Strategi Survivalitas Warga dan Politik Survivalitas Aktor Politik pada Konflik Pertambangan

*Abdul Rozak  -  Pasca Sarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Indonesia
Dede Sri Kartini  -  Pasca Sarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Indonesia
Yusa Djuyandi  -  Pasca Sarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Indonesia
Received: 24 Aug 2019; Revised: 4 Jan 2020; Published: 29 Apr 2020.
Open Access Copyright (c) 2020 Politika: Jurnal Ilmu Politik
License URL: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

Citation Format:
Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan bentuk strategi bertahan hidup yang diperankan warga masyarakat dan strategi mempertahankan kekuasaan dan pengaruh oleh pemilik kekuasaan dan pengaruh dalam konflik di wilayah kerja pertambangan panas bumi di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara tahun 2010-2015. Guna mengkaji masalah ini dipergunakan acuan teori relasi negara-masyarakat dari Joel S. Migdal (1988) dan teori perlawanan orang-orang lemah dan terpinggirkan oleh James Scott (1985). Data dikumpulkan melalui FGD, wawancara mendalam, observasi dan kajian pustaka serta dianalisa secara kualitatif. Kajian ini menemukan bahwa relasi negara-masyarakat yang terbangun adalah relasi yang menempatkan negara sebagai entitas yang lemah (weak state) dan menjadikan lembaga sosial sebagai entitas yang kuat (strong society). Pada situasi ini, warga dan elit politik serta kekuaasan menerapkan strategi dan politik survivalitas yang sifatnya konvensional dan inkonvensional seperti menggunakan pendekatan agama dalam melakukan perlawanan dan mempertahankan pengaruh. Kajian ini merekomendasikan perlunya instusi negara ditempatkan kembali sebagai lembaga yang kuat serta menjadi otoritas utama dalam melakukan kontrol sosial di tengah masyarakat.

Keywords: conflict; geothermal mining; strategies of survival; politics of survival; election

Article Metrics:

  1. Abbass, I. M. (2012). No Retreat No Surrender: Conflict For Survival Between Fulani Pastoralists and Farmers in Northern Nigeria. European Scientific Journal, 8(1), 331–346.
  2. Alamsyah, A. (2003). Politik dan Birokrasi: Reposisi Peran Birokrasi Publik dalam Proses Politik Lokal. Jurnal Administrasi Publik, 2(1).
  3. Arisandi, R. S. (2016). Praktik Politik Nepotisme dalam Pemilihan Walikota. POLITIK, 12(2), 1867–1878.
  4. Creswell, J. W. (2015). Penelitian Kualitatif & Desain Riset: Memilih Diantara Lima Pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  5. Dalton, R. J., Farrell, D. M., & McAlliste, I. (2011). Political Parties and Democratic Linkage: How Parties Organize Democracy. Oxford: Oxford Scholarship.
  6. Evans, J. A. J. (2004). Voters and Voting: An Introduction. Sage.
  7. Firnas, M. A. (2016). Politik Dan Birokrasi: Masalah Netralitas Birokrasi di Indonesia Era Reformasi. Jurnal Review Politik, 6(01), 160–194.
  8. Fjelde, H., & Höglund, K. (2016). Electoral Institutions and Electoral Violence In Sub-Saharan Africa. British Journal of Political Science, 46(2), 297–320.
  9. Haris, S., Surbakti, R., Bhakti, I. N., Isra, S., Ambardi, K., Harjanto, N., … Nurhasim, M. (2014). Pemilu Nasional Serentak 2019. Retrieved from http://www.rumahpemilu.com/public/doc/2015_02_06_01_35_09_Executive Summary Pemilu Serentak 2019.pdf
  10. Haryanto, H. (2014). Kebangkitan Party ID: Analisis Perilaku Memilih dalam Politik Lokal di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 17(3), 291–308.
  11. Hasan, N. (2006). Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia. New York: Cornell Southeast Asia Program Publications.
  12. Holmes, P. (2008). Introducing Politics for AS level. Polity.
  13. Kilgore, D. W. (1999). Understanding Learning in Social Movements: A Theory of Collective Learning. International Journal of Lifelong Education, 18(3), 191–202.
  14. Lambach, D. (2004). State in Society: Joel Migdal and The Limits of State Authority. In Conference “Political Concepts Beyond the Nation State: Cosmopolitanism, territoriality, democracy”, Danish Political Theory Network Conference, University of Copenhagen, Department of Political Science Copenhagen (pp. 27–30).
  15. McMann, K. M. (2015). Corruption As a Last Resort: Adapting to the market in Central Asia. Cornell University Press.
  16. Migdal, J. S. (1988). Strong Societies and Weak States: State-Society Relations and State Capabilities in The Third World. Princeton University Press.
  17. Moyo, S. (2014). Regime Survival Strategies in Zimbabwe After Independence. Journal of International Relations and Foreign Policy, 2, 103–114.
  18. Oliver, P. E., Cadena-Roa, J., & Strawn, K. D. (2003). Emerging Trends in The Study of Protest and Social Movements. Research in Political Sociology, 12(1), 213–244.
  19. Roth, D. (2008). Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode. Jakarta: Fȕr Die Freiheit.
  20. Sagala, B. D., Chandra, V. R., & Purba, D. P. (2016). Conceptual Model of Sorik Marapi Geothermal System Based on 3-G Data Interpretation. Proceedings of IIGCE 2016.
  21. Scott, J. C. (2008). Weapons of The Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. Yale University Press.
  22. Simmons, J. T. (2014). Inheriting Failure: An Exploratory Study of Post-Colonial Somalia. Naval Postgraduate School Monterey Ca Defense Analysis Dept.
  23. Sinaga, F. A. (2019). Bentuk-Bentuk Korupsi Politik. Jurnal Legislasi Indonesia, 16(1), 59–75.
  24. Sjaf, S. (2014). Politik Etnik: Dinamika Lokal di Kendari. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  25. Sulardi. (2012). Menuju Sistem Pemerintahan Presidensiil Murni. Malang: Setara Press.