Hubungan Pengetahuan, Perilaku dan Lingkungan Rumah dengan Kejadian Transmisi Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang

*Siti Thomas Zulaikhah -  Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Ratnawati Ratnawati -  Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Neng Sulastri -  Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Eli Nurkhikmah -  Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Novi Dian Lestari -  Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia
Received: 2 Jun 2019; Revised: 4 Sep 2019; Accepted: 10 Sep 2019; Available online: 2 Oct 2019.
Open Access Copyright 2019 Siti Thomas Zulaikhah
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: EN
Full Text:
Supp. File(s):
Perjanjian Pengalihan Hak Cipta
Subject
Type Other
  Download (551KB)    Indexing metadata
Statistics: 211 123
Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis masih menjadi masalah kesehatan. Tingginya angka kejadian TB paru dapat dikarenakan adanya faktor tingkat pengetahuan yang rendah, perilaku kesehatan yang buruk dan lingkungan rumah seperti ventilasi, pencahayaan, kelembaban, kepadatan hunianyang tidakmemenuhi syarat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variabel paling dominan berhubungan dengan transmisi kejadian TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang.

Metode: Desain penelitian observasional dengan pendekatan case control. Subjek penelitian terdiri dari 40 kasus dan 40 kontrol. Kasus merupakan penderita TB paru di Puskesmas Bandarharjo yang didiagnosis secara klinis dan laboratorik BTA positif dan tercatat dalam medical record dari bulan Agustus 2016 sampai Agustus 2017,kontrol merupakan tetangga kasus yang tidak terdiagnosis TB paru BTA positif dan anggota keluarga tidak menderita TB paru BTA positif. Teknik sampling menggunakan proporsional random sampling. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji univariat menggunakan distribusi frekuensi, uji bivariat menggunakan Chi Square, uji Multivariat menggunakan Regresi logistik ganda.

Hasil : Hasil uji bivariat variabel lingkungan yang terdiri dari luas ventilasi (p=0,000); kepadatan hunian (p=0,000); kelembaban (p=0,001); pencahayaan (p=0,001); suhu (p=0,001), sedang hasil variabel pengetahuan (p=0,002) dan perilaku (p=0,005). Hasil analisis multivariat variabel pengetahuan (OR=3,776); kepadatan hunian (OR=4,476); kelembaban (OR=4,030); pencahayaan (OR=3,635); suhu (OR=3,064); pengetahuan (OR=6,374); perilaku (OR=3,525).

Simpulan: Lingkungan rumah, pengetahuan dan perilaku berhubungan dengan kejadian TB paru di wilayah kerja puskesmas Bandarharjo Semarang dan faktor yang paling dominan berhubungan adalah pengetahuan.

 

ABSTRACT

Title: Relationship Knowledge, Behavior and Household Environmentwith the Transmission Insidence Pulmonary Tuberculosis in the Work Area of Bandarharjo Health Center Semarang

Background: Pulmonary tuberculosis, an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis remains a health problem. A higher incidence of pulmonary TB has been associated with low level of knowledge, poor health behavior and household environment such as ventilation, lighting, humidity, residential density. The purpose of this study was to identify the most dominant factor associated with the transmission pulmonary TB in the Bandarharjo Health Center in Semarang.

Methods: The research was an observational one with a case control study. The case and the control of this research were both using 40 respondents. The case was patients clinically diagnosed with pulmonary TB and has a laboratory BTA+ and documented in the medical record from August 2016 to August 2017. The control was a neighbor of cases with no BTA+ (acid resistant bacilli) pulmonary TB and history of family no BTA+ of pulmonary TB. The proportional random sampling was applied. The collected data were analyzed using univariate test of frequency distribution, bivariateof Chi Square, multivariate oflogistic regression.

Results: Bivariate test of environmental variables consisting of ventilation area (p = 0.000); occupancy density (p = 0.000); humidity (p = 0.001); lighting (p = 0.001); temperature (p = 0.001), while the results of the knowledge variable (p = 0.002) and behavior (p = 0.005). The multivariate analysis showed variable of knowledge (OR = 3.776); residential density (OR = 4.476); humidity (OR = 4.030); lighting (OR= 3.635); temperature (OR = 3.064); knowledge (OR = 6.374); behavior (OR = 3.525).

Conclusion: The household environment, knowledge and behavior were related to the transmission incidence of pulmonary tuberculosis in the working area of Bandarharjo health center and the most dominant factor was knowledge.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords
Tuberkulosis; BTA positif; lingkungan rumah; pengetahuan; perilaku

Article Metrics:

