Perbandingan Waktu Pemberian Atrakurium Besylate Intravena 0,5 mg/kgbb 5 Detik dan 90 Detik Terhadap Peningkatan Nadi Saat Induksi Anestesi Umum di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang

*Suparno Adi Santika -  Bagian/SMF Anestesi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya/ RSU dr Saiful Anwar Malang, Indonesia
Djujuk Rahmat Basuki -  Bagian/SMF Anestesi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya/ RSU dr Saiful Anwar Malang, Indonesia
Karmini Karmini -  Bagian/SMF Anestesi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya/ RSU dr Saiful Anwar Malang, Indonesia
Received: 16 Sep 2015; Published: 17 Jan 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Penelitian
Language: ID
Full Text:
Statistics: 516 44
Abstract

Latar Belakang : Atracurium besylate, merupakan obat pelumpuh otot nondepolarisasi kelas bisquaternary benzylisoquinolinium yang menghasilkan beberapa efek samping selama uji klinis luas di berbagai penelitian, berupa pelepasan histamin yang dikaitkan dengan refleks takikardia, hipotensi berat dan ruam pada pengamatan klinis. Beberapa kasus reaksi anafilaksis parah dilaporkan setelah injeksi atrakurium, menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Pemberian lambat injeksi Atrakurium besylate, menurunkan manifestasi refleks peningkatan nadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, perbandingan waktu pemberian Atrakurium besylate intravena dapat menurunkan tingkat kejadian peningkatan nadi saat induksi anestesi umum di RSSA Malang.

Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal, bersifat eksperimental. Pasien dengan kriteria klinis ASA I-II sejumlah 32 orang dilakukan randomisasi sederhana menjadi 2 kelompok P dan mendapatkan perlakuan pemberian Atrakurium besylate 0,5 mg/kgBB iv dalam waktu 5 detik. Kelompok lainya dilakukan pemberian Atrakurium besylate 0,5 mg/kgBB iv dalam waktu 90 detik

Hasil : Penelitian ini didapatkan, perbedaan peningkatan nadi yang bermakna secara statistik (p < 0,05), pada saat kelompok O dan P dibandingkan pada menit ke 3 (0,005) dan ke 4 (0,004), sedangkan pada menit ke 5 (0,210) tidak didapatkan perbedaan peningkatan nadi pasien

Kesimpulan :  Disimpulkan bahwa, pemberian Atrakurium besylate intravena 0,5 mg/kgBB dalam waktu 90 detik menurunkan tingkat terjadinya peningkatan nadi daripada pemberian dalam waktu 5 detik.

Keywords
Atracurium besylate; Administration; Tachycardia

Article Metrics:

  1. Awasthi S, Tripathi R.K. Anaphylaxis Following Injection Atracurium Besylate: An Uncommon But Life Threatening Complication. Indian Journal of Fundamental and Applied Life Sciences. 2013; 3: 211-213
  2. Basta, S.J. Modulation of histamine release by neuromuscular blocking drugs. Curr Opin Anaesth 1992; 4: 572
  3. Bowman WC. Neuromuscular block. Br J Pharmacol 2006; 147(Suppl 1):S277-S286.
  4. Kinjo M, Nagashima H, Vizi ES: Effect of atracurium and laudanosine on the release of 3H-noradrenaline. Br. J. Anesth 1989; 62:683-690
  5. Hatano Y, Arai T, Noda J, et al: Contribution of prostacyclin to d-turbocurarine-induced hypotension in humans. Anesthesiology 1990; 72:28-32
  6. Hugh C. Hemmings., Talmage D. Egan. Pharmacology and Physiology for Anesthesia : Foundations and Clinical Application. 2013; Chapter 19: Elsevier Saunders, Philadelphia, PA
  7. Lee, C. Conformation, action, and mechanism of action of neuromuscular blocking muscle relaxants. Pharmacology Theraphy 2003; 98:143-169
  8. Miller, R.D., Skeletal Muscle Relaxants, in Basic and Clinical Pharmacology, (Katzung, B. G., ed) Appleton-Lange, 1998, pp 434-449
  9. Pittet JF, Tassonyi E, Schopfer C, et al: Plasma concentrations of laudanosine, but not of atracurium are increased during the anhepatic phase of orthotopic liver transplantation in pigs. Anesthesiology 1990; 72: 145-152
  10. Reich DL, Bennett-Guerrero E, Bodian CA, et al. Intraoperative tachycardia and hypertension are independently associated with adverse outcome in noncardiac surgery of long duration. Anesth Analg 2002;95:273–7
  11. Runciman WB, Morris RW, Watterson LM, et al. Crisis management during anaes-thesia: cardiac arrest. Qual Saf Health Care 2005;14:e14
  12. Runciman WB, Webb RK, Klepper ID, et al. Crisis management: validation of an algorithm by analysis of 2000 incident reports. Anaesth Intensive Care 1993;21:579–92
  13. Scott R.P, Savarese J.J, Basta S.J, et al : Atracurium: Clinical strategies for preventing histamine release and attenuating the haemodynamic response. Br J Anaesth 1985; 57:550-553
  14. Stoelting, R.K., "Neuromuscular -Blocking Drugs", in Pharmaco- logy and Physiology in Anes-thetic Practice, Lippincott-Raven Publishers, 1999, pp 182-219
  15. Taylor P. Agents acting at the neuromuscular junction and autonomic ganglia. In: Brunton LL, ed. Goodman & Gilman’s the pharmacological basis of therapeutics. 11th ed. New York: McGraw Hills Company. 2006
  16. Webb RK, Currie M, Morgan CA, et al. The Australian Incident Monitoring Study: an analysis of 2000 incident reports. Anaesth Intensive Care 1993;21:520–8
  17. Wecker, L. Brody’s Human Pharmacology 5th edition. 2010; Chapter 12, p. 138-146, Elsevier Inc, Philadelphia, PA