skip to main content

Pemantauan Radioaktivitas Lingkungan dari Radionuklida 137Cs dan 60Co pada Buah Belimbing Dewa (Averrhoa carambola L.) di Kota Depok Menggunakan Spektrometer Gamma

1Chemistry Departmen UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Indonesia

2Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTKMR-BATAN), Jakarta Selatan, Indonesia

Received: 11 Sep 2024; Revised: 7 Feb 2026; Accepted: 11 Feb 2026; Published: 15 Mar 2026.
Editor(s): Budi Warsito

Citation Format:
Abstract
Pemantauan radioaktivitas lingkungan melalui bahan pangan merupakan aspek penting dalam penilaian keamanan pangan dan perlindungan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat cemaran serta pola sebaran radionuklida buatan 137Cs dan 60Co pada buah belimbing dewa (Averrhoa carambola L.) di Kota Depok, salah satu komoditas hortikultura unggulan yang banyak dikonsumsi. Sampel belimbing dewa diambil dari lima kecamatan dan dianalisis menggunakan spektrometer gamma HPGe. Pengukuran dilakukan melalui dua tahap, yaitu analisis sampel kering dalam beaker Marinelli dan analisis ulang setelah proses pengabuan dalam wadah vial. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi tertinggi 137Cs terdapat di Kecamatan Pancoran Mas sebesar 1,706 ± 0,043 Bq/kg pada sampel segar dan 3,5 ± 0,097 Bq/kg pada sampel abu, sedangkan konsentrasi tertinggi 60Co ditemukan di Kecamatan Limo sebesar 1,287 ± 0,025 Bq/kg pada sampel segar dan 4,489 ± 0,161 Bq/kg pada sampel abu. Seluruh nilai konsentrasi yang terukur masih berada jauh di bawah batas maksimum cemaran radioaktif pangan yang ditetapkan oleh PERMENKES No. 1031 Tahun 2011 dan pedoman FAO/WHO. Pemanfaatan belimbing dewa sebagai bioindikator lokal radionuklida buatan di lingkungan perkotaan, serta pendekatan komparatif antara sampel segar dan sampel hasil pengabuan, meningkatkan sensitivitas deteksi radionuklida. Studi ini juga menyajikan peta sebaran spasial 137Cs dan 60Co di Kota Depok sebagai data dasar pemantauan radioaktivitas lingkungan berbasis pangan yang dapat dimanfaatkan dalam pemantauan radioaktivitas pangan di Indonesia.
Keywords: Radionuklida; 137Cs; 60Co; belimbing dewa; spectrometer gamma
Funding: Kimia FST UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Article Metrics:

  1. Arifin. 2011. Memahami Proses Fisika dalam Produksi Radionuklida dan Karakteristik Fisiologis Radioterapi pada Manusia. Pros. Semin. Nas. Sains dan Teknol. Nukl., pp. 282–299
  2. Aziz M., E. Hidayanto, and D. D. Lestari. 2015. Penentuan Aktivitas Co-60 dan Cs-137 pada Sampel Unknow dengan Menggunakan Detektor HPGe. Youngster Phys. J., vol. 4, no. 2, pp. 189–196
  3. BAPETEN. 2017. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Nilai Batas Radioaktivitas Lingkungan. J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699
  4. BATAN. 2009. Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir IV,” pp. 105–116
  5. BATAN. 2017. Standar Operasional Prosedur Analisis Radionuklida 137Cs, 134Cs, 131I dan 60Co pada Sampel Bahan Pangan. Pus. Teknol. Keselam dan Metrol. Radiasi, vol. 118, no. 2, pp. 1–11
  6. BPS. 2018. Kota Depok Dalam Angka Tahun 2018
  7. Brahmana Y. S. 2017. Studi Kandungan Radionuklida Alam Pada Tanaman Palawija Disekitar Tanah Karo Pasca Erupsi Gunung Sinabung Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara, Medan
  8. Budihardjo S. et al. 2010. Disain Konsep Rancang Bangun Iradiator Gamma (Isg-500) untuk Pengawetan Hasil Pertanian,” no. November, pp. 171–178
  9. CDC. 2005. Radioisotope Brief: Cesium-137 (Cs-137). Dep. Heal. Hum. Serv., vol. 137, pp. 1–2
  10. Djingova R. and I. Kuleff. 2002. Concentration of caesium-137, cobalt-60 and potassium-40 in some wild and edible plants around the nuclear power plant in Bulgaria. J. Environ. Radioact., vol. 59, no. 1, pp. 61–73, doi: 10.1016/S0265-931X(01)00036-4
  11. IAEA. 2005. Disposal Options for Disused Radioactive Sources: Technical Report #436. IAEA Tech. Reports Ser. No. 436, no. 436, pp. 61, [Online]. Available: http://www.wmsym.org/archives/2004/pdfs/4013.pdf
  12. Kemenkes. 2011. Batas Maksimum Cemaran Radioaktif Dalam Pangan
  13. Lely, D. Yulianti, and N. Hindarto. 2012. Pengukuran Radioaktivitas Lingkungan Di Sekitar Instalasi Radiodiagnostik Rumah Sakitdi Semarang, Unnes Phys. J., vol. 1, no. 1, pp. 50–53
  14. Marwoto J., M. Muslim, Z. D. Aprilia, P. Purwanto, and M. Makmur. 2019. Sebaran Aktivitas Radionuklida Alam dalam Sedimen di Perairan Sluke Rembang, Jawa Tengah,” J. Kelaut. Trop., vol. 22, no. 2, pp. 141, doi: 10.14710/jkt.v22i2.4881
  15. Malik A.Q. and A. Kumar. 2019. Monitoring of Environmental Radioactivity in Foodstuff in Fiji. Int. J. Sci. Res., vol. 8, no. 12, pp. 1781–1785, doi: 10.21275/ART20203756
  16. Muthmainnah, D. Milvita, and M. Wiyono. 2020. Penentuan Konsentrasi Radionuklida ( Ra-226 , Th-232 , K-40, dan Cs-137 ) pada Bahan Pangan Menggunakan Spektrometer Gamma di Pasar Raya Kota Padang. J. Fis. Unand, vol. 9, no. 3, pp. 394–400
  17. Noviarty and I. Haryanti. 2016. Uji Profisiensi Laboratorium IRM melalui Pengukuran Aktivitas Isotop Iodium-131 Menggunakan Spektrometer Gamma. Pros. Semin. Nas. Teknol. dan Apl. Reakt. Nukl., no. I, pp. 48–53
  18. Purwanto A.T. and E. Nuraeni. 2013. Optimasi Parameter Spektroskopi Gamma dengan Detektor HpGe. Batan, pp. 307–312
  19. Sukmabuana P. and R. Tursinah. 2016. Efisiensi Detektor HPGe untuk Sampel Air dalam Variasi Marinelli. Pros. Semin. Nas. Teknol. Energi Nukl., pp. 65–71
  20. Supriyanto A. 2005. Pengukuran Radioaktivitas dan Radiasi-Gamma Lingkungan di Provinsi Lampung. J. Fis. FMIPA, vol. 11, no. 3, pp. 194–200
  21. Svaeren I. 2010. Caesium-137 in Sediments From Two Norwegian Fjords-Including Dating Sediment Cores
  22. WHO and FAO. 2005. Guideline Levels for Radionuclides in Foods for Use in International Trade
  23. Wulandari D. 2011. Analisis Cesium-137 Dalam Sampel Cair Lingkungan dengan Spektrometri Gamma; Perbandingan Metode Preparasi Pengendapan dan Penguapan. [skripsi]. Universitas Indonesia

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-06-04 09:38:47

No citation recorded.