculosis Cases in the Coastal Regions of Central Java
Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health challenge in Indonesia. In Central Java Province, TB case detection and treatment success rates remain below national targets, indicating a high proportion of undetected cases. Contributing factors include limited active case finding (ACF), restricted access to rapid diagnostics, inadequate contact investigation, and low community awareness. Coastal districts face higher TB risk due to high population density, mobile and informal occupations, congregate settings, and poor housing and environmental conditions that facilitate transmission. Portable digital chest x-ray based ACF offers a promising approach to improve early TB detection. This study assesses the effectiveness of portable X-ray–based active case finding (ACF) in detecting tuberculosis in six high-burden coastal districts of Central Java.
Method: A mixed-methods sequential explanatory design used secondary SITB data (Jan–Oct 2025) from 116 primary health centers and FGDs with 34 stakeholders. Quantitative measures included ACF frequency, number of screened participants, number screened with portable x-ray, and clinically confirmed TB cases. Descriptive statistics and linear regression were applied; qualitative data underwent thematic analysis.
Result: Among 116 PHCs, 70 (60.9%) performed ACF without portable x-ray and 45 (39.1%) with portable x-ray. Mean clinically confirmed cases differed by ACF method: 4.52 (non portable x-ray) versus 1.68 (portable x-ray); the between-group mean difference was 2.84 (t = 5.28; p = 0.0001), with a large effect size (partial η² = 0.44). Qualitative findings revealed that portable x-rays increased community acceptance, screening participation, and the ability to detect radiological abnormalities in asymptomatic individuals.
Conclusion: Portable x-ray based ACF is more effective than symptom based screening in improving pulmonary TB detection, and has the potential to accelerate the achievement of TB elimination targets.
Note: This article has supplementary file(s).
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-03-12 17:51:43
The Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085) and Master Program of Environmental Health, Diponegoro University as the publisher of the journal. Copyright encompasses the rights to reproduce and deliver the article in all form and media, including reprints, photographs, microfilms, and any other similar reproductions, as well as translations.
JKLI journal and Master Program of Environmental Health, Diponegoro University, the Editors and the Advisory Editorial Board make every effort to ensure that no wrong or misleading data, opinions or statements be published in the journal. In any way, the contents of the articles and advertisements published in the JKLI journal are the sole and exclusive responsibility of their respective authors and advertisers.The Copyright Transfer Form can be downloaded here: [Copyright Transfer Form JKLI journal] The copyright form should be signed originally and send to the Editorial Office in the form of original mail or scanned document to jkli@live.undip.ac.id.
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (e-ISSN: 2502-7085, p-ISSN: 1412-4939) is published by Master of Environmental Health, Faculty of Public Health, Universitas Diponegoro under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats