Kejadian Drop Foot Setelah Anestesi Spinal

*Satrio Adi Wicaksono -  Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi Semarang, Indonesia
Bhimo Priambodo -  Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi Semarang, Indonesia
Published: 1 Mar 2019.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Laporan Kasus
Language: ID
Full Text:
Supp. File(s):
CTA JAI
Subject
Type Other
  View (1MB)    Indexing metadata
Statistics: 464 743
Abstract

Latar Belakang: Komplikasi neurologi setelah prosedur anestesi spinal dapat disebabkan oleh cedera saraf secara langsung, hipotensi yang berat, henti jantung, masalah terkait peralatan, efek yang tidak diinginkan dari obat, pemberian obat yang tidak benar, dan kesalahan lokasi penyuntikan. Namun komplikasi neurologi serius yang disebabkan oleh anestesi regional jarang terjadi. Drop Foot merupakan salah satu komplikasi langsung dari cedera saraf.

Kasus: Seorang wanita berusia 44 tahun telah dijadwalkan untuk operasi histerektomi. Pasien mengalami penurunan daya lihat, visus mata kanan 1/300 sedangkan mata kiri adalah 1/~. Melalui teknik aseptik, 25 G jarum spinal disuntikan di interspatium L3-L4. Ruang subarachnoid dicapai setelah beberapa kali suntikan. Setelah itu, bupivakain spinal 0,5% 20 mg diinjeksikan.

Satu hari setelah operasi, pasien menyadari bahwa ia tidak mampu menggerakkan kaki kirinya dan kaki kanan normal. Kasus ini dikonsulkan ke bagian neurologi dan rehabilitasi medik dan akupuntur. Tiga minggu pascaoperasi kekuatan motorik skala 1, sensorik hampir kembali normal, sensasi panas di kulit hampir hilang. Setelah 4 minggu, sebagian kekuatan motorik telah pulih, 8 minggu kemudian pulih total.

Pembahasan: Jenis dan luasnya cedera saraf dapat bervariasi sesuai dengan orientasi jarum. Ketika bevel sejajar dengan sumbu panjang saraf, jarum lebih mudah untuk melewati serabut saraf. Saat jarum menyilang ke serabut saraf, lukanya lebih besar. Beberapa gangguan sensorik dan kelemahan anggota gerak dapat berlangsung lebih dari satu tahun. Pemeriksaan konduksi saraf berguna untuk melokalisasi dan menilai cedera saraf. Tanda-tanda denervasi pada elektromiogram (EMG) setelah cedera saraf akut membutuhkan 18-21 hari untuk berkembang.

Kesimpulan: Dalam kasus ini, komplikasi muncul segera setelah pemulihan dari anestesi spinal dan pasien mengalami pemulihan total setelah 2 bulan. Komplikasi neurologi ini muncul dan diterapi dengan kortikosteroid, obat anti inflamasi, dan akupunktur tanpa adanya efek samping.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords
anestesi spinal; bupivakain; drop foot; elektromiografi; parestesia

Article Metrics:

  1. Nirmala BC, Gowri K . Drop Foot after spinal anaesthesia: A rare complication. Indian J Anaesth. 2011 Jan-Feb; 55(1): 78–79.
  2. Uzunlar H, Duman E,Eroglu A, Topcu B, Erciyes N. A Case of "Drop Foot" Following Combined Spinal Epidural Anesthesia. The Internet Journal of Anesthesiology. 2003 Volume 8 Number 1.
  3. Reynold’s F. Damage to the conus medullaris following spinal anaesthesia. Anaesthesia. 2001 ; 56:238–47
  4. Auroy Y, Narchi P, Messiah A, Litt L, Rouvier B, Samii K. Serious complications related to regional anaesthesia: Results of a prospective survey in France. Anaesthesiology 1997 ; 87:479–86.
  5. Selander D, Dhuner KG, Lundborg G. Peripheral nerve injury due to injection needles used for regional anaesthesia. An experimental study of the acute effects of needle point trauma. Acta Anaesthesiol Scand. 1997;21:182–8.
  6. Aldrete Ja. Neurologic deficits and arachnoiditis following neuraxial anesthesia. Acta Anaesthesiol Scand; 47: 3-12, 200
  7. Scott DB, Tunstall ME, Serious complications associated with epidural/ spinal blockade in obstetrics: a two-year prospective study Int J Obstet Anesth, 4 (1995), pp. 133-139
  8. Suresh, Schaldenbrand K,Wallis S, De Oliveira GS. Regional anaesthesia to improve pain outcomes in paediatric surgical patients: a qualitative systematic review of randomized controlled trials Br J Anaesth, 113 (2014), pp. 375-390
  9. Tobias JD. Spinal anaesthesia in infants and children. PaediatrAnaesth 2000;10:5-16.
  10. Llewellyn N, Moriarty DA. The national pediatric epidural audit. PaediatrAnesth 2007;17:520-33.
  11. Rorarius M, Suominen P, Haanpaa M, et al. Neurologic sequelae after caesarean section. Acta Anaesthesiol Scand. 2001;45(1):34–41
  12. Faccenda KA, Finucane BT. Complications of regional anaesthesia incidence and prevention. Drug Saf. 2001;24(6):413–442.
  13. Dar AQ, Robinson AP, Lyons G. Postpartum neurological symptoms following regional blockade: a prospective study with case controls. Int J Obstet Anesth. 2002;11(2):85–90.Katirji B, Wilbourn AJ, Scarberry SL, Preston DC. Intrapartum maternal lumbosacral plexopathy. Muscle Nerve 2002;26:340-7vv
  14. Moen V, Irestedt L. Neurological complications following central neuraxial blockades in obstetrics. Curr Opin Anaesthesiol. 2008;21(3):275–280.
  15. O’Neal MA, Chang LY, Salajegheh MK. Postpartum spinal cord, root, plexus and peripheral nerve injuries involving the lower extremities: a practical approach. Anesth Analg. 2015;120(1):141–148.
  16. Postaci A, Karabeyoglu I, Erdogan G, Turan O, Dikmen B. A case of sciatic neuropathy after caesarean section under spinal anaesthesia. Int J Obstet Anesth. 2006;15(4):317–319.