Keberhasilan Setelah Henti Jantung selama Torakotomi Emergensi disebabkan Luka Penetrasi Trauma Torak pada Kondisi Dengan Keterbatasan Fasilitas

*Mumya Camary -  Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara/ RS Haji Adam Malik Medan, Indonesia
Akhyar H Nasution -  Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara/ RS Haji Adam Malik Medan, Indonesia
Hasanul Arifin -  Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara/ RS Haji Adam Malik Medan, Indonesia
Published: 1 Mar 2014.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Laporan Kasus
Language: ID
Full Text:
Statistics: 1238 210
Abstract
Latar Belakang: Sebuah torakotomi darurat (kadang-kadang disebut sebagai torakotomi resusitasi) adalah torakotomi yang dilakukan untuk meresusitasi seseorang yang telah terluka parah setelah mengalami trauma berat pada rongga dada. Henti jantung dapat terjadi selama prosedur torakotomi yang memerlukan pijat jantung internal dan defibrilasi. Manajemen yang cepat dengan Kombinasi ramalan klinis, kemampuan untuk melihat perubahan tanda-tanda klinis, dan keberanian untuk melakukan prosedur bedah sederhana namun menyelamatkan nyawa dapat membawa perbedaan hasil bagi pasien luka dada bahkan di tempat dengan sumber daya terbatas.

Kasus: Laki-laki, 31 tahun, berat badan perkiraan 70 kg dirawat di Rumah Sakit Haji Adam Malik dengan keluhan luka tusuk di dada kiri. Pemrisaan ronsen dada menunjukkan hemothorax luas di sisi kiri. Dokter bedah membuka dada yang terkena luka tusuk dan terlihat kolaps paru dengan darah diperkirakan 2.500 ml dari hemitoraks kiri, ahli bedah memutuskan untuk melakukan sternotomy dan kemudian menemukan robekan pada arteri mamaria interna kiri dan diligasi, ditemukan robek ventrikel kanan tetapi tidak ada pendarahan dari luka. Serangan jantung terjadi dan ahli bedah mulai pijat jantung internal dan resusitasi cairan, 15 menit setelahnya EKG menunjukkan VF, defibrilasi internal pada 20 joule, EKG menunjukkan sinus takikardia 145/min, setelah mengontrol perdarahan, prosedur operasi selesai dan dilakukan pemasangan selang dada. Pasien dipindahkan ke ICU untuk observasi. Pasien stabil dan tidak ada komplikasi pada pasca operasi . Pasien dipulangkan pada harike 8 pasca operasi.

Ringkasan: Keputusan untuk melakukan torakotomi darurat melibatkan evaluasi yang cermat di bidang  ilmiah, isu-isu etika, sosial dan ekonomi. Manajemen yang cepat dengan Kombinasi ramalan klinis, kemampuan untuk melihat perubahan tanda-tanda klinis, dan keberanian untuk melakukan prosedur bedah sederhana namun menyelamatkan nyawa dapat membawa perbedaan hasil bagi pasien luka dada bahkan di tempat dengan sumber daya terbatasTabungan Waktu adalah tabungan hidup.

 
Keywords
torakotomi darurat; henti jantung

Article Metrics:

  1. American College of Surgeons Committee on Trauma. Thoracic Trauma. In: Advanced Trauma Life Support for Doctors. 6th ed. USA: American College of Surgeons; 1997.p.147-63
  2. Cohn SM. Pulmonary Contusion: Review of the clinical entity. J Trauma. 1997 ;42(5):973-9
  3. Kulshreshi P, Munshi I, Wait R. J. Profile of chest trauma in a level 1 trauma centre. J Trauma. 2004 ;57(3):576-81
  4. Woodall N. Fibre-optic intubation including local anaesthesia for awake intubation. Anaesthesia and Intensive Care Medicine 2005; 6 (8) : 273-6
  5. Lim E, Goldstraw P. Insertion of a chest tube to drain pneumothorax. Anaesth Intensive Care Med. 2008;9(12):520-2
  6. Brasel KJ, Stafford RE, Weigelt JA, Tenquist JE, Borgstrom DC. Treatment of occult pneumothoraces from blunt trauma. J Trauma. 1999 Jun;46(6):987-90; discussion 990-1
  7. Parry GW, Morgan WE, Salama FD. Management of haemothorax. Ann R Coll Surg Engl 1996;78:325-326
  8. Spodick DH. Acute cardiac tamponade N Engl J Med. 2003;349(7):684-90
  9. Rhee PM, Acosta J, