PENGARUH PENAMBAHAN PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan BUAH NANAS(Ananas comosus) TERHADAP SPESIFIKASI PUPUK ORGANIK CAIR RUMPUT LAUT Euchema cottonii (Effect of Adding PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) and Pineapple (Ananas comosus) for Specifications of Organic Liquid Fertilizer Euchema cottonii)

*Indriyanti Indriyanti -  Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Eko Nurcahya Dewi -  Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Eko Susanto -  Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 20 Jul 2017; Published: 20 Jul 2017.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: IND
Full Text:
Statistics: 1392 3104
Abstract

 

Euchema cottonii mengandung unsur mikro dan makro nutrien, serta zat pengatur tumbuh tanaman seperti auksin, giberelin, sitokinin, dan etilen sehingga sangat berpotensi sebagai pupuk organik penyubur tanaman. Penambahan buah nanas berfungsi sebagai sumber C, P, dan K pada ekstrak pupuk rumput laut cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bioaktivator PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)dan buah nanas terhadap kandungan C-organik, nitrogen, fosfor, kalium, pH, suhu, bakteri patogen, dan organoleptik warna. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah E. cottonii, PGPR, dan buah nanas.. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan kontrol (A), penambahan PGPR dan  buah nanas 40% (B), penambahan PGPR dan buah nanas 50% (C), dan penambahan PGPR dan  buah nanas 60% (C). Parameter yang diukur adalah C-organik, nitrogen, fosfor, kalium, pH, suhu, bakteri pathogen, dan oraganoleptik warna. Data parametrik dianalisa dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan buah nanas yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kadar C-organik, fosfor, dan kalium (p<0,05), sedangkan nilai nitrogen tidak berbeda nyata. Perlakuan penambahan nanas 50% akan meningkatkan kandungan nitrogen dua kali lebih besar dari pada kontrol. Perlakuan terbaik yaitu pada penambahan PGPR dan nanas 60% dengan kandungan C, P, K berturut-turut adalah 7,02%, 3,44%, dan 3,41%.

 Euchema cottoniicontains elements ofmicroandmacronutrients, andplantgrowth regulatorssuch asauxin, gibberellin, cytokinin, andethyleneso ithasgreat potentialas anorganicfertilizer forfertilisingcrops. Addition A. comosusserves asa source of C, P, and Kin theliquid organic fertilizer. This study aimedtodetermine the effect ofbio-activatorPGPRandA. comosus on the content ofC-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, temperature, pathogens, and color. The materialusedin this studywereE.cottonii, PGPR, andA. comosus.This research wasexperimentallaboratoriesusing completely randomized designwith 4 differenttreatments and 3replications, namely control (A), addition ofPGPR and A. comosus 40%(B), addition of PGPR  and A. comosus 50% (C), and addition of PGPR and A. comosus 60% (D). Parametersmeasured wereC-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, temperature, pathogens, and color organoleptic. Parametric datawere analyzed byANOVA. The results showedthat theaddition ofPGPRandA.comosussignificantly affect(P<0.05) to thelevels ofc-organic, phosphoruslevels, potassium levels, but not nitrogen levels. Addition of pineapple 50% will increase the nitrogen content twice higher than control. The best treatment is addition of PGPR and pineapple 60% with the content of C, P, K respectively 7.02%, 3.44% and 3.41%. 
Keywords
Euchema cottonii; Pupuk Oganik Cair; PGPR; Nanas

Article Metrics:

  1. Balai Penelitian Tanah. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Bogor. 136 hlm.
  2. Basmal. J. 2010. Teknologi Pembuatan Pupuk Cair Kombinasi Hidrolisat Rumput Laut Sargassum sp. dan Limbah Perikanan. Jurnal Squalen Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan.,5(2): 59–66.
  3. Biswas J.C, J.K. Ladha, dan F.B. Dazzo. 2000. Rhizobial inoculation improves nutrient uptake and growth of lowland rice. Soil Sci. Soc.Am. J., 64(1): 1644-1650.
  4. Citawaty, Annica. 2011. Pengomposan Limbah Isi Rumen Sapi dengan Penambahan Sekam pada variasi Yang Berbeda. [Skrispi]. Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. Hlm 1-109.
  5. Hapsari, N dan Welasih. 2010. Pemanfaatan Limbah Ikan Menjadi Pupuk Organik. Jurnal Kimia., 2(1): 1-7.
  6. Hidayati, Y.A., T.A. Kurnani., E.T. Marlina dan E. Harlia. 2011. Kualitas Pupuk Cair Hasil Pengomposan Feses Sapi Potong Menggunakan Saccharomyces cereviceae. Jurnal ilmu ternak., 11(2):104-107
  7. Horwitz, W. 2000. Official Methods of Analysis of AOAC International 17thed, AOACInternational, Gaithersburg. Article. pp. 12-35.
  8. Illera-Vivesa, M., S. S. Labandeirab., L.M. Britoc., A. López-Fabala, dan M.E. López- Mosquera. 2015. Evaluation Of Compost From Seaweed And Fish Waste As A Fertilizer Forhorticultural Use Scientia Horticulturae. 186(2) 101–107.
  9. Indriani, F. 2013. Studi Pengaruh Penambahan Limbah Ikan pada Pupuk Cair Dari Urin Sapi Terhadap Kandungan Unsur Hara Makro (CNPK). [Skrispi]. Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. Hlm 1-121.
  10. Irma, Y. S, Dan K. Sari. 2015. Perbandingan Jenis Media Tanam Tanah Entisol Yang Terpapar Satu Kali dan Dua Kali oleh Limbah Cair Nanas Terhadap Pertumbuhan Seledri (Apium Graveolens L.) Sebagai Sumber Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan Biologi., 6(1): 63-70.
  11. Masuda, T., T. Taniguchi., K. Suzuki., T. Sakai., dan T .Morichi. 2000. Effect of The Difference in The High Molecular Weight Fraction of Whey Between Cow’s Milk and Goat’s Milk on Creaming Phenomenon. Journal College of Bioresource Science. 1(2): 351-357.
  12. Menteri Pertanian Republik Indonesia. 2011. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2011, tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah.
  13. Menteri Pertanian Republik Indonesia. 2004. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2004, tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik.
  14. Menteri Pertanian Republik Indonesia. 2009.Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009, tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik.
  15. Saraswati R, dan Sumarsono. 2008. Pemanfaatan Mikroba Penyubur Tanah Sebagai Komponen Teknologi Pertanian. Iptek Tanaman Pangan., 3(1): 11-67.
  16. Sedayu, B.B., S.E. Made, dan A. Luthfi. 2013. Pupuk Cair dari Rumput Laut Eucheuma Cottonii, Sargassum Sp. dan Gracilaria Sp. menggunakan Proses Pengomposan. JPB Perikanan., 9(1): 61–68.
  17. Setyawan, W. A.,2010. Pemanfaatan Limbah Ikan Menjadi Pupuk Organik. [Skripsi]. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Hlm 1-35
  18. Sudarmadji, S. 2007. Analisis Bahan Makana dan Pertanian. Liberty Yogyakarta. Yogyakarta. 109 hlm.
  19. Sofyan, Ritung., Wahyunto., F. Agus dan H. Hidayat. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dengan Contoh Peta Arahan Penggunaan Lahan Kabupaten Aceh Barat.Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Center.
  20. Stofella, P.J and B. A. Kahn. 2001. Compost Utilization in Holticultural Cropping Systems. Lewish Publisher, USA.
  21. Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta. 90 hlm.