skip to main content

Tontonan, Tatanan, dan Tuntunan: Seni Pertunjukan Kuda Lumping di Kecamatan Bejen, Temanggung, 1965-1998

*Florentinus Galih Adi Utama orcid  -  Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Jl. STM Pembangunan No. 12, Mrican, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55281, Indonesia
J.B. Judha Jiwangga  -  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Indonesia
Eko Hari Parmadi  -  Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Kuda lumping is a form of folk performance that is deeply embedded in the lives of Javanese communities. In Bejen Subdistrict, Temanggung Regency, this performance tradition functions not only as popular entertainment but also as an integral part of everyday social life, developing distinctive characteristics that differentiate it from kuda lumping in other regions. In this area, at least three variants of kuda lumping dance movements are recognized: the classical-religious variant, the variant established through the 1972 consensus of the Regional Cultural Inspection Office (Idakeb) of Temanggung Regency, and the mass-oriented variant. These three variants are often performed together within a single performance repertoire. Despite its rich forms and long historical presence, historical studies that specifically examine the existence and development of kuda lumping performances in Bejen Subdistrict remain very limited. This study aims to reveal the dynamics of the development of kuda lumping performances in Bejen Subdistrict, Temanggung, while highlighting local inspirations that have shaped the cultural life of the community. A historical method is employed by placing written primary sources on an equal footing with oral traditions and traditional Javanese historiography, particularly Serat Kramaleya, a Javanese-language manuscript written in 1922 that contains descriptions of kuda lumping performances of its time. The findings indicate that kuda lumping performances in Bejen Subdistrict emerged alongside the development of Javanese-Islamic culture in Temanggung. Political upheavals following the events of the 30 September Movement in 1965 temporarily halted these artistic activities. However, in the subsequent period, kuda lumping experienced significant development. The formalization of kuda lumping dance concepts by the Temanggung Idakeb in 1972 marked a new phase, in which the art form came to function not only as entertainment but also as a medium for transmitting local wisdom and providing social education for the community.

Fulltext View|Download
Keywords: Kuda Lumping; Folk Performance; Non-Court Javanese Arts; Cultural Dynamics; Bejen Subdistrict

Article Metrics:

  1. “Kajawen.” 1937, Januari 13, 1937
  2. “Pusaka Jawi.” 1926, April 4, 1926
  3. Carey, Peter. 2017. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Jakarta: Kompas
  4. Cribb, Robert. 1990. The Indonesian Killings of 1965-1966: Studies from Java and Bali. Australia: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University
  5. Danandjaja, James. 1982. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, Dan Lain-Lain. Jakarta: Grafitipers
  6. H’Doubler, Margaret N. 1959. A Creative Art Experience . Medison: University of Wisconsin Press
  7. Halo Semarang. 2022. “Seribu Pelajar di Temanggung Serentak Tarikan Kuda Lumping.” https://halosemarang.id/seribu-pelajar-di-temanggung-serentak-tarikan-kuda-lumping/
  8. Hardiarini, C. and Firdhani, A.M., 2022. Kesenian Kuda Lumping: Tinjauan Studi Multiperspektif. Indonesian Journal of Performing Arts Education, 2(1): 15-19. https://doi.org/10.24821/ijopaed
  9. Hartono, H. dan Lanjari, R., 2018. Kuda Lumping Dance as Learning Media to Fulfill Aesthetical and Expression Development of Young Children. Art and Disegn Studies, 69: 55-65. https://www.iiste.org/Journals/index.php/ADS/article/view/44492
  10. Humardani, S.D. 1983. Kumpulan Kertas Tentang Tari. Surakarta: STSI Press
  11. Ibda, Hamidulloh dan Intan Nasution. 2019. “Strategi Grup Gagak Rimang dalam Melestarikan Seni Kuda Lumping di Temanggung.” Jantra, 14(2): 159-170
  12. Irawati, Eli dan Ni Kadek Rai Dewi Astini. 2023. “Pembinaan Seni Pertunjukan Desa Candisari, Bansari, Temanggung, Jawa Tengah.” Jurnal Pengabdian Seni, 4 (2): 131-140
  13. Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
  14. Kuntowijoyo. 2018. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana
  15. Kussudiardja, Bagong. 1992. Dari Klasik hingga Kontemporer. Yogyakarta: Padepokan Press
  16. Margana, Sri. 2004. Pujangga Jawa Di Bawah Bayang-Bayang Kolonial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  17. Pemerintah Kabupaten Temanggung. 2022 “Ribuan Seniman Temanggung Bakal Meriahkan Pawai Seni Merdeka.” https://mediacenter.temanggungkab.go.id/frontend/d_berita/4744
  18. Pemerintah Kabupaten Temanggung. Tanpa tahun. “Kegiatan Pentas Seni Malam 1 Suro.” https://congkrang-bejen.temanggungkab.go.id
  19. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 2017. “1.000 Penari Jaran Kepang Bakal Meriahkan Sedekah Turangga Bhumi.” https://jatengprov.go.id/publik/1-000-penari-jaran-kepang-bakal-meriahkan-sedekah-turangga-bhumi/
  20. Pigeaud, Th. 1938. “Javaanse Volksvertoningen.” In Bijdragen Tot de Beschrijving van Land En Volk. Nederlands: Volkslectuur
  21. Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij
  22. Rokhim, N., 2018. Inovasi Kesenian Rakyat Kuda Lumping di Desa Gandu, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari, 17(1)
  23. Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September Dan Kudeta Suharto. Jakarta: Hasta Mitra
  24. Southwood, Julie, and Patrick Flanagan. 2013. Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981. Depok: Komunitas Bambu
  25. Sujarno. 2003. Seni Pertunjukan Tradisional: Nilai, Fungsi, dan Tantangannya. Yogyakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
  26. Sujud, P.J. Slamet. 2007. “Kajian Historis Legenda Reog Ponorogo.” Jurnal Bahasa dan Seni 35 (1)
  27. Sumanto, Edi. 2022. “Filosifis Dalam Acara Kuda Lumping.” Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora 5 (1): 42–49. https://doi.org/10.31539/kaganga.v5i1.3758
  28. Suradipura. 1905. Serat Ardakandha
  29. Susanti, Sri, and Budi Wahyu Kurniawan. 2020. “Religious Value in Kuda Lumping Dance.”
  30. Vansina, Jan. 2014. Tradisi Lisan Sebagai Sumber Sejarah. Yogyakarta: Ombak
  31. Wreksawijaya. 1909. Serat Kramaleya. Surakarta: N.V. Mij t/v d.z. Albert Rusche & Co

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-01-07 23:58:10

No citation recorded.