Epidural Analgesia Kolaborasi Dokter Anestesi dan Dokter Bedah Syaraf untuk Penanganan Nyeri Pascaoperasi Tulang Belakang

*Doso Sutiyono  -  Department of Anesthesiology and Intensive Theraphy; Faculty of Medicine; Diponegoro University; Semarang, Indonesia
Published: 1 Nov 2019.
DOI: https://doi.org/10.14710/jai.v11i3.26710 View
Abstrak
Subject
Type Research Instrument
  Download (14KB)    Indexing metadata
Copyright Transfer Agreement
Subject
Type Other
  View (2MB)    Indexing metadata
Open Access
Citation Format:
Abstract

Latar Belakang: Nyeri pascaoperasi masih merupakan masalah utama pasien pascaoperasi dan menjadi tanggung jawab bersama dokter anestesi dan dokter bedah. Operasi tulang belakang menyebabkan nyeri pascaoperasi yang berat. Epidural analgesia menghasilkan skor nyeri lebih rendah dan kebutuhan rescue analgetic lebih sedikit dibanding analgesia konvensional sistemik pada operasi tulang belakang.

Laporan kasus ini bertujuan memperkenalkan epidural analgesia untuk penanganan nyeri operasi tulang belakang di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kami laporkan dua kasus penanganan nyeri pascaoperasi pasien yang operasi tulang belakang dengan modal utama epidural analgesia yang merupakan hasil kolaborasi dokter anestesi dan dokter bedah syaraf.

Kasus: Pasien 1 menderita paraplegi inferior flacid karena fraktur kompresi T11 – T12, pasien 2 menderita hernia nucleus pulposus (HNP) L4 – L5, L5 – S1. Keduanya menjalani operasi tulang belakang. Menjelang akhir tindakan operasi, dokter bedah syaraf   memasang kateter epidural di ruang epidural. Setelah luka operasi ditutup, bupivakain 0,125% bolus 10 ml disuntikan lewat kateter epidural sesaat setelah pasien ditelentangkan. Nyeri pascaoperasi dikelola dengan memberikan bupivakain 0,125 % kontinyu. Pasien juga mendapatkan paracetamol 1000 mg tiap 6 jam.

Pembahasan: Epidural analgesia untuk operasi tulang belakang dapat diberikan sebelum operasi, selama operasi, atau akhir operasi. Obat yang diinjeksikan dapat merupakan obat lokal anestesi, opioid, atau kombinasinya. Pemberian obat dapat berupa bolus tunggal, infus kontinyu, atau patient control epidural analgesia (PCEA). Beberapa keuntungan yang didapat berupa skor nyeri yang lebih rendah, kebutuhan opioid lebih sedikit, pemulihan peristaltik usus yang lebih cepat, insiden mual muntah lebih rendah, kehilangan darah durante operasi lebih sedikit, dan tingkat kepuasan pasien lebih tinggi.

Epidural analgesia untuk menghilangkan rasa nyeri pascaoperasi bedah tulang belakang merupakan metode efektif dan aman. Teknik ini dapat digunakan di semua jenis operasi tulang belakang seperti mikrodisektomi, laminektomi, instrumentasi dengan atau tanpa koreksi, dan koreksi skoliosis.

Pada pasien kasus didapatkan pascaoperasi kondisi ke dua pasien stabil tak ada keluhan. Numeric rating scale (NRS) selama 48 jam pascaoperasi ≤ 2. Hemodinamik stabil.  Efek samping tindakan tidak ditemukan.

Kesimpulan: Pemasangan kateter epidural menjelang akhir operasi memastikan kateter epidural ditempatkan pada lokasi yang tepat. Epidural analgesia pada operasi tulang belakang terbukti efektif mengelola nyeri pascaoperasi.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords: epidural anelgesia; epidural kateter; HNP; nyeri pascaoperasi; operasi tulang belakang

Article Metrics:

  1. Carli F , Baldini G . Perioperative Pain Management and Enchanged Outcomes . In : Butterworth JF , Mackey DC , Wasnick JD , ed. Morgan & Mikhail Clinical Anesthesiology. Fifth ed. New York : McGraw-Hill ; 2013 : 1102
  2. Kumar RJ , Menon KV, Ranjith TC. Use of epidural analgesia for pain management after spinal surgery. Journal of Orthopaedic Surgery. 2003 ; 11 (1) : 67 – 72
  3. Benyahia NM , Vester A , Saldien V , Breebaart M , Sermeus L , Vercauteren M. Regional anaesthesia and postoperative techniques for spine surgery. Rom J Anaesth Int Care. 2015 ; 22 : 25 – 33
  4. Mergeay M , Verster A , Van Aken D , Vercauteren M. Regional versus general anesthesia for spine surgery. A comprehensive review. Acta Anaesth. Belg.2015 ;66 : 1 – 9
  5. Matheson D. Epidural anaesthesia for lumbar laminectomy and spinal fusion. Can. Anaes. Soc . 1960 ; 7 : 149 – 57
  6. Benyahla NM , Breebaart M , Sermeus L , Vercauteren M. Regional analgesia techniques for spine surgery : a review with special reference to scoliosis fusion. Journal of spine . 2015 : 4- 11
  7. Hussien EMM , El Nasr Mohammed GS , El Shaer ANE , Abdelaziz AA , Moharram AA. Efficacy of sacral epidural blockade with bupivacaine versus morphine as pre-emptive analgesia for lumbar laminectomy surgeries. Ain-Shams J Anesthesiol.2016; 9: 260 – 6
  8. Schroeder KM , Zahed C , Andrei AC , Han S , Ford MP , Zdeblick TA. Epidural anesthesia as a novel anesthetic technique for anterior lumbar interbody fusion. Journal of Clinical Anesthesia. 2011 ; 23: 521- 6
  9. Perez MLG , Badenes R , March GC , Bordes V , Belda FJ. Epidural anaethesia for laminectomy lead placement in spinal cord stimulation. Anesth Analg. 2007;105:1458 –61
  10. Daneyemez LLS , Kurt E , Canakci Z , Gezen F, Suer H, Pain control following lumbar laminectomy : comparison of epidural morphine and morphine plus bupivacaine. Tiirkish Neiirosiirgery. 1999 ; 9: 64 - 67
  11. Khajavi MR , Asadian MA , Imani F , Etezadi F , Moharani RS , Amirjamshidi A. General anesthesia versus combined epidural/general anaesthesia for elective lumbar spine disc surgery : A randomized clinical trial comparing the impact of the two methods upon the outcome variables. Surgical Neurology International. 2013; 4:105