BibTex Citation Data :
@article{JSCL80228, author = {Masatoshi Ito and Yuuichi Machida}, title = {Formation of Southern Fever (Nanpō-netsu) in Japan in the 1940s: The Magazine Shin seinen and Haruji Tahara}, journal = {Jurnal Sejarah Citra Lekha}, volume = {11}, number = {1}, year = {2026}, keywords = {Modern History; Prewar; Waritme history}, abstract = { Abstrak Makalah ini menjelaskan situasi sebenarnya dari \"Southern Fever ( Nanpō-netsu )\" di Jepang pada tahun 1940-an dan kelayakannya dengan menganalisis kiriman pembaca dalam rubrik “ Kaigai-yuuhi-mondou (Overseas Flying Questions and Answers)” majalah Shin Seinen (New Youth) , serta saran dari editor majalah dan politikus Haruji Tahara dan lainnya. Definisi Nampō-netsu merujuk pada kecenderungan sosial berbagai kalangan yang sebenarnya tertarik dan ingin bepergian ke wilayah yang disebut “the south (nanpō )” (laut selatan di depan, laut selatan di belakang). Seiring dengan perluasan wilayah baru militer Jepang, wilayah militer dan politik seperti Singapura, Filipina, dan Indonesia menjadi pusat perhatian. Poin-poin yang terungkap atau disimpulkan dari Kaigai-yuuhi-mondou selama periode Indonesia berada di bawah administrasi militer Jepang meliputi, pertama, bahwa sekitar Mei 1942 ketika jumlah individu yang bercita-cita untuk bepergian ke Nanpō sebagai karyawan militer meningkat. Kedua, dari periode yang sama, permohonan dari perempuan menunjukkan tren peningkatan, yang semakin menonjol setelah 1943. Ketiga, meskipun kemungkinan besar mereka yang memiliki pengalaman di luar negeri diprioritaskan untuk ditugaskan ke Nanpō, kondisi ini tidak berlaku bagi keluarga militer. Disimpulkan bahwa kriteria seleksi termasuk telah menjadi tentara sukarela dan memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu. }, issn = {2443-0110}, doi = {10.14710/jscl.v11i1.80228}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jscl/article/view/80228} }
Refworks Citation Data :
Abstrak
Makalah ini menjelaskan situasi sebenarnya dari "Southern Fever (Nanpō-netsu)" di Jepang pada tahun 1940-an dan kelayakannya dengan menganalisis kiriman pembaca dalam rubrik “Kaigai-yuuhi-mondou (Overseas Flying Questions and Answers)” majalah Shin Seinen (New Youth), serta saran dari editor majalah dan politikus Haruji Tahara dan lainnya.
Definisi Nampō-netsu merujuk pada kecenderungan sosial berbagai kalangan yang sebenarnya tertarik dan ingin bepergian ke wilayah yang disebut “the south (nanpō)” (laut selatan di depan, laut selatan di belakang). Seiring dengan perluasan wilayah baru militer Jepang, wilayah militer dan politik seperti Singapura, Filipina, dan Indonesia menjadi pusat perhatian.
Poin-poin yang terungkap atau disimpulkan dari Kaigai-yuuhi-mondou selama periode Indonesia berada di bawah administrasi militer Jepang meliputi, pertama, bahwa sekitar Mei 1942 ketika jumlah individu yang bercita-cita untuk bepergian ke Nanpō sebagai karyawan militer meningkat.
Kedua, dari periode yang sama, permohonan dari perempuan menunjukkan tren peningkatan, yang semakin menonjol setelah 1943. Ketiga, meskipun kemungkinan besar mereka yang memiliki pengalaman di luar negeri diprioritaskan untuk ditugaskan ke Nanpō, kondisi ini tidak berlaku bagi keluarga militer. Disimpulkan bahwa kriteria seleksi termasuk telah menjadi tentara sukarela dan memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu.
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-06-01 00:24:17
Authors whose articles are published in Jurnal Sejarah Citra Lekha (JSCL) retain the copyright to their work and grant the journal the right of first publication. The work is simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. By submitting a manuscript to JSCL, the author(s) agree to this policy. No separate documentation is required.The author(s) guarantee that:
The work is subject to copyright held by the author(s), is free of third-party rights, and all necessary written permissions to quote from other sources have been obtained.The author(s) retain the following rights to the published work, including but not limited to:
If the article is co-authored, the submitting author confirms that all co-authors have agreed to the copyright and licensing terms and have been informed of this policy. JSCL is not responsible for any internal disputes between authors. All communication will be directed solely to the corresponding author.Authors should also be aware that once published, their articles, and any accompanying files, such as datasets or analytical/computational materials, will be publicly accessible. These materials will be governed by the same Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.JSCL allows users to copy, distribute, display, and perform the work under this license. Users must credit the author(s) and JSCL when distributing the work through journals or other publication media. Unless otherwise specified, the author(s) are considered public entities upon publication of the article.
Published by Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro UniversityJl. Prof. Soedarto, S.H. Tembalang, Semarang, Central Java 56025Phone: +6224-74680619; Fax: +6224-74680619Email: jscl@live.undip.ac.id View statistics