Penurunan Intensitas Hujan Ekstrem di Bengawan Solo Hilir dan Hubungannya dengan ENSO

*Heri Mulyanti  -  Universitas Bojonegoro, Indonesia
Received: 16 Nov 2019; Published: 29 Apr 2020.
DOI: https://doi.org/10.14710/jil.18.1.73-81 View
Peta Tren Hujan Ekstrem P95
Subject
Type Research Instrument
  View (6MB)    Indexing metadata
Tabel Tren P99
Subject
Type Research Results
  Download (19MB)    Indexing metadata
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Article
Language: ID
Statistics: 424 90
Abstract

Perubahan suhu global dapat mengubah sistem iklim, terutama presipitasi melalui peningkatan konveksi. Kondisi tersebut berpotensi terhadap kenaikan intensitas dan frekuensi hujan ekstrem. Hujan ekstrem merupakan sebab dari bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan kekeringan. Selain itu, pemanasan global berakibat pada El Nino/ Southern Oscillation (ENSO) dengan durasi kala ulang lebih pendek. ENSO berpengaruh terhadap iklim di sekitar wilayah monsunal Indonesia, terutama bagian timur.  Jawa bagian timur mengalami kekeringan ekstrem ketika ENSO positif kuat. Penelitian ini bertujuan untuk: a) mengidentifikasi perubahan curah hujan ekstrem di Bengawan Solo Hilir tahun 1979-2017; b) menjelaskan kejadian hujan ekstrem saat fenomena ENSO (El Niño/ Southern Oscillation). Penelitian menggunakan data curah hujan harian dari 16 stasiun hujan di Bengawan Solo Hilir mulai 1979 – 2017 (39 tahun) yang telah diuji homogenitas dan konsistensi. Data tersebut digunakan untuk memperoleh indeks ekstrem hujan berupa Rx1hari, Rx5hari, P95, P99, dan intensitas hujan harian. Tren hujan monotonik dihitung menggunakan statistik Mann-Kendall, adapun besarnya perubahan dianalisis menggunakan uji Sen’s slope. Hubungan antara hujan ekstrem dengan kejadian ENSO diketahui berdasarkan nilai korelasi Spearman-rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar stasiun hujan bagian timur-selatan mengalami penurunan hujan ekstrem berupa Rx1hari, P95, dan intesitas hujan harian (tren negatif) justru pada puncak musim hujan (Desember – Januari – Februari) dan transisi penghujan-kemarau (Maret-April-Mei). Penurunan hujan harian maksimum (Rx1hari) pada rentang 0,3 mm/tahun hingga 1,1 mm/tahun.  Kejadian ENSO tidak otomatis berakibat pada intensitas hujan ekstrem skala harian. Indeks ENSO dapat digunakan untuk analisis indeks ekstrem dengan skala kumulatif antarmusim maupun antartahun.  Hasil ini mengindikasikan bahwa variabel ENSO lebih tepat digunakan pada analisis kekeringan dan tidak berkaitan erat dengan bencana hidrometeorologi dalam skala pendek seperti banjir maupun banjir bandang.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords: Bengawan Solo Hilir; ENSO; hujan ekstrem; intensitas

Article Metrics:

  1. Aldrian, E. 2008. Dominant Factors of Jakartas Three Largest Floods. J. Hidrosfir Indonesia, 3 (3): 105 – 112. ISSN 1907-1043.
  2. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 2010. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap tahun 2010.
  3. Curtis, S. 2019. Means and Long-Term Trends of Global Coastal Zone Precipitation. Scientific Reports, 9: 5401. DOI: 10.1038/s41598-019-41878-8
  4. ETCCDI. 2017. Climate Change Indices. http://etccdi.pacificclimate.org/list_27_indices.shtml
  5. Goswani, B.N., V. Venugopal, D. Sengupta, M.S. Madhusoodanan, P.K. Xavier. 2006. Increasing Trend of Extreme Rain Events Over India in a Warming Environment. Science, 314: 1442-1445.
  6. Hidayat, M.D.,N., Indarto, M. Askin, I. Andriyani, Tasliman. 2019. Kecenderungan Hujan Ekstrem di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumberdaya Air di Pasuruan, Jawa Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan Vol. 43 (1) : 21 – 31. ISSN: 1410-7244.
  7. Hidayat, R., dan K. Ando. 2014. Variabilitas Curah Hujan Indonesia dan Hubungannya dengan ENSO/IOD: Estimasi Menggunakan Data JRA-25/JCDAS. Jurnal Agromet Indonesia 28 (1): 1-8. DOI: 10.29244/j.agromet.28.1.1-8
  8. Kementerian Pekerjaan Umum Ditjen Sumber Daya Air BBWS Bengawan Solo. 2019. Wilayah Administratif Bengawan Solo. http: //sda.pu.go.id/bbwsbengawansolo/portal/index.php/wilayah-administratif-2/ diakses pada 24 Desember 2019.
  9. Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2012 tentang Penetapan Wilayah Sungai.
  10. Lestari, S., A. King, C. Vincent, D. Karoly, A. Protat. 2019. Seasonal Dependence of Rainfall Extremes in and around Jakarta, Indonesia. Weather and Climate Extremes 24 : 100202. DOI: 10.1016/j.wace.2019.100202
  11. Pemerintah Daerah Kabupaten Bojonegoro. 2015. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) (Perubahan) 2013 – 2018.
  12. Peterson, T.C. 2005. Climate Change Indices. WMO Bulletin 54: 83-86.
  13. Salmi, T., A. Määttä, P. Anttila, T. Ruoho-Airola, T. Amnell. 2002. Detecting Trends of Annual Values of Atmospheric Pollutans bye the Mann-Kendall Test and Sen’s Slope Estimates – The Excel Template Application Makesens. Finnish Meteorological Institute, Helsinki.
  14. Siswanto, Supari. 2015. Rainfall Changes over Java Island, Indonesia. Journal of Environment and Earth Science 5 (14): 1-9.
  15. Supari, Sudibyakto, J. Ettema, E. Aldrian. 2012. Spatiotemporal Characteristics of Extreme Rainfall Events over Java Island, Indonesia. Indonesian Journal of Geography 44 (1): 62-86. DOI: 10.22146/indo.j.geog.2391
  16. Trenberth, K.E. 2011. Changes in Precipitation with Climate Change. Climate Research 47: 123-138.
  17. Van den Hurk, B, and D. Jacob. 2009. The Art of Predicting Climate Variability and Change. Climate Change Adaptation in the Water Sector: 9-22.
  18. Villafuerte II, M.Q., J. Matsumoto. 2015. Significant Influence of Global Mean Temperature and ENSO on Extreme Rainfall in Southeast Asia. Journal of Climate 28 (5): 1905-1919. DOI: 10.1175/JCLI-D-14-00531.1
  19. Zhang, X., L.V. Alexander, G.C. Hegerl, P. Jones, A. Klein Tank, T.C. Peterson, B. Trewin, F.W. Zwiers. 2011. Indices for Monitoring Changes in Extremes Based on Daily Temperature and Precipitation Data. WIREs Climate Change 2(26): 851 – 870. DOI: 10/1002/wcc.147