Tinjauan Historitas Simbol Harmonisasi Antaretnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung

*Meta Sya  -  Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia, Indonesia
Rustono Farady Marta  -  Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia, Indonesia
Teguh Priyo Sadono  -  Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia, Indonesia
Received: 30 May 2019; Revised: 2 Nov 2019; Accepted: 8 Nov 2019; Published: 12 Dec 2019; Available online: 11 Dec 2019.
Open Access Copyright (c) Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Supp. File(s):
Untitled
Subject
Type Other
  Download (131KB)    Indexing metadata
Selebaran undangan salam " Thong Ngin Fan Ngin Jit jong"
Subject Thong Ngin Fan Ngin Jit jong
Type Other
  Download (131KB)    Indexing metadata
Statistics: 110 150
Abstract

This article discusses the historical background of the formation of the Bangka Belitung islands as a province full of harmonization symbols, namely ethnic Chinese and Malays (Thongin Fangin Jit Jong). Based on historical searches using primary and secondary sources, it can be concluded that the arrival of the Chinese in Bangka as miners has made a mixture of Chinese and Malay ethnic groups in Bangka. Then, the assimilation was expressed with an attitude of solidarity between the two, which began with the arrival of the white nation in Bangka, causing a resistance between ethnic Chinese and Malays through the Bangka War led by Depati Amir. This was done because of the feelings of oppression and suffering experienced by ethnic Chinese and Malays at that time. Then, the attitude of solidarity did not stop at that moment, but when Bangka Belitung struggled to break away from South Sumatra. The participation of the entire community of the Bangka Belitung Islands together struggled to be able to provide prosperity. Therefore, historical ties become very important media in the formation of the symbol of harmonization.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords
Thongin Fangin Jit Jong; Historical Tide; Regional Expansion, Ethnic Harmonization

Article Metrics:

