skip to main content

Gambaran Kepatuhan Minum Obat dalam Pengobatan Massal Pencegahan Filariasis Limfatik di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang

*Alfiko Aditya Mailana  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Lintang Dian Saraswati  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Nissa Kusariana  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Praba Ginandjar  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Open Access Copyright 2020 MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan negara endemis filariasis di Asia Tenggara dengan 236 kabupaten/ kota (46%) termasuk dalam daerah endemis. Kabupaten Semarang menjadi salah satu daerah endemis yang menjalankan POPM filariasis sejak tahun 2017. Pada tahun 2018 terjadi penurunan angka cakupan minum obat dan peningkatan jumlah kasus filariasis di Kabupaten Semarang. Hal tersebut dapat memengaruhi keberhasilan pelaksanaan POPM filariasis di Kabupaten Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kepatuhan minum obat masyarakat dalam POPM filariasis di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif menggunakan desain studi cross sectional dengan metode rapid survey. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang pada bulan September-Oktober 2019. Penelitian ini menggunakan cluster sampling dua tahap dengan unit sampling adalah rukun warga (RW). Jumlah cluster dalam penelitian ini adalah 30 cluster dengan besar sampel sebanyak 210 responden berusia ≥ 18 tahun.

Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang patuh meminum obat pencegahan filariasis (79,5%) lebih banyak terdapat pada responden dewasa berumur 18-44 tahun (84,6%), berjenis kelamin perempuan (82,8%), tamat SMP/ sederajat (85,7%), tidak bekerja (84,9%), berpengetahuan baik (90,9%), mendapat dukungan kader baik (94,7%), mendapat dukungan sosial baik (84,7%), dan tidak mengalami efek samping obat pencegahan filariasis pada periode pertama (92,7%). Sedangkan, alasan responden tidak meminum obat pencegahan filariasis paling banyak adalah karena takut terhadap efek samping obat (27,9%).

Simpulan: Responden dewasa (18-44 tahun), perempuan, tamat SMP/ sederajat, tidak bekerja, berpengetahuan baik, mendapatkan dukungan kader dan sosial baik, serta tidak mengalami efek samping obat pada POPM periode pertama lebih patuh dalam meminum obat pencegahan filariasis.

Kata kunci: Filariasis, kepatuhan minum obat, POPM

 

ABSTRACT

Title: Compliance of Taking Drugs in the Filariasis Mass Drug Administration at Banyubiru Sub-district Semarang Regency

Background: Indonesia is a filariasis endemic country in Southeast Asia with 236 endemic districts (46%). Semarang Regency has become one of the endemic districts that have been running filariasis MDA since 2017. There has been a decreasing of MDA coverage and increasing the number of filariasis cases in 2018. Those problems could affect the success of filariasis elimination. This study aims to describe the community's filariasis MDA compliance in Banyubiru Sub-district.

Method: This research is an observational descriptive study. Research was done using a cross-sectional design with a rapid survey method that was conducted in September-October 2019. This study used two-stage cluster sampling with rukun warga (RW) as sample unit, 30 clusters were selected with sample number was 210 of ≥18 years old respondents.

Result: Compliant respondents who took filariasis prevention drugs (79.5%) were mostly found in adult respondents aged 18-44 years (84.6%), female (82.8%), completed junior high school/ equivalent (85.7%), jobless (84.9%), have good knowledge (90.9%), have good cadre support (94.7%), have good social support (84.7%), and not experiencing filariasis prevention drugs side effect (92.7%). Meanwhile, respondents mostly did not take filariasis prevention drugs was because they were afraid with side effects of the drug (27.9%).

Conclusion: Respondents who adult (18-44 years old), female, graduated from junior high school/ equivalent, jobless, have good knowledge, have good cadre and social support, and not experiencing drugs side effects in the MDA first period are more compliant in taking filariasis prevention drugs.

 

Keywords: Filariasis, drug compliance, filariasis MDA

Fulltext View|Download
Keywords: filariasis; kepatuhan minum obat; POPM
Funding: Diponegoro University

Article Metrics:

  1. Goel TC, Goel A. Lymphatic filariasis. 1st ed. Singapore: Springer Nature Singapore Pte Ltd.; 2016
  2. King L. Neglected zoonotic diseases. In: Choffnes ER, Relman DA, editors. The causes and impacts of neglected tropical and zoonotic diseases: opportunities for integrated intervention strategies. Washington DC: The National Academies Press; 2011. p. 342–5
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Infodatin: menuju Indonesia bebas filariasis. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI; 2018
  4. Kementerian Kesehatan RI. Profil kesehatan Indonesia tahun 2017. Jakarta; 2018
  5. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Profil kesehatan Kabupaten Semarang tahun 2017. Kabupaten Semarang: Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang; 2019
  6. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Data cakupan minum obat POPM filariasis Kabupaten Semarang tahun 2018. Kabupaten Semarang; 2018
  7. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Data rekapitulasi BELKAGA Kabupaten Semarang tahun 2017. Kabupaten Semarang; 2017
  8. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Data penderita filariasis Kabupaten Semarang tahun 2019. Kabupaten Semarang; 2019
  9. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Data penderita filariasis Kabupaten Semarang tahun 2018. Kabupaten Semarang; 2018
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penanggulangan filariasis. 94 Indonesia: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia; 2014
  11. Srividya A, Subramanian S, Jambulingam P, Vijayakumar B, Dinesh Raja J. Mapping and monitoring for a lymphatic filariasis elimination program : a systematic review. Res Rep Trop Med. 2019;10:43–90
  12. World Health Organization. Steps in applying probability proportional to size and calculating basic probability weights [Internet]. [cited 2019 Jul 28]. Available from: https://www.who.int/tb/advisory_bodies/impact_measurement_taskforce/meetings/prevalence_survey/psws_probability_prop_size_bierrenbach.pdf
  13. Ambarita LP, Taviv Y, Sitorus H, Pahlepi RI, Kasnodihardjo. Perilaku masyarakat terkait penyakit kaki gajah dan program pengobatan massal di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari, Jambi. Media Penelit dan Pengemb Kesehat. 2014;24(4):191–8
  14. Park DC, Liu LL, editors. Medical adherence and aging: social and cognitive perspectives. 1st ed. Washington DC: American Psychological Association; 2007
  15. Notoatmodjo S. Ilmu perilaku kesehatan. 2nd ed. Jakarta: Rineka Cipta; 2014
  16. MacLennan J. Building in compliance from the start. In: Davies M, Kermani F, editors. Patient compliance: sweetening the pill. Aldershot: Gower Publishing Limited; 2006. p. 71–82
  17. Rusmini H, Suryawan B. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terhadap kepatuhan minum obat anti filariasis di Kabupaten Bogor. J Ilmu Kedokt dan Kesehat. 2014;1(3):1–15
  18. Conner M, Norman P. Predicting health behaviour. 2nd ed. London: Open University Press; 2005
  19. Astuti EP, Ipa M, Wahono T, Ruliansyah A. Analisis perilaku masyarakat terhadap kepatuhan minum obat filariasis di tiga desa Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung tahun 2013. Media Penelit dan Pengemb Kesehat. 2014;24(4):199–208
  20. Puluhulawa I. Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap status kesehatan masyarakat di Kecamatan Palu Selatan. e-Jurnal Katalogis. 2013;1(3):15–25
  21. Alamsyah A, Marlina T. Faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan menelan obat massal pencegah filariasis. J Endur. 2016;1(1):37–42
  22. Sitohang MY, Saraswati LD, Ginanjar P. Gambaran kepatuhan pengobatan massal di daerah endemis Kota Pekalongan. J Kesehat Masy. 2017;5(3):100–6
  23. Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health behavior and health education: theory, research, and practice. 4th ed. Orleans CT, editor. San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.; 2008
  24. Bahtiar S, Herman J, Rudi A. Perilaku minum obat anti filariasis. J Ilm Ilmu Kesehat. 2017;3(2):85–90
  25. Purnomo I, Supriyo, Hidayati S. Pengaruh faktor pengetahuan dan petugas kesehatan terhadap konsumsi obat kaki gajah (filariasis) di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Pena J Ilmu Pengetah dan Teknol. 2015;28(1):13–37

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-04-23 11:10:14

No citation recorded.