Peran Plasmafaresis pada Terapi Pasien Sepsis dengan Myasthenia Gravis

*Ahmad Imron -  Bagian Anestesi dan Terapi Intensif/ Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, Indonesia
Dita Aditianingsih -  Bagian Anestesi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia
Yohanes W George -  Bagian Anestesi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia
Published: 1 Nov 2013.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Penelitian
Language: ID
Full Text:
Statistics: 1074 467
Abstract
Pendahuluan : Plasmapheresis berpotensi untuk menghilangkan mediator berbahaya atau beracun dari sirkulasi . Plasmapheresis telah menunjukkan peningkatan keluaran yang bermakna pada penyakit autoimun . Kemanjuran theurapetic dan keamanan plasmapheresis dalam pengobatan pasien di sepsis berat dan syok septik telah dipelajari .

Kasus : Seorang perempuan berusia 18 tahun didiagnosis dengan gagal nafas karena myasthenia gravis dan sepsis berat akibat pneumonia . Dia dirujuk dari rumah sakit lain setelah kegagalan obat antikolinesterase untuk mengobati gejala dari myasthenia gravis. x foto thorax menunjukkan infiltrat di paru-paru kanan paracardial dan basal . Terapi yang diberikan selama di ICU adalah antibiotik , obat-obatan suportif, dan plasmapheresis dilakukan selama 4 kali . Setelah antibiotik yang sesuai diberikan dan plasmapheresis selesai, pasien menunjukkan perbaikan kekuatan otot. Pasien berhasil disapih dari ventilator pada hari ke - 9 , dan kembali ke bangsal di hari - 10 .

Ringkasan : Plasmapheresis memainkan peran penting dalam pengobatan myasthenia gravis dengan sepsis . Plasmapheresis digunakan untuk menghapus berbagai factor pemicu dalam plasma , seperti antibodi , imunoglobulin abnormal dan kompleks imun dalam sirkulasi

 
Keywords
myasthenia gravis; plasmapharesis; terapi intensif

Article Metrics:

  1. Yang KS,Kenpe K, Yamaji K Plasma Adsorption in Critical Care, Ther Apher 2002 6(3):184–188
  2. Siami GA,Siami FS. Membrane Plasmapheresis in the United States: a review over the last 20 years. Ther Apher 2000, 5(4):315–320
  3. Gilhus, NE, Autoimmune myasthenia gravis , Expert Rev. Neurother. 9(3), 351–358 (2009)
  4. Turner C. A review of myasthenia gravis: Pathogenesis, clinical features and treatmet., Current Anaesthesia & Critical Care (2007) 18, 15–23
  5. Throuth AJ, Dabi A, Solieman N. Myasthenia Gravis: A Review. Autoimmune Diseases Volume 2012, Article ID 874680
  6. Simon SS, Challu AP, Chacko RK. Trismus as first presenting complaint in a case of myasthenia gravis. Indian J Dent Res 2011;22:729-30
  7. Rice TW, Gordon RB. Theurapetic intervention and target on sepsis, Annu. Rev. Med. 2005. 56:225-48
  8. American Thoracic Society : Guidelines for the management of adults with hospital acquired, venlator-associated and healthcare-assosiated pnemonia. Am J Respir Crit Care Med 2005;171:388-416
  9. Gelfand EW, Intravenous Immune Globulin in Autoimmune and Inflammatory Diseases, N Engl J Med 2012;367:2015-25
  10. Blaha M,Pit’ha J,Lanska M. Extracorporeal Immunoglobulin Elimination for the Treatment of SevereMyasthenia Gravis. Journal of Biomedicine and Biotechnology, Volume 2010, Article ID 419520
  11. Mandawat A. Outcome of plasmapharesis in Myasthenia Gravis: delayed therapy is not favorable. Muscle Nerve, 2011Apr;43(4):578-84