POTENSI PADANG LAMUN SEBAGAI PENYERAP KARBON DI PERAIRAN PULAU KARIMUNJAWA, TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA (Ability of Seagrass Beds as Carbon Sink in The Waters of Karimunjawa Island, Karimunjawa National Park )

*Ajeng Ganefiani  -  Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Indonesia
Suryanti Suryanti  -  Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Indonesia
Nurul Latifah  -  Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Indonesia
Published: 14 Feb 2019.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Perubahan iklim disebabkan karena meningkatnya kandungan Gas Rumah Kaca seperti karbon dioksida (CO2), klorofluorokarbon (CFC), ozon (O3), dinitro oksida (N2O), metana (CH4), heksafluorida (SF6), hidrofluorokarbon (HFCS), perfluorokarbon (PFCS)). Diantara kedelapan gas tersebut, konsentrasi gas CO2 di atmosfer memiliki kontribusi terbesar yaitu lebih dari 55% dari total efek GRK yang ditimbulkan. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk menurunkan emisi GRK adalah dengan memanfaatkan lautan dan ekosistem pesisir sebagai penyerap CO2 alami (natural CO2 sink). Lamun merupakan tumbuhan laut yang berkontribusi terhadap penyerapan karbon melalui proses fotosintesis yang kemudian disimpan dalam bentuk biomassa pada bagian daun, rhizoma dan akar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis lamun, kerapatan dan tutupan lamun serta potensi penyerapan karbon dalam biomassa berupa jaringan atas substrat dan bawah substrat lamun yang dilakukan pada bulan Maret 2018 di Pulau Karimunjawa. Identifikasi jenis lamun dilakukan dengan melihat panduan buku seagrasswatch, kerapatan dan tutupan dilakukan dengan metode transek kuadran. Analisis kandungan karbon dilakukan dengan metode pengabuan. Hasil penelitian ditemukan 8 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Halophila minor, Halodule uninervis, Halophila ovalis dan Syringodium isoetifolium. Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata memiliki nilai kerapatan tertinggi dengan kerapatan mencapai 450 ind/m2 dan 1204 ind/m2. Nilai biomassa dibagian bawah susbtrat berkisar 970,39 - 1.412.55 gbk/m2 yang lebih besar dibandingkan nilai biomassa lamun dibagian atas substrat berkisar 371, 88 - 546, 38 gbk/m2 diikuti nilai penyerapan karbon dibagian bawah substrat (akar dan rhizoma) berkisar antara 12,60 – 93,62 gC/m2, sementara kandungan karbon dibagian atas substrat (daun) berkisar antara 4,19 – 34,12 gC/m2. Total stok karbon di perairan Pulau Karimunjawa berkisar antara 1,28 ton karbon – 2,49 ton karbon atau sebesar 0,50 – 0,73 ton karbon/ha

 

Climate change is caused by increasing greenhouse gases content such as carbon dioxide (CO2), chlorofluorocarbon (CFC), ozone (O3), dinitro oxide (N2O), methane (CH4), hexafluoride (SF6), hydrofluorocarbons (HFCS), perfluorocarbons (PFCS) )). Among the eight gases, the concentration of CO2 gas in the atmosphere has the largest contribution, which is more than 55% of the total GHG effects generated. One of the preventive measures that can be taken to reduce GHG emissions is to use the oceans and coastal ecosystems as natural CO2 sinks. Seagrass is a marine plant that contributes to carbon sequestration through photosynthesis which is then stored in the form of biomass in the leaves, rhizomes and roots. This research aims to know the types of seagrass, seagrass cover and potential density of biomass carbon of above the substrate (leaves) and below the substrate seagrass (roots and rhizomes) in March 2018 at Karimunjawa Island. The identification of seagrass types used guidance book of seagrasswatch and the identification of seagrass cover and density was carried out using transect quadrant method. Analysis carbon content used ashing method. The result of the present study found 8 species of seagrasses that Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Halophila minor, Halodule uninervis, Halodule ovalis and Syringodium isoetifolium. Thalassia hemprichii and Cymodocea rotundata have the highest density value reached 450 ind/m2 and 1,204 ind/m2. Value biomass below substrate ranged from 970.39 to 1.412.55 gbk/m2  which is greater than the value biomass above the substrate ranged from 371, 88 - 546, 38 gbk/m2 followed by the value of the carbon adsorption in below the substrate (roots and rhizomes) ranged from 12.60 to 93.63 gC/m2, whilst the carbon content above the substrate (leaves) ranged from 4.19 to 34.12 gC/m2. Total carbon stock in the waters of Karimunjawa Island ranged from 1.28 – 2.49 tons of carbon or of 0.50 to 0.73 tons of carbon/ha.

