Editorial

*Mahendra Pudji Utama scopus  -  Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University
Received: 1 Sep 2018; Published: 1 Sep 2018.
Open Access Copyright (c) 2018 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Article Info
Section: Editorial
Language: EN
Full Text:
Statistics: 307 199
Abstract

Izinkan tim redaksi membuka editorial dengan membagi kebahagiaan. Edisi ini tampil dalam suasana dan semangat baru yang menggembirakan, karena merupakan edisi pertama setelah Jurnal Sejarah Citra Lekha (JSCL) dinyatakan sebagai jurnal nasional terakreditasi berdasar SK Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi RI No. SK No. 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018.

Ada enam artikel dalam edisi ini. Artikel pertama dari Hidayat dan Erond L. Damanik yang membahas tentang konstruksi identitas etnik dalam masyarakat Mandailing dan Angkota di Kota Medan dalam periode 1906-1939. Etnis Mandailing yang Islam mengidentifikasi diri sebagai Melayu dan menolak disebut Batak. Sebaliknya, etnis Angkota menegaskan Batak sebagai identitas mereka. Redefinisi identitas itu terjadi dalam situasi ketiadaan budaya dominan dan berelasi dengan persaingan untuk mendapatkan akses pada sumber daya material, ekonomi, dan politik. Konstruksi identitas itu terus direproduksi sampai saat ini, sehingga akulturasi dan asimilasi tidak mudah terwujud serta berpotensi menimbulkan proses sosial yang disosiatif. Di pihak lain, I Made Pageh menyajikan temuan yang penting dan menarik dalam sistem religi lokal Bali. Melalui mimikri dan hibridisasi, religi lokal itu dapat berfungsi sebagai wahana untuk mengintegrasikan umat Hindu dan Islam di Bali. Dua artikel berikutnya berusaha menggali nilai-nilai budaya dalam karya sastra yang dapat dijadikan basis untuk membangun kehidupan yang lebih baik pada masa kini. Artikel pertama dari Siregar, Djono, dan Leo Agung yang menelaah Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk karya Willem Iskandar untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan dalam kebudayaan masyarakat Tapanuli Selatan; sedangkan artikel kedua dari Awaludin Nugraha berusaha menggali pemikiran Bupati Sumedang P.A.A. Soeria Atmadja (menjabat pada 1883-1919) mengenai pembangunan berkelanjutan berbasis moral yang tertuang dalam karyanya yang berjudul Di Tioeng Memeh Hudjan. Gagasan P.A.A. Soeria Atmadja melampaui zamannya karena telah dirumuskan jauh sebelum negara-negara Barat mengembangkan konsep pembangunan berkelanjutan pada 1980-an. Artikel berikutnya dari Rabith Jihan Amaruli yang membahas mengenai Sumpah Pemuda Arab pada 1934 yang menjadi cikal-bakal organisasi Arab-Hadrami nasionalis pertama di Indonesia, yaitu Persatuan Arab Indonesia. Topik ini menjadi penting dalam kaitannya dengan fenomena Arabisme yang berkembang akhir-akhir dan terkesan berseberangan dengan nasionalisme Indonesia. Edisi ini ditutup dengan artikel Dhanang Respati Puguh dan Mahendra Pudji Utamatentang peranan pemerintah dalam mengembangkan wayang orang panggung Sriwedari, Ngesti Pandowo, dan Bharata. Ketiga wayang orang panggung itu dapat bertahan sampai kini antara lain berkat adanya dukungan dari pemerintah. Namun demikian pemerintah diharapkan tidak hanya memberi dukungan yang bersifat artifisial, melainkan mengambil peranan yang lebih fundamental sebagai patron-seni. Dalam garis itu, pemerintah perlu menyusun kebijakan budaya sebagai dasar bagi pengembangan wayang orang panggung dan berbagai bentuk kesenian tradisi atau budaya lokal pada umumnya dalam kerangka kebudayaan nasional.

Tulisan-tulisan dalam JSCL edisi ini akan menemukan arti penting ketika kita meletakkannya dalam konteks perkembangan Indonesia kontemporer yang begitu dinamis dan cenderung membuka peluang bagi terjadinya konflik. Kebebasan berpendapat diekspresikan secara leluasa melalui penggunaan (atau penyalahgunaan) simbol-simbol budaya yang mudah memantik sentimen SARA, suatu yang sensitif dalam masyarakat majemuk. Hal ini tampak misalnya dalam pelaksanaan Pemilukada serentak pada 2018 dan, tentu sangat tidak diharapkan, barang kali masih akan terus berlanjut mengingat Indonesia akan segera memasuki tahun politik 2019. Seruan untuk menciptakan suasana yang sejuk dan damai kehilangan gaungnya dan seolah-olah tidak berarti, tenggelam oleh gegap gempita euforia demokrasi. Di tengah-tengah situasi itu, para kontributor dalam JSCL edisi mengajak kita untuk mengembangkan sensibilitas dengan belajar dari sejarah. Mereka dengan caranya masing-masing mendorong kita untuk mencari inspirasi dari kearifan masyarakat Nusantara yang dapat dikembangkan sebagai modal penting untuk menambal retak-retak pada perahu besar Indonesia, sehingga dapat melanjutkan pelayaran menuju kehidupan bersama sebagai negara-bangsa yang harmonis, damai, adil-makmur, dan sentosa.

Tidak ada yang lebih pantas dikatakan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para kontributor yang telah bersedia membagi pengetahuan yang mencerahkan. Tim redaksi selalu bekerja keras agar JSCL yang kita cintai ini menjadi jurnal yang semakin berkualitas.

Salam hangat dan selamat membaca

Article Metrics: