Editorial

*Rabith Jihan Amaruli scopus  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 18 Mar 2019; Published: 18 Mar 2019.
Open Access Copyright (c) 2019 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

Editorial JSCL edisi kali ini mengangkat tiga isu utama, yakni historiografi dalam balutan politik ingatan, identitas kota, dan warisan budaya. Historiografi adalah proses rekonstruksi sejarah dengan asumsi bahwa masa lampau sebagai aktualitas adalah sebuah konstruksi sebagai hasil dari proses-proses sosial dengan segala kompleksitasnya (Garraghan, 1957: 396). Sejak karya Bambang Purwanto (2006) berjudul Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! mewarnai diskursus historiografi Indonesia, sejarawan mulai mempertanyakan kembali atau setidaknya menggagas kembali, historiografi Indonesiasentris yang dianggap gagal menyajikan realitas historis yang “manusiawi”. Senada dengan gagasan Purwanto, Singgih Tri Sulistiyono (2016) menggugat ketidakmampuan historiografi Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam memecahkan persoalan bangsa. Hal ini karena, masih menurut Sulistiyono, disebabkan oleh keterbelengguan pada formalisme metodologi dan epistemologi serta oleh sikap kurang berani sejarawan untuk menggugat realitas kekinian.

Article Metrics:

  1. Garraghan, Gilbert J. (1957). A Guide to Historical Method. New York: Fordham University Press.
  2. Maarif, Syafii. (2010). “Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Indonesia” dalam Ihsan Ali-Fauzi dan Samsu Rijal Panggabean. 2010. Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Indonesia. Jakarta: Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Wakaf Paramadina.
  3. Purwanto, Bambang (2006). Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! Yogyakarta: Ombak.
  4. Sulistiyono, Singgih Tri (2016). “Historiografi Pembebasan: Suatu Alternatif”. Jurnal Agastya, Vol. 6 (1): 9-24.