skip to main content

Pemaknaan Gerakan Maskulin pada Ibing Pencug: Sebuah Telaah Historis

*Asep Saepudin orcid scopus publons  -  Program Studi S1 Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Ela Yulaeliah  -  Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Mukhammad Agus Burhan  -  Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Citation Format:
Abstract

This research has two objectives. First, it analyzes the meaning of pencug dance in relation to the artists’ history, social background, and cultural context. Second, it explores how functional art theory can be applied to study pencug performances. Pencug dance is an improvisational form performed in Karawang-style Jaipongan. It is unique because, although performed by female dancers, it exhibits a masculine character, unlike Bandung-style Jaipongan, which typically reflects feminine traits. The study employs a historical method combined with Erwin Panofsky’s iconographic-iconological approach, including field and library research (heuristics), criticism, interpretation, and historiography. The research was conducted in Karawang, West Java, using the Namin Group as the sample. The findings show that Panofsky’s theory can analyze performing arts through three stages. First, the pre-iconographic description focuses on the textual aspects of pencug dance movements, highlighting the masculine style typical of Karawang performances. Second, iconographic analysis examines themes and concepts, revealing a populist theme and a focus on improvisation and spontaneity. Third, iconological interpretation considers the symbolic meaning of pencug dance, informed by the artists’ experiences and the historical and cultural background of the Karawang community. The study concludes that the masculine character of pencug dance originates from the self-defense practices of the Karawang jawara. Historically, these warriors developed agility, combat skills, and expertise in machetes, martial arts, and Pencak Silat to respond to disturbances during the royal, colonial, and post-independence periods. These self-defense techniques later transformed into pencug dance movements, such as kepret, tajong, gunting, pasang, pukul, tendang, siku, and tangkis, which became integral to Karawang-style Jaipongan.

 

Fulltext View|Download
Keywords: Pencug Dance; Jaipongan; Iconography; Iconology; Masculine Character; Indonesian Performing Arts.

Article Metrics:

