ANALISIS DATA BATIMETRI LAPANGAN DAN CITRA LANDSAT 8 OLI DI PERAIRAN SELAT LEPAR KABUPATEN BANGKA SELATAN (ANALYSIS BATIMETRY FIELD AND BATIMETRY CITRA LANDSAT 8 OLI IN LEPAR CURRENT REGENCY OF SOUTH BANGKA)

*Dewi Sartika -  Jurusan Manajemen SumberdayaPerairan FPPB-UBB, Balunijuk, Indonesia
Agus Hartoko -  Program tudi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Kurniawan Kurniawan -  Jurusan Manajemen SumberdayaPerairan FPPB-UBB, Balunijuk, Indonesia
Received: 2 Oct 2018; Published: 2 Oct 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: IN
Full Text:
Statistics: 372 1298
Abstract

Selat Lepar merupakan perairan dengan batas antara kawasan pesisir Sadai dengan kawasan Pulau Lepar Kabupaten Bangka Selatan. Informasi perairan kedalaman (batimetri) merupakan salah satu hal penting dalam menentukan wilayah alur jalannya pelayaran dalam perencanaan kawasan industri Sadai.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data batimetri lapangan dan citra Satelit Landsat 8 dan membuat dalam bentuk peta 3D di perairan Selat Lepar Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga April di perairan Selat Lepar Kabupaten Bangka Selatan.  Metode yang telah digunakan adalah metode akustik dengan melakukan pengambilan data batimetri di lapangan menggunakan singlebeam echosounder kemudian data lapangan dibandingkan dengan metode pengolahan citra landsat 8 menggunakan algoritma Satellite Derived Bathymetry (SDB). Algoritma Satellite Derived Bathymetry (SDB) menggunakan tiga pendekatan yaitu rationing, thresholding dan mean value Kanal 5 dan Kanal 2 citra satelit Landsat 8.  Pengukuran lapangan nilai batimetri perairan Selat Lepar Kabupaten Bangka Selatan berkisar antara 0.8 – 19 m.  Model pendekatan thresholding memiliki hubungan yang paling baik dengan persamaan regresi polinomial y = -235,3(B2-B5)2 + 126,2(B2-B5) - 13.35 dan y = -235,3(B5-B2)2 – 126,2(B5-B2) – 13,35, nilai koefisien determinasi tertinggi R2= 0,849. Peta layout  batimetri perairan Selat Lepar Kabupaten Bangka Selatan dalam bentuk 3D menghasilkan kedalaman 0-19 m dengan bentuk dasar perairan dangkal, landai dan dangkal.

 

 

Lepar Strait is a borderline area between Sadai coastal area with Lepar Island area of South Bangka Regency. Basic information of bathymetry is one of important things in determining the area of the shipping path in the planning of the Sadai industrial estate. This study aims to analyze the bathymetry and Landsat 8 satellite data and create it in 3D map form in the Lepar Strait area of South Bangka Regency. This research was conducted from October to April in Lepar Strait waters in South Bangka Regency. The method that has been used is acoustic method by collecting data using singlebeam echosounder and data then proceed with the method of image processing of landsat 8 using Satellite Derived Bathymetry (SDB) algorithm. The Satellite Algorithm Derived Bathymetry (SDB) used  three  approaches  namely  rationing,  thresholding  and  the  mean  value  of Kanal 5 and Kanal 2 Landsat 8 satellite. The measurement of  bathymetry Lepar Strait of South Bangka Regency between 0.8 to 16 m. The thresholding approach model has the best relation with the polynomial regression equation y = -235.3(B2-B5)2  + 126.2 (B2-B5) - 13.35 and y = -235.3 (B5-B2) 2 - 126.2 (B5-B2) –13.35, coefficient value of determination main R2  = 0.849. Map of bathymetry layers Lepar Strait of South Bangka Regency in the form of 3D produces a depth of 0-19 m with a shallow, slope and shallow base.

 

Keywords
Batimetri; Citra Landsat 8 OLI; Echosounder; Selat Lepar

Article Metrics:

  1. Arief M. 2012. Pendekatan baru pemetaan bathimetric menggunakan data penginderaan jauh SPOT studi kasus : Teluk Perigi dan Teluk Popoh. Jurnal Teknologi Dirgantara. 10 (1) : 71 – 80.
  2. Arief M, Hastuti M, Asriningrum W, Parwati E, Budiman S, Prayogo T dan Hamzah R.2013.Pengembangan metode pendugaan kedalaman perairan dangkal menggunakan data satelit SPOT-4 studi kasus : Teluk Ratai, Kabupaten Pesawaran. Jurnal Penginderaan Jauh. 10 (1) : 1-14.
  3. BPPTPM, 2017. Perencanaan Kawasan Industri Sadai Kabupaten Bangka Selatan.
  4. Campbell J, 2013. Landsat 8 Set to Extend Long Run of Observing Earth. http://www.usgs.gov/ diakses pada tanggal 9 Juni 2013
  5. Effendi,F Putra R. D, Pratomo A. 2015 Pemetaan BAtimetri Perairan Pantai
  6. Pejem Pulau Bangka. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji.Jurnal OSeanografi 4(1): 11-12
  7. Febrianto. 2016. Kombinasi Data Akustik dan Satelit untuk Pemetaan Batimetri di Perairan Dangkal Pulau Tunda. Thesis.Institut Pertanian Bogor . Bogor
  8. Hartoko, A. 2010.Aplikasi Indraja dan Sistem Informasi Geografis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNDIP. Semarang
  9. Hartoko, A, Soedarsono P dan Indrawati A. 2013.Analisis klorofil-α, Nitrat dan
  10. Fosfat pada Vegetasi Mangrove Berdasarkan Data Lapangan dan Data Satelite Geoeye Pulau Paranga, Kepulauan Karimun JAwa, Universitas Diponegoro, Semarang
  11. Hutabarat S dan Evan A M. 2008. Pengantar oseanografi. UI Press. Jakarta. Hlm 26
  12. Setyawan IE, Siregar VP, Pramono GH dan Yuwono DM. 2014. Pemetaan profil habitat dasar perairan dangkal berdasarkan bentuk topografi : studi kasus Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Jakarta. Majalah Ilmiah Globe. 16 (2) : 125-132
  13. [SNI] Standar Nasional Indonesia 7646. 2010. survei hidrografi menggunakan singlebeam echosounder. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
  14. Stumpf, R., K. Holderied and M. Sinclair.2003.Determination of water depth with high-resolution satellite imagery over variable bottom types, Limnology and Oceanography,48, 547-556
  15. Tarigan,S.2014.Studi Pemetaan Batimetri menggunakan Multibeam Echosounder di Perairan Pulau Komodo, manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Osecanografi Undip. 3(2):257-2
  16. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran