skip to main content

Efektivitas Pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Provinsi Bengkulu dan Sejarah Status Fungsi Kawasannya

Universitas Bengkulu, Indonesia

Received: 12 Jan 2021; Published: 28 Apr 2021.
Editor(s): Sudarno Utomo

Citation Format:
Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Provinsi Bengkulu, Indonesia, dengan luas 7.732,80 ha, merupakan kawasan hutan konservasi yang tujuan utamanya dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan rekreasi. Ekosistem hutan tropis dataran rendah dengan keanekaragaman hayati didalamnya dan adanya pusat latihan gajah (PLG) merupakan obyek daya tarik wisata kawasan TWA ini. Sebelum ditunjuk sebagai TWA kawasan ini merupakan hutan produksi.  Adaya habitat gajah dan satwa liar lainnya di dalamnya menjadikan alasan kawasan ini berubah fungsi menjadi hutan konservasi TWA. Pengelola hutan konservasi TWA Seblat adalah Balai Kosevasi Sumberdaya Alam Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan saat ini, sejarah status fungsi hutannya dan tingkat efektivitas pengelolaan TWA Seblat.  Kondisi penggunaan lahan ditentukan dengan metode pemetaan dan survey lapangan. Pendekatan sejarah digunakan untuk mengetahui dinamika perubahan status fungsi kawasan hutannya, sedangkan efektivitas pengelolaan ditentukan dengan metode METT (Management Effektiviness Tracking Tools).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di kawasan Taman Wisata Alam Seblat yang berupa hutan luasnya sekitar 5.015 ha (64,9%), semak belukar sekitar 2.142 ha (27,7%), pertanian lahan kering campur sekitar 381 ha (4,9%), perkebunan sekitar 59,1 ha (0,8%), tanah kosong sekitar 109 ha (1,4%) dan sawah sekitar 6 ha (0,1%). Sebelum tahun 1995. status fungsi kawasan hutan TWA Seblat ini adalah  hutan produksi, pada tahun 1995 berubah menjadi hutan produksi tujuan khusus Pusat Latihan Gajah (PLG), dan sejak tahun 2011 berubah menjadi hutan konservasi TWA.  Tingkat effektivitas pengelolaan TWA Seblat termasuk dalam kategori efektif, dengan nilai 71%.  Untuk mengoptimalkan fungsi wisata alam dan rekreasi diperlukan penambahan fasilitas dasar, fasilitas wisata, dan rencana pengelolaan jangka pendek. 

Fulltext View|Download
Keywords: Efektivitas, Penggunaan lahan, Pengelolaan, Sejarah fungsi hutan, Taman Wisata Alam

Article Metrics:

  1. Anonim, 1967. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan. Jakarta
  2. Anonim, 1999. Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Jakarta
  3. Anonim, 2005. Rencana Pengelolaan HFKh Pusat Latihan Gajah Seblat 2005-2030. Balai Konservasi Sumberdaya Alam Bengkulu
  4. Anonim, 2011. Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Jakarta
  5. Anonim 2015. Profil Kawasan Hutan di Provinsi Bengkulu. Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu
  6. Anonim, 2018. Master Plan Pengembangan Ekowisata Alam di Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba. Balai Konservasi Sumber Daya ALam Bengkulu
  7. Ardana, I.P.G. 2009. Sinkronisasi Kegiatan Pertambangan pada Kawasan Hutan. Jurnal Bumi Lestari Vol. 9 No. 2. Hal. 288-299
  8. Alparisi, S., Wiryono, dan Aprianto, E., 2019. Evaluasi Tutupan Lahan dan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Taman Wisata Bukit Kaba Provinsi Bengkulu. Naturalis Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan Vol. 8 No. 2. Hal. 11-19
  9. Damanik, J dan H.F. Weber. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke Aplikasi. Diterbitkan atas Kerjasama Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) Universitas Gadjah Mada dan Penerbit Andi. Yogyakarta
  10. Daniel, M., Darmawati, dan Nieldalina. 2006. Partisipatory Rural Appraisal (PRA) Pendekatan Efektif Mendukung Penerap-an Penyuluhan Partisipatif dalam Upaya Percepatan Pembangunan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta
  11. Djuantoko dan Imron, M.A., 1993. Perguruan Tinggi dan Pemanfaatan Sumberdaya Hayati secara Berkelanjutan. Seminar Sehari Pemanfaatan Sumberdaya Hayati yang Berkelanjutan. Yogyakarta
  12. Fuad, F. dan Maskanah, S. 2000. Inovasi Penyelesaian Sengketa Pengelolaan Sumberdaya Hutan. Pustaka LATIN. Bogor
  13. Ilman, M. 2008. Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Lahan Basah Pesisir Indonesia. Thesis Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. http://repository.ipb. ac.id/handle/123456789/9938, Diakses 13 Desember 2020
  14. Imbiri, S. 2015. Pengelolaan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja di Kabupaten Manokwari. Jurnal Kehutanan Papuasia Vol. 1 No. 1. Hal. 36-52
  15. Indrawan, A. 2002. Penerapan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) Pada Hutan Dipterocarpaceae, Hutan Hujan Dataran Rendah di HPH PT. Hugurya, Aceh. Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. VIII No. 2. Hal. 75-88
  16. Khalik, I., Kusmana, C., dan Basuni, S. 2011. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat: Studi Kasus di Eks HPH. PT. Maju Jaya Raya Timber Kabupaten Bengkulu Utara. Provinsi Bengkulu. JPSL Vol. 1 No. 1. Hal. 1-9
  17. Kurniawan, Y., Abdulah R., dan Murad, M. 2014. Analisis Perizinan Kegiatan Usaha Pertambangan pada Kawasan Hutan Produksi dengan sistem Informasi Geografis dan Peraturan Kehutanan di Kota Sawahlunto. Jurnal Bina Tambang No. 1 No. 1. Hal. 1-8
  18. Marcelina, D.M., Febryano. I.G., Setiawan, A., dan Yuwono, S.B. 2018. Persepsi Wisatawan terhadap Fasilitas Wisata di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas. Jurnal Belantara Vol. 1 No. 2. Hal. 45-53
  19. Nuralam, H.D. Walangitan, dan M.A. Langi, 2015. Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Taman Wisata Alam Batuputih dan Dampaknya terhadap Pendapatan Masyarakat. Jurnal EMBA, Vol. 3 No. 3. Hal. 660-671
  20. Martina, S., 2014. Dampak Pengelolaan Taman Wisata Alam Kawah Putih terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat. Pariwisata Vol. 1 No. 2. Hal. 81-89
  21. Puspitasari, M.E. 2012. Implementasi Kebijakan Pengelolaan Pusat Latihan Gajah (PLG) di Provinsi Bengkulu. Jurnal Dimensi Vol. 1 No. 1. Hal. 1-10
  22. Ridwansyah, M. 2007. Evaluasi Ekonomi Penggunaan Lahan Eks. Areal Hutan Konsesi di Sekitar Daerah Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat. Disertasi Sekolah Pascasarjana Institut Pertania Bogor. Bogor
  23. Senoaji, G. 2011. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan Lindung Bukit Daun Bengkulu. Jurnal Sosiohumaniora Vol. 13 No. 1. Hal. 1-17
  24. Senoaji, G., Hidayat, M.F., dan Iskandar. 2018. Resolusi Konflik Pemanfaatan Kawasan Hutan sebagai Lahan Pertanian di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bukit Badas Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Prosiding Seminar Nasional Bidang-Bidang Ilmu Pertanian BKS-PTN Bagian Barat. Serang. Banten
  25. Senoaji, G., Hidayat, M.F., dan Iskandar. 2019. Konflik Pemanfaatan Lahan dalam Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bukit Basa di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Jurnal Ilmu Lingkungan Vol. 17 No. 1. Hal. 61-69
  26. Sulistiyana, R.T., Djamhur H., Azizah, D.F., 2015. Pengaruh Fasilitas Wisata dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen (Studi pada Konsumen Museum Satwa). Jurnal Administrasi Bisnis, Vol. 25 No. 1. Hal. 1–9
  27. Sylviani dan Hakim, I. 2014. Analisis Tenurial dalam Pengembangan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH): Studi Kasus KPH Gedong Wani Provinsi Lampung. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Hutan, Vol. 11 No. 4. Hal. 309-322
  28. Tisnawati, V. Soekmadi, S. dan Kartono, A.P. 2019. Analisis Kebutuhan Pegawai di Balai Taman Nasional Alas Purwo. JPSL Vol. 9 No. 2. Hal. 366-379
  29. Wasino dan Hartatik, E.S., 2018. Metode Penelitian Sejarah: Dari Riset Hingga Penulisan. Magnum Pustaka Umum. Yogyakarta
  30. Wibowo, P.I., Herwanti, S., Febryano, I.G., dan Winarno, G.D. 2019. Nilai Ekonomi Pusat Latihan Gajah di Taman Nasional PLG Way Kambas. Jurnal Hutan Tropis Vol. 7 No. 1. Hal. 18-24

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.