Aplikasi Penginderaan Jauh dan EPA-SWMM untuk Simulasi Debit Banjir Akibat Perubahan Lahan Sub DAS Banjaran

DOI: https://doi.org/10.14710/teknik.v38i2.13804

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Telah diserahkan: 28-03-2017
Diterbitkan: 02-01-2018
Bagian: FULL ARTICLE
Fulltext PDF Tell your colleagues Kirim email ke penulis

Tataguna  lahan  di  Sub  Daerah  Aliran  Sungai  (DAS)  Banjaran  telah mengalami perubahan yang cukup tinggi selama  kurun  waktu  1995  sampai  2001. Lahan sawah berkurang 1.759,28 hektar menjadi 1.603,97 hektar, tegalan berkurang  289,54 hektar menjadi 283,32 hektar dan permukiman bertambah 1.284,36  hektar menjadi 1.445,88 hektar. Alih fungsi lahan ini mengakibatkan banjir sering terjadi. Beberapa kali Sungai Banjaran meluap menyebabkan banjir di permukiman dan ruas jalan. Kajian pengaruh perubahan lahan terhadap debit banjir perlu dilakukan sehingga peningkatan debit banjir dapat dikendalikan.Tujuan penelitian ini menganalisis debit banjir secara periodik sesuai dengan perubahan tata guna lahan yang terjadi berdasarkan data hidrologi dan parameter DAS. Perhitungan debit banjir dilakukan dengan kalibrasi Environmental Protection Agency – Storm Water Management Model( EPA-SWMM), yaitu metode Hidrograf Observasi (debit terukur) yang  dikalibrasi dengan metode Nash. Analisis perubahan lahan menggunakan peta tataguna lahan tahun 2005, Citra Satelit Quick Bird tahun 2010 dan 2014 yang berbasis Geography Information System (GIS). Penggunaan citra satelit resolusi tinggi Quick Bird  memenuhi ketepatan dalam menentukan daerah impervious dan pervious sertamorfometri DAS sebagai parameter utama dalam input EPA-SWMM. Model yang telah terkalibrasi digunakan untuk simulasi debit rencana  sampai periode ulang  50  tahun.Perubahan  lahan  selama tahun  2005-2014  permukiman meningkat sebesar 10,98 ha (2,39 %), luas hutan menurun 1,67 ha (0,07%), telah mengakibatkan kenaikan debit banjir Q2  sampai Q50  tahun. Besarnya debit dan kenaikannya berturut-turut sebagai berikut : Q2  tahun sebesar 3,08 m3/dtk (2,16 %), Q5 tahun sebesar 3,5 m3/dtk (1,87 %), Q10 tahun sebesar 3,72 m3/dtk (1,7 %), Q25 tahun sebesar 3,94 m3/dtk (1,60 %) dan Q50 tahun sebesar 4,13 m3/dtk (1,50 %).  Volume banjir terjadi peningkatan yakni: Q2 tahun sebesar 0,57 % (10. 106 ) liter, Q5 tahun sebesar 0,45 % (12.106 ) liter, Q10 tahun sebesar 0,42 % (13. 106) liter, Q25 tahun sebesar 0,33 % (12.106) liter dan Q50 tahun sebesar 0,35 % (14.106) liter. Usaha pengendalian banjir pada periode ulang 50 tahun (Q50) yang disimulasikan mampu menurunkan debit banjir antara lain : penegakkan hukum  sebesar 14,43 m3/dtk (5 %), embung sebesar 20,9 m3/dtk  (7,1 %) dan sumur resapan sebesar 31,18 m3/dtk (10,73 %). Skenario RTRW sebesar 26,3 m3/dtk (9,05 %), kombinasi sumur resapan dan penegakan hukum sebesar 45,92 m3/dtk (15,81 %) dan kombinasi embung dan penegakan hukum sebesar 40,58 m3/dtk (13,97 %). Dari hasil simulasi diperoleh pembuatan sumur resapan, kombinasi sumur resapan dan penegakan hukum, kombinasi embung dan penegakan hukum mampu menurunkan debit banjir sampai pada Q25

Kata Kunci

Citra Quick Bird; Debit Banjir; Embung; EPA- SWMM; Sumur Resapan

  1. Mohammad Lutfi Ariwibowo 
    Departemen Teknik Sipil, Universitas Diponegoro, Indonesia
  2. S Suripin 
    Departemen Teknik Sipil, Universitas Diponegoro, Indonesia
  3. Pranoto Samto Atmojo 
    Departemen Teknik Sipil , Universitas Diponegoro
  1. Abadi Purwa Citra. (2009). Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Banyumas Tahun 2009. Purwokerto.
  2. Departemen Kehutanan (2009). Peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Nomor P.04/V-SET/2009 tanggal 05 Maret 2009 tentang pedoman Monitoring dan Evaluasi DAS. Jakarta: Departemen Kehutanan.
  3. Dienaulie, A. (2011). Pengaruh Pembangunan Hotel Imperium Aston Terhadap Perubahan Harga Lahan Di Pusat Kota Purwokerto, Skripsi. Fakultas Teknik, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro.
  4. Moriasi, D.N., Arnold, J.G., Van Liew, M.W., Binger, R.L., Harmel, R.D., and Veith, T.L. (2007). Model Evaluation Guidelines for Systematic Quantification of Accuracy in Watershed Simulations. Transactions of the ASABE, 50(3), 885-900.
  5. Pikiran Rakyat. (2009). Ratusan Rumah di Purwokerto Terendam Banjir. Tersedia di http://www.pikiranrakyat.com/nasional/2009/06/04/90700/ratusan-rumah-di-purwokerto-terendam - banjir. Diakses 11 Desember 2015.
  6. Suripin (2004). Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  7. Suroso, Susanto, H.A. (2006). Pengaruh Perubahan Tataguna Lahan Terhadap Debit Banjir Daerah Aliran Sungai Banjaran. Jurnal Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman. 3(2), 75 – 80.
  8. Triatmodjo, B. (2010). Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.