Keywords: Lamun; CO2; Penyeran Karbon; Gas Rumah Kaca; Karimunjawa

Article Metrics:

  1. Azkab, M. H. 1999. Pedoman Inventarisasi Lamun. Oseana, XXIV (1): 1-16
  2. Cahyani, N. F. D., A, Hartoko dan Suryanti. 2014. Sebaran dan Jenis Lamun Pantai Pancuran Belakang Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa, Jepara. Diponegoro Journal of Maquares, 3(1): 61-70
  3. Christon. 2012. Pengaruh Tinggi Pasang Surut Terhadap Pertumbuhan dan Biomassa Daun Lamun Enhalus acoroides di Pulau Pari Kepulauan Seribu Jakarta. J. Universitas Padjajaran, 3(3): 287-294
  4. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. 2008. Buku Pedoman Identifikasi Potensi dan Pemantauan Biofisik Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
  5. Duarte, C. M. 1990. Seagrass Nutrient Content. Mar. Ecol. Prog. Ser., 67: 201-207. DOI: 10.3354/meps067201
  6. Erftemeijer, P.L.A., R. Osinga and A.E. Mars. 1993. Primary Production of Seagrass Beds in South Sulawesi (Indonesia): A Comparison of Habits, Method and Species. Aquat Bot., 46: 67-90 pp. DOI: 10.1016/0304-3770(93)90065-5
  7. English, S. C., Wilkinson and V. Baker. 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science. Townville
  8. Fourqurean, J. W., C. M. Duarte., H. Kennedy., N. Marba., M. Holmer., M. A. Mateo., E. Apostolaki., G. A. Kendrick., D. Krause-Jensen., K.J. Mc Glathery and O. Serrano. 2012. Seagrass Ecosystems As a Globally Significant Carbon Stock. Nature Geoscience, pp 1-5. DOI: 10.1038/ngeo1477
  9. Graha, Y. I., I. W. Arthana dan I. W. G. A. Karang. 2015. Simpanan Karbon Padang Lamun di Kawasan Pantai Sanur, Kota Denpasar. J. Ecotrophic 10(1): 46-53. DOI: 10.24843/EJES.2016.v10.i01.p08
  10. Harianto. 2005. Inventarisasi Lamun di Kepulauan Karimunjawa: Laporan Kegiatan Inventarisasi Lamun (Seagrass) Balai Taman Nasional
  11. Karimunjawa, Juli 2005. Karimunjawa
  12. Hartati, R., I. Pratikto dan T. N. Pratiwi. 2017. Biomassa dan Estimasi Simpanan Karbon pada Ekosistem Padang Lamun di Pulau Menjangan Kecil dan Pulau Sintok, Kepulauan Karimunjawa. Buletin Oseanografi Marina, 1(6): 74-81. DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15746
  13. Helrich, K. 1990. Method of Analysis of The Association of Official Analytical Chemists. Fifteenth Edition. Virginia. 10.3109/15563657608988149
  14. Howard, J., S. Hoyt., K. Isensee., M. Telszewski and E, Pidgeon (eds.). 2014. Coastal Blue Carbon: Methods for Assessing Carbon Stocks and Emissions Factors in Mangroves, Tidal Salt Marshes and Seagrasses. Conservation International, Intergovermental Oceanographic Commission of UNESCO, International Union for Conversation of Nature. Arlington, Virginia, USA
  15. Hutomo, M., W. Kiswaran and M.H. Azkab. 1988. The Status of Seagrass Ecosystems in Indonesia: Resources, Probles, Research and Management. Paper Presented at SEAGRAM I, Manila 17-22 January 1988: 24p
  16. IPCC. 2001. Climate Change 2001. The Scientific Basis. Cambridge Univ Press. Cambridge. 881p. https://doi.org/10.1002/joc.763
  17. Kawaroe, M. 2009. Perpektif Lamun Sebagai Blue Carbon Sink di Laut. Dalam: Lokakarya Nasional I Pengelolaan Ekosistem Lamun Tanggal 18 November 2009. Jakarta
  18. Kennedy, H and M. Bjork. 2009. Seagrasses Meadows, In: Laffoley, D. d’A dan Grimsditch, G. (eds). 2009. The Management of Natural Coastal Carbon Sinks. IUCN. Gland