  1. Andiana, D. 2022a. "Citra Perempuan Sunda dalam Tari Jaipongan Kawung Anten Karya Gugum Gumbira." Jurnal Belaindika (Pembelajaran dan Inovasi Pendidikan) 4(1): 1–9
  2. https://doi.org/10.52005/belaindika.v4i1.92
  3. Andiana, D. 2022b. "Citra Perempuan Sunda dalam Tari Jaipongan Kawung Anten Karya Gugum Gumbira." Jurnal BELAINDIKA (Pembelajaran dan Inovasi Pendidikan) 21(1): 73–93
  4. https://doi.org/10.52005/belaindika.v4i1.92
  5. Anugrah, Ilam, Trianti Nugraheni, dan T. Taryana. 2021. "Konstruksi Laki-Laki Sunda dalam Tari Pencug Bojong Karya Gugum Gumbira." Ringkang 2(1): 45–56
  6. Azis, A. 2007. "Pencug Merupakan Kreativitas Tari Jaipong." In Gugum Gumbira Dari Chacha Ke Jaipongan, edited by Endang Caturwati and Lalan Ramlan. Bandung: Sunan Ambu Press STSI Bandung
  7. Durban, I. 2010. "The New Wave of Jaipongan Dance." Balungan: 37–42
  8. Feltman, C. E., and D. M. Szymanski. 2018. "Instagram Use and Self-Objectification: The Roles of Internalization, Comparison, Appearance Commentary, and Feminism." Sex Roles 78(5–6): 311–324. https://doi.org/10.1007/s11199-017-0796-1
  9. Fitria Ningsih, W. 2024. "Perempuan dan Ketahanan Pangan (Rumah Tangga) pada Masa Revolusi." Jurnal Sejarah Citra Lekha 9(1)
  10. Garaghan, S. J., G. J. 1995. A Guide to Historical Method (Sebuah Penuntun untuk Metode Sejarah). Terj. Abdul Azis dkk. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
  11. Garaghan, G. J. 1957. A Guide to Historical Method. New York: Fordham University Press
  12. Gill, R. 2017. "The Affective, Cultural and Psychic Life of Postfeminism: A Postfeminist Sensibility 10 Years On." European Journal of Cultural Studies 20(6): 606–626. https://doi.org/10.1177/1367549417733003
  13. Goleman, et al. 2019. "Erotic Triangles: Sundanese Men’s Improvisational Dance in West Java, Indonesia." Journal of Chemical Information and Modeling 53(9): 1689–1699
  14. Gottschalk, L. 1985. Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Tas Indonesia Press
  15. Hamid, N. 1976. "Banjet: Teater Rakyat Jawa Barat Bercikal Bakal Para Pendekar." Buletin Kebudayaan Jawa Barat 30
  16. Herdiani, E. 1999. "Bajidoran Sebagai Pertunjukan Hiburan Pribadi pada Masyarakat Karawang: Kontinuitas dan Perubahannya." Master’s thesis, Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Fakultas Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  17. Herdiani, E. 2017. "Dynamics of Jaipongan on West Java from 1980 to 2010." Asian Theatre Journal 34(2): 455–473
  18. https://doi.org/10.1353/atj.2017.0032
  19. Husain, S. B., L. Puryanti, and A. Setijowati. 2021. "Komunitas Berbaju Hitam: Sejarah, Perempuan, dan Pendidikan dalam Masyarakat Adat Tana Towa Kajang, Sulawesi Selatan." Jurnal Sejarah Citra Lekha 6(1): 57–67
  20. https://doi.org/10.14710/jscl.v6i1.38335
  21. Imadudin, I. 2018. "Revolusi dalam Revolusi: Tentara, Laskar, dan Jago di Wilayah Karawang 1945–1947." Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya 10(1): 35–50
  22. Irfani, F. 2011. Jawara Banten: Sebuah Kajian Sosial, Politik, dan Budaya. Jakarta: YPM Press
  23. Kuntowijoyo. 1994. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya
  24. Kurniawan, G. F., W. Warto, and L. A. Sutimin. 2019. "Dominasi Orang-Orang Besar dalam Sejarah Indonesia: Kritik Politik Historiografi dan Politik Ingatan." Jurnal Sejarah Citra Lekha 4(1): 36. https://doi.org/10.14710/jscl.v4i1.21576
  25. Mandasari, N. 2023. "Peran Politik Perempuan dalam Perspektif Gender." Ebisma (Economics, Business, Management, & Accounting Journal) 3(2): 133–143. https://doi.org/10.61083/ebisma.v3i2.38
  26. Marlianti, M., A. I. Saidi, and A. H. Destiarmand. 2017. "Pergeseran Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan Tahun 1980–2010." Panggung 27(1). https://doi.org/10.26742/panggung.v27i1.233
  27. Martin, J. R., and E. Panofsky. 1958. "Meaning in the Visual Arts." The Art Bulletin 40(2): 159. https://doi.org/10.2307/3047766
  28. Melamba, B. 2020. "Perempuan dan Kekristenan pada Masyarakat Tolaki dan Moronene di Sulawesi Tenggara, 1915–1946." Jurnal Sejarah Citra Lekha 5(2): 87–97. https://doi.org/10.14710/jscl.v5i2.31139
  29. Putri, A. S., and P. P. Anzari. 2021. "Dinamika Peran Ganda Perempuan dalam Keluarga Petani di Indonesia." Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) 1(6): 757–763. https://doi.org/10.17977/um063v1i6p757-763
  30. Rahmaputri, H. A. Z., A. Budiman, and T. Taryana. 2024. "Ibing Pencug Gaya Kaleran Kabupaten Karawang." Ringkang: Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari 4(3): 548–559. https://doi.org/10.17509/ringkang.v4i3.77527
  31. Ramlan, L., and J. Jaja. 2019. "Estetika Tari Réndéng Bojong Karya Gugum Gumbira." Panggung 29(4). https://doi.org/10.26742/panggung.v29i4.1048
  32. Rosala, D., A. Supriyatna, and A. I. Suryawan. 2018. "Pencugan Ibing Penca Topeng Pendul Kabupaten Karawang." Panggung 28(1): 16–32. https://doi.org/10.26742/panggung.v28i1.411
  33. Rottenberg, C. 2017. "Neoliberal Feminism and the Future of Human Capital." Journal of Women in Culture and Society42(2)
  34. Ruchimat, I., R. M. Soearsono, T. Haryono, and T. Narawati. 2013. "Laras dan Rumpaka dalam Garap Karawitan Jaipongan Jugala." Panggung: Jurnal Seni dan Budaya 23: 434–442
  35. Rumbekwan, M., and N. A. Tanamal. 2023. "Peran Perempuan dalam Ketahanan Nasional." Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja 48(2): 203–212
  36. https://doi.org/10.33701/jipwp.v48i2.3081
  37. Saepudin, A. 2023. "The Mythical Construction of Masculinity in Arena Bajidoran Namin Group as a Special Gender Order." JUSA: Jurnal of Urban Society’s Arts 10(2)
  38. Saepudin, A. 2024. Ibing Pencug as a Play
  39. Santi, H. W., and N. M. Arshiniwati. 2018. "Gandrung Marsan: Eksistensi Tari Gandrung Lanang di Banyuwangi." Kalangwan 4(2): 87–95
  40. Simatupang, L. 2013. Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni Budaya. Yogyakarta: Jalasutra
  41. Soedarsono, R. M. 1997. Wayang Wong: Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  42. Soedarsono, R. M. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  43. Sundapura, A. 2016. Membongkar Sejarah Karawang. Karawang: Lembaga Kajian Budaya Sundapura
  44. Sundapura, A. 2017. Getih Karawang: Sejarah Berdirinya Kabupaten Karawang Versi Terbaru dan Terlengkap. Karawang: Sundapura Foundation
  45. Suryaman, A. 2019. "Ibing Saka: Telaah Kreativitas Namin dalam Bajidoran." Jurnal Seni Makalangan 6(212): 22–28
  46. Tim Penyusun. 1981. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Daerah
  47. Windrowati, T. 2018. "Gandrung Temu: Peran Perempuan dalam Kehidupan Seni Pertunjukan." Panggung 28(3). https://doi.org/10.26742/panggung.v28i3.480
  48. Wirandi, R., and F. F. Sukman. 2022. "Power Perempuan dalam Tradisi Musik Becanang di Bener Meriah." Gorga: Jurnal Seni Rupa 11(2): 572. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.40085
  49. Wolff, J. 1981. The Social Production of Art. New York: St. Martin’s
  50. Yuliawati, S. 2018. Kajian Linguistik Korpus dan Semiotik Perempuan Sunda dalam Kata. Bandung: PT Refika Aditama
  51. Zahrok, S., and N. W. Suarmini. 2018. "Peran Perempuan dalam Keluarga." IPTEK Journal of Proceedings Series 5: 61. https://doi.org/10.12962/j23546026.y2018i5.4422

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-01-31 20:02:11

No citation recorded.