PERBANDINGAN NILAI KALOR BIOBRIKET YANG TERBUAT DARI BOTTOM ASH LIMBAH PLTU DAN BIOMASSA CANGKANG KOPI DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN JENIS PENGIKAT YANG BERBEDA

DOI: https://doi.org/10.14710/teknik.v36i2.8688

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Telah diserahkan: 24-06-2015
Diterbitkan: 10-12-2015
Bagian: Artikel
Fulltext PDF Tell your colleagues Kirim email ke penulis

Tujuan dari penelitian ini adalah membuat biobriket dari bahan bottom ash limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan biomassa cangkang kopi dengan zat pengikat tetes tebu serta menguji nilai kalor yang dihasilkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah; pembuatan biobriket dengan memvariasi komposisi antara bottom ash dengan biomassanya serta zat pengikat yang berbeda. Variasi komposisi antara biomassa cangkang kopi dengan bootom ash yang digunakan adalah 60% : 40% dan 70% : 30%, sedangkan bahan perekatnya menggunakan tetes tebu dan tepung kanji. Pengujian yang dilakukan adalah menguji nilai kalor dari biobriket yang dihasilkan menggunakan alat uji calloriboom. Dari hasil pengujian didapatkan biobriket dengan komposisi 70% biomassa cangkang kopi dan 30% bottom ash dengan pengikat tetes tebu mempunyai nilai kalor yang paling tinggi dibandingkan dengan komposisi dan pengikat yang lain dengan nilai kalor yang dihasilkan yaitu 2496,18 kal/gr. Nilai kalor ini dipengaruhi oleh kandungan karbon aktif yang terdapat pada arang cangkang kopi dan besar kecilnya kandungan carbon, oxygen dan ash yang dimiliki, semakin tinggi kandungan carbon dan oxygen maka makin tinggi pula nilai kalor yang kandungan kalor yang terdapat pada jenis perekat tetes tebu lebih tinggi dari pada tepung kanji.


[Title: Comparison of Calorific Value of Biobriket Made of Bottom Ash Waste and Biomass Plant Shell Coffee by Varying Composition and Types of Binder] This study is aimed to make biobriket of bottom ash material waste biomass power plant and different binder of coffee shell (molasses) as well as measuring the calorific value. The method in this study are by manufacturing biobricket by varying the composition of bottom ash with biomass and different binder. Biomass composition variation of the shell coffee and bottom ash are 60%:40% and 70%:30%. The binder used are molasses and starch. This experiment was carry out by measuring the calorific value of produced biobricket. From results, the biobricket with a composition of 70% biomass and 30% coffee shell bottom ash and molasses binder has the highest calorific value in comparison to other binder composition. The calorific value is 2496.18 cal/g. This calorific value is influenced by the content of activated carbon contained in charcoal shell of coffee and size of the content of carbon, oxygen and ash. Increased calorific values between the molasses and starch binders suggested that the calorific value of product when using molasses binder is higher than that of starch.

Kata Kunci

bottom ash; biomassa; cangkang kopi; kalor; bottom ash; biomass; coffee shells; calorific value

  1. Budi Gunawan 
    Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus, PO BOX 53, Gondang Manis Bae, Kudus, Indonesia
    Ka Prodi Teknik Elektro - Lektor
  2. Sugeng Slamet 
    Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus, PO BOX 53, Gondang Manis Bae, Kudus, Indonesia
  3. Ahmad Syahroni 
    Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus, PO BOX 53, Gondang Manis Bae, Kudus, Indonesia
  1. Harian Umum Suara Merdeka (www.suaramerdeka.com/harian/0312/24/dar21 .htm, diaksed pada tanggal 9 Desember 2014).
  2. Ismayana, A., Indrasti, N.S., Suprihatin, A.M., TIP, A.F., other. (2012). Faktor Rasio c/n Awal dan Laju Aerasi Pada Proses Co-Composting Bagasse dan Blotong. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 22.
  3. Jamilatun, S. (2012). Sifat-Sifat Penyalaan dan Pembakaran Briket Biomassa, Briket Batubara, dan Arang Kayu. Jurnal Rekayasa Proses, 2, 37-40.
  4. Potensi Daerah, n.d., Kabupaten Kudus.
  5. Sulistyanto, A. (2006). Karakteristik Pembakaran Biobriket Batubara dan Sabut Kelapa.
  6. Wijayanti, T., Susila, I.W., et al. (2012). Pembuatan Biobriket dari Campuran Kacang Tanah dan Limbah Kacang Mete Menggunakan Perekat Tetes Tebu. Jurnal Pendidik Teknik Mesin, 1.