skip to main content

Komunitas Berbaju Hitam: Sejarah, Perempuan, dan Pendidikan dalam Masyarakat Adat Tana Towa Kajang, Sulawesi Selatan

*Sarkawi B. Husain scopus  -  Department of History, Faculty of Humanities Universitas Airlangga, Indonesia
Lina Puryanti  -  Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Indonesia
Adi Setijowati  -  Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2021 Jurnal Sejarah Citra Lekha under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Studies on the Ammatowa indigenous people have been carried out by several researchers. Unfortunately, none of these studies have focused on the role and position of women in the Ammatowa people, both in their daily lives and in regard  to education. Therefore, this study fills that void. This study aims to identify the position and role of women in the life of the Ammatowa people; what specific roles are performed by women in customary areas; and how the traditions are still firmly held provide space for women to express themselves. As a study of a unique community, this study uses an ethnographic approach, by collecting, classifying, and analyzing the various positions of women in the Ammatowa Kajang community. In the traditional structure of Tana Towa, women have an important, strategic and respected position. In the structure of these customs, there is an important role played by a woman called Angrota who has the task and responsibility of preparing all the needs for traditional ceremonies, facilitating the selection of Ammatowa and inaugurating them. In the economic aspect, women have an important role in supporting the family’s financial, such as weaving, selling in the market, and farming. Meanwhile, education for Tana Towa women is still a major issue that needs serious attention. It is because the education world is related to issues of customs, and the family economy.

Fulltext View|Download
Keywords: Women’s Education; Women’s Role; Indigenous Peoples; Ammatowa; South Sulawesi.

Article Metrics:

  1. Akib, Y. (2008). Ammatoa: Komunitas Berbaju Hitam. Makassar: Pustaka Refleksi
  2. Alam, S., Supratman, Yusran J. (2003). Pengelolaan hutan desa di Sulawesi Selatan (Potensi, Peluang, dan Kendalanya). Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Kehutanan di gedung University Centre UGM, 23 April
  3. Anne, & Rozak, A.. (2019). Arti selembar kain tenun perempuan Ammatowa Kajang. https://www.gatra.com/detail/news/440903/lifestyle/arti-selembar-kain-tenun-, diakses pada Mei 2021
  4. Awang, S. A. (2003). Model formasi sosial dan kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan Indonesia. Makalah disampaikan oada Seminar Dies Natalis ke-39 Fakultas Kehutanan UGM. http://www.damar.or.id, diakses pada Mei 2021
  5. Calisca, V. dan Lianto, F. (2020). Ruang rajutan keberagaman masyarakat Pasar Baru. Jurnal Stupa: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur, 2 (1), 975-986. DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6830
  6. Cense, A. A. (1931). De Patoentoengs in het bergland van Kadjang. (Unpublished manuscript). Koninklijk Instituut voor Tall-, Land- en Volkenkunde, Leiden
  7. Djafar, Ermayanti. (1996). DI/TII dan Gerakan Dompea di Kajang Tahun 1954 (Studi Perkembangan Sosial Politik). Skripsi Universitas Hasanuddin, Ujungpandang
  8. Erni, S. (2014). Wanita dalam Tradisi Sosial Budaya Masyarakat Sakai. Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UIN Sultan Syarif Kasim Riau
  9. Husain, S. B., Setijowati, A. & Puryanti, L. (2019). Making Peace With Local Wisdom: Education For Indegenous People of Tana Toa Kajang, Bulukumba, South Sulawesi. In BASA 2019, 20-21 September, Surakarta Central Java, Indonesia
  10. Husain, S. B. (2010). Pasang sebagai modal sosial pengelolaan hutan pada masyarakat adat Ammatowa. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 23 (3)
  11. Husain, S. B., Setijowati, A. & Puryanti, L. (2020). Masyarakat Adat, Kearifan Ekologis, dan Pendidikan. Surabaya-Lamongan: Departemen Ilmu Sejarah Unair-Pagan Press
  12. Isdarwanto, T. dan Zulfa. 2010. Suku Sakai dalam tiga kekuasaan di Riau. Jurnal Ilmu Budaya, 6 (2), 1-11
  13. Iskandar, Usman. (2020). Keunikan tenun Suku Kajang. Media Indonesia, 31 Oktober
  14. Jati, W. D. Y. (2018). Revitalisasi dan Penataan Kawasan Pasar Johar sebagai Pusat Perdagangan Kota Semarang. Skripsi Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta
  15. Judda, J. (2017). Perempuan Adat Ammatowa Kajang. http://kalaliterasi.com/2017/09/11/perempuan-adat-ammatowa-kajang/, diakses pada 26 Oktober 2021
  16. Katu, M. A. (2005). Tasawuf Kajang. Makassar: Pustaka Refleksi
  17. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba (2014). Kecamatan Kajang Dalam Angka 2014
  18. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba (2015). Kecamatan Kajang Dalam Angka 2015
  19. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba (2016). Kecamatan Kajang Dalam Angka 2016
  20. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba (2017). Kecamatan Kajang Dalam Angka 2017
  21. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba (2019). Kecamatan Kajang Dalam Angka 2019
  22. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba (2020). Kecamatan Kajang Dalam Angka 2020
  23. Lubis, J. (1986). Ammatowa penyelamat hutan tua di Bulukumba. Majalah Mutiara, Juni
  24. Maarif, S. (2012). Dimensions of Religious Practice. The Ammatoans of Sulawesi, Indonesia. Disertasi pada Arizona State University
  25. Mattulada. (1971). Amma Toa Salah Satu Manifestasi Kebudayaan di Indonesia. Skripsi pada Universitas Hasanuddin
  26. Miles, M. B. & Huberman, A. M. (1992). Analisis Data Kualitatif, terjemahan Tjejeo Rohendi Rohadi. Jakarta: UI Press
  27. Ningsih, D. (2017). Perubahan sosial Budata Suku Sakai Kampung Minas Barat Kecamatan Minas Kabupaten Siak. Jom Fisip, 4(2), 1-12
  28. Nurfatiha, A. (2018). Kepemimpinan Perempuan Suku Kajang Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Perspektif Hukum Islam. Skripsi pada IAIN Alauddin Makassar
  29. Persoon, G. A., Eindhoven, M., Modina, R., Aquino, D. M. (2007). Indigenous Peoples in Southeast Asia. Sharing Knowledge-Building Capacity-Fighting Poverty-Saving Diversity. Leiden: RNIP
  30. Palengkahu, R. A., Basang, D., Saehr, Muthalib, A. Yatim, N. (1971). Dialek Konjo di Sulawesi Selatan. Laporan Penelitian LBN Tjabang III, Lembaga Bahasa Nasional Tjabang III, Ujung Pandang
  31. Rössler, M. (1990). Striving for modesty; Fundamentals of the religion and social organization of the Makassarese Patuntung. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 146 (2/3), 289-324
  32. Syarifudin. (2014). Komunikasi pemerintah dan masyarakat berbasis dialek budaya lokal (Studi kasus proses komunikasi penunjang pembangunan berbasis dialek Konjo pada masyarakat di Tana Toa Kajang Kabupaten Bulukumba). Jurnal Studi Komunikasi dan Media, 18(2), 247-257
  33. Usop, K. M. (1985). Pasang ri Kajang. Kajian sistem nilai masyarakat Amma Toa. Mukhlis dan Kathryn Robinson, Agama dan Realitas Sosial. Ujungpandang: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, 91-183
  34. Yogaswara, H. & Zamjani, I. (Ed.). (2019). Pendidikan Kontekstual Masyarakat Adat Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.