  19. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51. 2004. Baku Mutu Air Laut. MENLH. Jakarta
  20. Khouw, A. S. 2009. Metode dan Analisa Kuantitatif dalam Bioekologi Laut. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut. Jakarta
  21. Kusmana, C., S. Sabiham., K. Abe and H. Watanabe. 1992. An Estimation of Above Ground Tree Biomass of A Mangrove Forest in East Sumatra. Tropics 1(4): 143-257. DOI: 10.3759/tropics.1.243
  22. Lakrum, A. W. D., R. J. Orth and C. M. Duarte. 2006. Seagrasses: Biology, Ecology and Conservation. Spinger. 676 p. DOI: 10.1007/978-1-4020-2983-7
  23. McKenzie, L. J., Campbell, S.J and Roder, C. A. 2003. Seagrass-Watch: Manual for Mapping and Monitoring Seagrass Resources by Community (citizen) Volunteers. 2nd Edition. (QFS, NFC, Cairns) 100pp
  24. Odum, E. P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. 3rd ed. Universitas Gadja Mada, Yogyakarta
  25. Pranowo, W. S., N. S. Adi., A. Rustam., T. L. Kepel., B. A. Subki., T. R. Adi dan S. Wirasantosa. 2011. Rencana Strategis Riset Karbon Laut di Indonesia Edisi II – Tahun 2010. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Jakarta
  26. Ristianti, N., Ruswahyuni dan Suryanti. 2014. Hubungan Kelimpahan Epifauna pada Kerapatan Lamun Yang Berbeda di Pantai Pancuran Belakang Pulau Karimunjawa, Jepara. Diponegoro Journal of Maquares 3(4): 34-40
  27. Sabine, C. L., R. A. Feely., N. Gruber., R. M.. Key., K. Lee., J. L. Bullister., R. Wanninkhof., C. S. Wong., D. W. R. Wallace., B. Tilbrook., F. J. Millero., T. H. Peng. A. Kozyr., T. Ono and A. F. Rios. 2004. The Oceanic Sink for Anthropogenic CO2. Science, 305: 367-371pp. DOI: 10.1126/science.1097403
  28. Sulaeman., Suparto dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor
  29. Supriadi., R.F. Kaswadji., D.G. Bengen dan M. Hutomo. 2012. Potensi Penyimpanan Karbon Lamun Enhalus acoroides di Pulau Baranglompo Makassar. Universitas Hasanuddin Makassar. J. Ilmu Kelautan 19(1): 1–10. DOI: 10.14710/ik.ijms.19.1.1-10
  30. Tomascik, T., A. J. Mah., A, Nontji and M. K. Moosa. 1997. The Ecology of Indonesian Seas. 2nd ed. The Ecology of Indonesian Series, 752 p. DOI: 10.1086/393445
  31. UNEP. 2009. Blue Carbon: A Rapid Response Assessment. Environment. United Nations Environment Programme, GRID-Aredal, 71 p
  32. Wicaksono, S. G., Widianingsih dan S. T. Hartati. 2012. Struktur Vegetasi dan Kerapatan Jenis Lamun di Perairan Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara. Journal of Marine Research, 1(2): 1-7
  33. Wardah., B. Toknok dan Zulkaidhah. 2009. Persediaan Karbon Tegakan Agroforestri di Zona Penyangga Hutan Konservasi Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Penelitian Strategi Nasional. Universitas Tadulako, Palu. Sulawesi Tengah. http://dx.doi.org/10.5400/jts.2011.v16i2.123-128

Last update: 2021-05-17 13:57:47

  1. ESTIMASI STOK KARBON DI PADANG LAMUN PULAU NYAMUK DAN PULAU KEMUJAN, BALAI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA, JEPARA

    Fajar Bayu Aji, Sigit Febrianto, Norma Afiati. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 12 (3), 2020. doi: 10.29244/jitkt.v12i3.31505
  2. GROWTH, BIOMASS AND PHYTOCHEMICAL COMPOUND OF SEAGRASS (CASE STUDY: MALANG REGENCY COASTAL)

    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 12 (3), 2020. doi: 10.29244/jitkt.v12i3.32228

Last update: 2021-05-17 13:57:47

No citation recorded.