Editorial

*Rabith Jihan Amaruli  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 12 Dec 2019; Published: 12 Dec 2019; Available online: 11 Dec 2019.
Open Access Copyright (c) 2019 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 4 No. 2, 2019 dapat terhidang kembali di hadapan pembaca dengan topik nasionalisme, demokrasi, dan identitas. Pemilihan tema ini didasarkan pada fenomena panggung politik baik di aras lokal maupun nasional yang diwarnai oleh nasionalisme, gagasan demokrasi, dan identitas yang semakin memudar. Setelah 74 tahun Kemerdekaan RI, orang masih mempertanyakan kembali, perlukah sebuah identitas kebangsaan? Setelah 21 tahun pasca-Reformasi 1998, orang masih membahas kembali, apakah perbincangan tentang nasionalisme Indonesia masih relevan? Padahal, meminjam konsepsi Taufik Abdullah, nasionalisme adalah wujud dialektika yang dinamis di mana setiap generasi mempunyai tantangan (challenge) dan jawaban (response) yang berbeda. Namun, esensi nasionalisme tetaplah sama, yaitu rasa cinta yang dalam terhadap bangsa dan tanah airnya (Adisusilo, 2009: 3). Bahkan, memasuki abad ke-21, “Reformasi” masih harus bergumul dengan berbagai corak ujian (Abdullah, 2016: 19). Tuntutan perubahan yang semula di panggung politik, terus menyelinap ke seluruh aspek kehidupan, seperti sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Oleh karena itu, membincangkan nasionalisme Indonesia dengan dua aspek utama yang mengikutinya, yakni demokrasi dan identitas, akan selalu penting dan aktual.  

Keywords
Nasionalisme; Demokrasi; Identitas

Article Metrics:

  1. Abdullah, T. (2016). “Historiografi dalam Denyut Sejarah Bangsa”, Kalam 18.
  2. Adisusilo, S. (2009). “Nasionalisme – Demokrasi – Civil Society”, Historia Vitae, Vol. 23, No. 2.
  3. Tim Panitia Kongres Pancasila IX (2018). Pancasila Dasar Negara: Kursus Pancasila oleh Presiden Soekarno. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press dan Anggota Ikapi.