skip to main content

Pratek Budaya Suku Kampung Yepase Terkait Perawatan Kehamilan, Nifas dan Bayi di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura.

*Agustina Regina Yufuai  -  FKM Universitas Cenderawasih Jayapura Papua
Laksmono Widadgo  -  Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang
Open Access Copyright (c) 2018 JURNAL PROMOSI KESEHATAN INDONESIA

Citation Format:
Abstract

ABSTRAK
Kampung Yepase tahun 2010-2011 mengalami penurunan kasus kematian ibu 100% dari 7,1% kasus. Namun terdapat 40% kasus kematian persalinan yang dilakukan oleh tenaga dukun. Cakupan gizi ibu hamil, BBLR dan gizi bayi masih < 50%. Tujuan penelitian memahami gambaran budaya Papua terkait perawatan kehamilan, nifas dan bayi di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan subyek penelitian adalah ibu yang memiliki bayi usia 0-3 tahun. Pengumpulan data melalui focus group discussion dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan content analysis (analisis isi). Hasil penelitian menemukan adanya bentuk praktek budaya kehamilan, nifas dan bayi yang tidak mendukung dan mendukung kesehatan. Praktek budaya yang tidak mendukung pada kehamilan; ritual pemijatan (menguatkan dan mengatur peranakan usia pertama kehamilan, dan 5-6 bulan untuk mengatur jalan lahir dilakukan pada usia 9 bulan), anjuran bekerja keras, tidur larut malam menggunakan sarung di ruang terbuka (depan rumah), pantang makan makanan tertentu. Pada masa nifas: Ibu nifas diberikan ramuan daun untuk mencegah darah putih, mencegah perdarahan, dan mengeringkan luka, 2 hari pasca melahirkan dapat beraktifitas menggunakan cara tradisional dengan uap panas, tidak memerlukan pemeriksaan
ulang jika terjadi perdarahan berat. 
Kata Kunci : faktor Budaya, Perawatan kehamilan, nifas dan bayi

ABSTRACT
Cultural practices of Yepase Ethnic related to pregnancy, post-delivery, and infant treatments in Depapre District, Jayapura Regency; During 2010-2011 maternal mortality rate in Yepase Village decreased to 100% of 7.1 % cases. However, 40% of the deaths in delivery period were related to traditional healer practices. Nutrition rate for pregnant mothers, low weight birth, and infants were still under 50%. This study aimed to find out cultural illustration in Papua related to pregnancy, post-delivery, and infant treatments in Depapre District, Jayapura Regency. The study applied a qualitative method with focus group discussion (FGD) and in-depth interview data collection.
Data were analyzed by a content analysis technique. Results of the study showed cultural practices, which supported and did not support pregnancy, post-delivery, and infant treatments. The cultural practices that support the pregnancy treatments included massage rituals (strengthening and
arranging infant during the first year of pregnancy, and 5-6 months of pregnancy, and enabling delivery in the 9th month of pregnancy), working hard advice for pregnant mothers, outdoor late sleep using sarung (in front of house), and diet prohibition. The cultural practices that did not support post-delivery treatment included traditional leaf-made medicines to prevent white blood, bleeding, and to dry wounds two days after the delivery to enable the mothers to go back to their daily activities, with no treatments when the mothers suffered bleeding.
Keywords: cultural factors, treatments for pregnancy, post-delivery, and infant

Fulltext View|Download

Article Metrics:

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-03-03 20:00:45

No citation recorded.