Faktor Risiko Kebiasaan Tinggal di Rumah Etnis dan Membuang Dahak Sembarang pada Kejadian TB Paru Di Kabupaten Jayawijaya, Papua

Nofi Yigibalom  -  Magister Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Sulistiyani Sulistiyani  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
*Nurjazuli Nurjazuli  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Received: 15 Aug 2018; Revised: 21 Feb 2019; Accepted: 15 Mar 2019; Published: 2 Apr 2019; Available online: 2 Apr 2019.
Open Access Copyright 2019 JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA
License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: ID
Statistics: 1111 1527
Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan yang  menyebabkan kematian pada jutaan orang setiap tahun. Kabupaten Jayawijaya pada 2016 yang diperiksa dahak sebanyak 301 kasus dengan BTA positifnya 64 kasus bila kondisi ini terus meningkat dan berlanjut setiap tahunnya, maka Kabupaten Jayawijaya akan kehilangan manusia yang produktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kebiasaan tinggal di rumah etnis dan membuang dahak  sembarang dengan kejadian TB paru di Kabupaten Jayawijaya.

Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian stu dyobservasional analitik dengan pendekatan case control. Subjek penelitian adalah 100 responden, yang terdiri dari 50 kasus terdiagnosis TB paru BTA positif dan 50 kontrol yang terdiagnosis BTA negatif. Pengumpulan data: wawancara, observasi langsung dan pengukuran. Analisis statistik dilakukan  menggunakan uji Chi square dengan nilai p <0,05.

Hasil: Hasil Analisis univariat pencahayaan alami dalam  menunjukkan rumah rata-rata kasus 23,95 lux  dan  kontrol 24,20 lux, kelembaban rumah rata-rata 52,38 %,  kontrol 51,59%,, suhu  rumah rata-rata  kasus 27,490C,kontrol 27,260C. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan kebiasaan tinggal dirumah etnis honai dengan OR = 2,667 dan kebiasaan membuang dahak sembarang dengan OR = 4,750.

Simpulan: Kebiasaan membuang dahak sembarang, dan kebiasaan tinggal di rumah etnis merupakan faktor risiko kejadian TB paru. Maka perlu adanya sosialisasi terkait faktor risiko kejadian TB terhadap penderita dan  masyarakat umum, serta perlu adanya perbaikan lingkungan fisik rumah dan sanitasi rumah.

 

ABSTRACT

Title: Risk Factors For Habitual Living in Ethnic House and  Sputum Spit the  Pulmonary  TB Jayawijaya District, Papua

Background : Tuberculosis of the lung is still a health problem that causes death to millions of people every year. Jayawijaya in 2016 examined 301 sputum smear positive cases with 64 cases if this condition continues to increase and continues each year, then the Jayawijaya Regency will lose a productive human being. This study aims to analyze the relationship between ethnic home stay habits and throw sputum arbitrarily with the incidence of pulmonary TB in Jayawijaya District.

Methods : This research is an observational analytic study with case control approach. The subjects were 100 respondents, consisting of 50 cases diagnosed with positive smear pulmonary tuberculosis and 50 controls diagnosed with smear negative. Data collection: interviews, direct observation and measurement. Statistical analysis was performed using Chi square test with p value < 0,05.

Results: The results of the univariate analysis showed that natural lighting in the house the average cases of 23,95 lux and control 24,20 lux, the average humidity of the house was 52,38%, control 51,59% ,, the average house temperature was 27,490C, control 27,26 0C. Bivariate analysis showed that there was an association of habitual residence of ethnic homes honai with OR = 2,667 and spiraling habit of spitting with OR = 4,750

Conclusion: The habit of sputtering any sputum, and the habit of living in ethnic homes is a risk factor for pulmonary TB incidence. So the need for socialization related risk factors for TB incidence of patients and the general public, and the need for improvement of the physical environment of home and sanitation.

