Melestarikan dan Mengembangkan Warisan Budaya: Kebijakan Budaya Semarangan Dalam Perspektif Sejarah

DOI: https://doi.org/10.14710/jscl.v2i1.14606
Copyright (c) 2017 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 24-04-2017
Published: 20-06-2017
Section: Articles
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author

Semarang has developed as a diverse city. The communities who lived in Semarang history has produced a hybrid culture patterned Semarang which in the next time become as "Semarangan culture". At that time of Indonesia's independence there is awareness to preserve the cultural heritage of Semarangan either by local governments and communities of Semarang. The preservation and development cultural heritage of Semarangan continues which among other things aims to establish a cultural identity for the community and theie city. However, such efforts have not been able to achieve the expected results, because the Semarangan culture is less able to perform in a stage of cultural life in their own city and national culture.

Keywords

Cultural heritage, performing arts, tradition ceremony, cultural policy

  1. Dhanang Respati Puguh  Scholar
    Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
  1. Bogaerts, Els (2011). “’Kemana Arah Kebudajaan Kita’, Menggagas Kembali Kebudayaan di Indonesia pada Masa Dekolonisasi”, dalam Jennifer Lindsay dan Maya H.T. Liem, ed. Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia, 1950-1965. Denpasar-Jakarta: Pustaka Larasan dan KITLV.
  2. Hellman, Joergen (1999). “Longser Antar Pulau: Indonesian Cultural Politics and the Revitalisation of Traditional Theatre”. Department of Social Anthropology University Goteborg, Sweden.
  3. Jones, Tod (2005). “Indonesian Cultural Policy, 1950-2003: Culture, Institutions, Government”. Thesis is presented for the Degree of Doctorate of Philosophy of Curtin University of Technology Perth.
  4. Lindsay, Jennifer (1995). “Cultural Policy and the Performing Art in Southeast Asia”, Bijdragen Toot de Taal-, Land-en Volkenkunde, Deel 151, 4e Aflevering.
  5. Parani, Julianti (2011). Seni Pertunjukan Indonesia: Suatu Politik Budaya. Jakarta: Penerbit Nalar-Kajian Seni Pertunjukan Institut Kesenian-Kelola.
  6. Puguh, Dhanang Respati, dkk. (2009). “Laporan Akhir Naskah Akademik tentang Pelestarian, Pengembangan, dan Pemanfaatan Seni dan Upacara Tradisi di Kota Semarang”. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.
  7. Puguh, Dhanang Respati dkk. (1998/1999). “Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang”. Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi Direktorat Denderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun I.
  8. ______________ (1999/2000). “Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang”. Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi Direktorat Denderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun II.
  9. Puguh, Dhanang Respati, dkk. (2003). “Sosialisasi dan Pelatihan Hasil Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya untuk Menunjang Pariwisata di Kota Semarang”. Laporan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Program IPTEKS Direktorat Pembinaan dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  10. Puguh, Dhanang Respati (1995). “Seni Pertunjukan Gambang Semarang: Sebuah Rekonstruksi oleh Tim Fakultas Sastra Universitas Diponegoro”. Makalah Lokakarya Kesenian Gambang Semarang yang diselenggarakan atas kerja sama antara Fakultas Sastra Undip – Dewan Kesenian Jawa Tengah – Akademi Pariwisata, 14 November 1995.
  11. ______________ (2013). “Generasi Muda dan Gambang Semarang”. Makalah Sarasehan Seni Kota Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang di Balaikota Semarang pada 6 November 2013.
  12. ______________ (2015). “Mengagungkan Kembali Seni Pertunjukan Tradisi Keraton: Politik Kebudayaan Jawa Surakarta 1950an-1990an”. Disertasi pada Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
  13. Rochwulaningsih, Yety, Dhanang Respati Puguh, Mahendra Pudji Utama (2010). “Penulisan dan Pengkajian Upacara Tradisional di Kota Semarang”. Seksi Nilai Budaya Bidang Nilai Budaya Seni dan Film Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
  14. Selayang Pandang Kota Semarang (Glance of Semarang City) (2008). Semarang: Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Semarang.
  15. Tata Cara Upacara Pengantin Gaya Semarangan. (2009). Semarang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.
  16. Utama, Mahendra Pudji dan Dhanang Respati Puguh (2013). “Bertahan di Tengah Badai: Seni Pertunjukan Tradisi Semarangan”, dalam Dhanang Respati Puguh, dkk., Membedah Sejarah dan Budaya Maritim, Merajut Keindonesiaan. Semarang: Program Magister Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Tengah, UPT Undip Press.
  17. Yuliati, Dewi (2009). Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.