  1. Abbas, I. (2014). "Memahami Metodologi Sejarah antara Teori dan Praktek". Jurnal Etnohistori, Vol. 1 (1): 23–41.
  2. Alfirdaus, L. K., & Zakiah, F. (2006). "Akar Pemekaran dan Prospek Pembangunan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung." Makalah Seminar Internasional Dinamika Politik Lokal, Percik-Ford Foundation.
  3. Atabik, A. (2016). "Percampuran Budaya Jawa dan Cina: Harmoni dan Toleransi Ber-agama Masyarakat Lasem." Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, Vol. 11 (1): 1–11.
  4. Elvian. A. (2009). Setengah Abad Kota Pangkal Pinang sebagai Daerah Otonom. Pangkalpinang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang.
  5. Elvian. A. (2016a). Kampoeng di Bangka (Vol. 1). Pangkal Pinang: Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Pangkal Pinang.
  6. Elvian. A. (2016b). Perang Bangka (Tahun 1812-1851 Masehi). Pangkal Pinang: CV. Talenta Surya Perkasa.
  7. Bakar, A. A. (1969). Bahrin-Amir-Tikal Pahlawan Nasional Jang Tak Boleh Dilupakan. Djakarta: Jajasan Pendidikan Rakjat Bangka.
  8. Darmawan, W. (2010). "Potret Kehidupan sosial-Ekonomi di Kabupaten Indramayu (Tinjauan Historis tahun 1970-2007)". Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 11 (1): 142–150.
  9. Farida. (2007). "Konflik Politik di Kesultanan Palembang (1804-1821)." Jurnal Sejarah Lontar, Vol. 4 (2): 75–80.
  10. Gusnelly. (2016). "Sejarah Pengelolaan Timah dan Tanggungjawab Sosial Perusahaan Tambang Timah di Bangka Belitung". Patrawidya, Vol. 17 (3): 155–176.
  11. Haboddin, M. (2012). "Menguatnya Politik Identitas di Ranah Lokal." Jurnal Studi Pemerintahan, Vol. 3 (1): 116–134.
  12. Hazmirullah. (2016). "Surat Balasan Sultan Sepuh VII Cirebon untuk Raffles: Kajian Struktu-ralisme Genetik." Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra, Vol. 9 (2): 211–224.
  13. Heidhues, Mary F. Somers (1992). Bangka Tin and Mentok Pepper: Chinese Settlement on an Indonesian Island. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
  14. Idi, A. (2012). Harmoni Sosial: Interaksi Sosial “Natural-Asimilatif” antara Etnis Muslim Cina dan Melayu-Bangka". Thaqaffiyat, Vol. 13 (2): 361–383.
  15. Irfani, A. (2016). "Pola Kerukunan Melayu dan Tionghoa di Kota Singkawang." Al-Hikmah: Jurnal Dakwah, Vol. 12 (1), 1–16.
  16. Jayanti, Y. D., Nurdin, & Ardhiansyah, A. (2014). "Penyelesaian Sengketa Batas Wilayah Darat Antara Indonesia dan Malaysia (Studi Kasus di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat)." Jurnal Hukum, (June): 1–22.
  17. Kathirithamby-Wells, J. (2009). "Peninsular Malaysia in the Context of Natural Historyand Colonial Science." New Zealand Journal of Asian Studies, Vol. 1 (June): 337–374.
  18. Kavin, R. (2016). "Politik Lokal di Bangka Belitung Antara Timah dan Etnis Tionghoa". Jurnal Administrasi Pemerinta-han Daerah, Vol. 8 (2): 75–92.
  19. Marta, R. F. (2018). "Perjuangan Multikultura-lisme Perhimpunan Indonesia Tionghoa dalam Perspektif Rekognisi Axel Honneth." Jurnal Bricolage, Vol. 4 (1): 23–31.
  20. Nata, H. A., Tanggok, M. I., Madjid, D., & Rumandi. (2016). Permata Dari Surga; Potret Kehidupan Beragama di Indonesia. (A. B. Basnur, P. M. Salim, I. Subehi, M. W. Sayuti, & M. M. Roup (Ed). Jakarta: Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
  21. Pageh, I. M. (2018). "Kearifan Sistem Religi Lokal dalam Mengintegrasikan Umat Hindu-Islam di Bali". Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 3 (2): 88–98. https://doi.org/ 10.14710/jscl.v3i2.19411
  22. Palmaya, K. R., Wakidi, & Ekwandari, Yu. S. (2017). "Kebijakan Landrent pada Masa Penjajahan Inggris di Jawa Tahun 1811-1816". Vol. 5 (8): 1–12.
  23. Permana, N. A. (2002). "Berita Penelitian Revitalisasi Lembaga Adat dalam Menyelesaikan Konflik Etnis Menghadapi Otonomi Daerah." Antropologi Indonesia, Vol. 68 (1): 18–21. https://doi.org/10.7454 /ai.v0i68.3439
  24. Ritaudin, M. S. (2017). "Teologi Politik Berbalut SARA antara Ambisi dan Konspirasi". Jurnal Kalam, Vol. 11 (1): 85–105. https://doi.org/10.24042/klm.v11i1.1087
  25. Santosa, I. (2011). Legiun Mangkunegaran (1808 - 1942): Tentara Jawa - Perancis Warisan Napoleon Bonaparte. Jakarta: Kompas.
  26. Satya, M. S., & Maftuh, B. (2016). "Strategi Masyarakat Etnis Tionghoa dan Melayu Bangka dalam Membangun Interaksi Sosial untuk Memperkuat Kesatuan Bangsa". Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial (JPIS), Vol. 25 (1): 10–23. https://doi.org/10.17509/jpis.v25i1.3667
  27. Setiati, D. (2008). Makanan Tradisional Masyarakat Bangka Belitung. S. Rohana, (Ed). Tanjung Pinang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjung Pinang.
  28. Sulaiman, A. (2009). "Kebijakan Partai Politik Terhadap Caleg Perempuan pada Pemilu 2009 di Bangka Belitung." Jurnal Society, Vol. 1 (1): 17.
  29. Susilowati, E., & Masruroh, N. N. (2018). Merawat Kebhinekaan Menjaga Keindone-siaan: Belajar dari Nilai Keberagaman dan Kebersatuan. Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 3 (1): 13–19. https://doi.org/10.14710/jscl.v3i1.17856
  30. Theo, R., & Lie, F. (2014). Kisah, Kultur, dan Tradisi Tionghoa Bangka. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
  31. Wiharyanto, A. K. (2009). "Perlawanan Indonesia terhadap Belanda pada Abad XIX". Historia Vitae, Vol. 23 (2): 1–29.
  32. Yandra, A. (2016). "Pembentukan Daerah Otonomi Baru Problematik dan Tantangannya di Indonesia." Jurnal Niara, Vol. 9 (2): 1–14.
  33. Zed, M. (2018). "Tentang Konsep Berfikir Sejarah." Jurnal Pendidikan Sejarah & Kepala Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PSKBE), Universitas Negeri Padang, Vol. 13 (1): 54–60.
  34. Zein, A. B. (2000). Etnis Cina dalam Potret Pembauran di Indonesia. Yogyakarta: Gema Insani.
  35. Kompas.com Melayu-Tionghoa Bersaudara Tanpa Sekat, 25 November 2011 dalam tautan:https://edukasi.kompas.com/read/2011/11/25/03273151/melayu-tionghoa.bersaudara.tanpa.sekat?page=all, diakses 18 May 2019.