  1. WHO. Global Tuberculosis Report 2015. Geneva: World Health Organization, 2015.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016
  3. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah2016. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2016.
  4. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2016. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang,2016.
  5. Suharyo S. Determinasi Penyakit Tuberkulosis di Daerah Pedesaan. Jurnal Kemas.2013: 9(1):85-91
  6. Kigozi NG, Heunis JC, Engelbrecht MC, Janse Van Rensburg AP, Van Rensburg HCJD. Tuberculosis Knowledge, Attitudes and Practices of Patients at Primary Health Care Facilities in a South African Metropolitan: Research towards Improved Health Education. BMC Public Health. 2017;17(1):1–8
  7. Dahlan MS. Pintu Gerbang memahami Epodemiologi, Biostatistik, dan Metodologi Penelitian. Jakarta: Epidemiologi Indonesia, 2018.
  8. Ricardo F, Heriyani F, Khatimah H. Hubungan Kondisi Ventilasi Rumah dengan Kejadian Tb Paru Di Wilayah Puskesmas Kelayan Timur. Buletin Berkala Kedokteran. 2016;12(2):279–88.
  9. Damayati DS, Susilawaty A, Maqfirah. Risiko Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep. Higiene Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2018;4(2):121–30.
  10. Lygizos M, Shenoi S V, Brooks RP, Bhushan A, Brust JCM, Zelterman D, et al. Natural Ventilation Reduces High TB Transmission Risk in Traditional Homes in Rural KwaZulu-Natal , South Africa. BMC Infectious Diseases. 2013;13(1):1-8
  11. Heriyani F, Sutomo AH, Info A. Risk Factors of the Incidence of Pulmonary Tuberculosis in Banjarmasin City , Kalimantan, Indonesia. International Journal Public Health Sciences. 2013;2(1):1–6.
  12. Wanti, Solihah Q, Djapawiwi M. Relationship between House Condition and Tuberculosis Incidence in Timor Tengah Utara District. International Journal Sciences: Basic Applied Research (IJSBAR). 2015; 21(1):344–9.
  13. Srivastava K, Kant S, Verma A. Role of Environmental factors in Transmission of Tuberculosis. Dynamics of Human Health.2015;2(4):1-12
  14. Syahputra F, Parhusip RS, Martiar Siahaan J. Factors Associated with Tuberculosis in Deli Serdang, North Sumatera. Journal Epidemiology Public Health. 2019;4(1):55–9.
  15. Muslimah DDL.Keadaan Lingkungan Fisik Dan Dampaknya Pada Keberadaan Mycobacterium Tuberculosis: Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Perak Timur Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2019;11(1):26.
  16. Ruswanto, Bambang. N dan MR. Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paruditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah di Kabupaten Pekalongan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2012;11(1):22-28
  17. Sejati A, Liena S. Faktor-Faktor Terjadinya Tuberkulosis. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2015; 10(2):122-128
  18. Fernandes GFDS.,Chin CM.,Santos JLD. Advances in Drug Discovery of New Antitubercular Multidrug-Resistant Compounds†. Pharmaceuticals (Basel).2017;10(2): 1–17.
  19. Peraturan Kemenkes RI. Nomor1077 tentangPedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011.
  20. Kurniasari RAS, Suhartono, Cahyo K. Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri.Media Kesehatan Masyarakat Indonesia. 2012; 11(2):198–204.
  21. Aditama W, Sitepu FY, Saputra R. Relationship between Physical Condition of House Environment and the Incidence of Pulmonary Tuberculosis, Aceh, Indonesia. International Journal of Science and Health Care Research. 2019; 4(1): 227-231
  22. Mbuthia RW, Charles OO, Tom GO. Knowledge and Perceptions of Tuberculosis among Patients in a Pastoralist Community in Kenya: a Qualitative Study. Pan African Medical Journal.2018;30:1-6
  23. Kementerian KesehatanRepublik Indonesia. Ditjen Pemberantas Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015.
  24. Sulistiyana CS, Susanti S. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga Pasien Tuberkulosis Paru dengan Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Kesunean dan Pegambiran Kota Cirebon. Tunas Medika Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2015;2(3):1-10
  25. Kadek. Hubungan Persepsi dan Tingkat Pengetahuan Penderita TB dengan Kepatuhan Pengobatan di Kecamatan Buleleng. Jurnal Pendidikan Indonesia.2016, 2(1):149–51.
  26. Devi AU, Cahyo K, Shaluhiyah Z. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Pasien Tb MDRdalam Pencegahan Penularan Tb MDRdi Wilayah Kerja Puskesmas Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2019;7(1):442–52
  27. Priyoto. Teori Sikap & Perilaku dalam Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika, 2014.
  28. Wenas AR, Grace DK, Dina VR. Hubungan Perilaku dengan Kejadian Penyakit Tb Paru di Desa Wori Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik. 2015;3(2):82-89
  29. Fitriani E. Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian TB Paru. Unnes Journal Public Health 2013, 2(1):2–3.
  30. Azhar K, Perwitasari D. Kondisi Fisik Rumah Dan Perilakudengan Prevalensi Tb Paru Di Propinsi DKI Jakarta, Banten dan Sulawesi Utara. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2014;23(4):172–81.
  31. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 67 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016.
  32. Budi IS, Ardillah Y, Sari IP, Septiawati D. Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit Tuberculosis bagi Masyarakat Daerah Kumuh Kota Palembang. Jurnal Kesehatatan Lingkungan Indonesia 2018;17(2):87-94