Keywords: Faktor risiko; Rumah Etnis; Perilaku; TB paru (Risk Factors; Ethnic House; Behavior; Pulmonary TB)

Article Metrics:

  1. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2016. Switzerland; 2016.
  2. Turner RD, Bothamley GH. Cough and the transmission of tuberculosis. Journal Infection Dis. 2015;211(9):1367–72.
  3. World Health Organization. Tuberculosis Report . 2015.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Kementerian Kesehatan RI, editor. 2016.
  6. Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya. Laporan Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) Tahun 2014-2016. Wamena; 2017.
  7. Ayomi AC, Setiani O, Joko T. Faktor Risiko Lingkungan Fisik Rumah Dan Karakterisik Sebagai Determinan Kejadian penyakit Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Sentani Kabupaten Jayapura Propinsi Papua. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2012;11 (1):1–8.
  8. Sayuti J. Asap Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Kejadian TB Paru BTA Positif Analisis Spasial Di Kabupaten Lombok Timur. Semin Nas Informati Medis. 2013;4 (1):13–23.
  9. Khaliq A, Khan I H, Akhtar M W CMN. Enviromental Risk Factors and Social Determinants of Pulmonary Tuberculosis in Paksitan. Epidemiologi Open Access. 2015;5:201.
  10. Manalu H S P. Faktor- Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Kejadian TB Paru Dan Penaggulangannya. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2010;9 (4):1340–6.
  11. Mutassirah, Sulislawati A, Ibrahim AI. Analisis Spasial Kejadian Tuberkulosis di Dataran Rendah Kabupaten Gowa. Hig Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2017;3(3):145–51.
  12. Notoatmodjo s. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Prinsip – Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta; 2003. 329-36.
  13. Naben AX, Suhartono, Nurjazuli. Kebiasaan Tinggal di Rumah Etnis Timor Sebagai Faktor Risiko Tuberkulosis Paru. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2013;12(1):10–21.
  14. Achmadi UF. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia(UI-Press); 2010.
  15. Srivastava K, Kant S, Verma A. Role of Environmental factors in Transmission of Tuberculosis. Dyn Hum Heal Dyn Hum Heal. 2015;2 (4):2382–1019.
  16. Anggraeni SK, Mursid Raharjo, Nurjazuli. Hubungan Kualitas Lingkungan Rumah dan Perilaku Kesehatan Dengan Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Gondanglegi Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang 2014. Jurnal Kesehatan Masyarakat . 2015;3 (1):556–68.
  17. Surakhmi O, Rini M, Suci D. Analisis Faktor Risiko Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Kertapati Palembang. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2016;1.
  18. Heriyani Farida, Sutomo Heru A SDY. Risk Factor Of The Incidence Of Pulmonary Tuberculosis in Banjarmasin City,Kalimantan Indonesia. International Journal of Public Health Science. 2013;2(1): 1-6.
  19. Corburn J, Hilde CB. Slum Sanitation And the Social Determinants of Women’s Health In Nairoba Kenya. Journal of Enviromental Public Health. 2015;1:1–6.
  20. Departeman Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.829/MENKES/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Jakarta; 1999.
  21. Kotouki A. Gambaran Perilaku Penderita dan Risiko Tuberkulosis BTA Positif dengan Kepatuhan Minum Obat dan Kebiasaan Membuang Dahak Di Wilayah Puskesmas Ciomas Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. 2012;
  22. Hidayat R, Bahar H, Ismail CS. Skrining Studi Epidemiologi Penyakit Tuberculosis Paru Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kendari Tahun2017. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat. 2017;2 (6).
  23. Suluh G D. Analisis Faktor Lingkungan Fiski Dalam Rumah dan Praktik Pencegahan Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru di Kecamatan Kota Lama dan Kecamatan Kepala Lima Kota Kupang. Universitas Diponegoro; 2012.
  24. Wulandari AA, Nurzajuli, Adi MS. Faktor Risiko dan Potensi Penularan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2015;14(1):7–13.
  25. Manangsang F, Arsunan AA, Hatta Mochammad, Nurdin A A AA. Behavior Model Analysis and Risk Factors of Pulmonary Tuberculosis Transmission of Honai Residents in Wamena, Jayawijaya District, Papua. International Journal Science Appl Res. 2016;30 (3): 209-221.
  26. Anggraeni S D. Stop Tuberkulosis. Bogor: Penerbit Publishing House; 2011. 1-40.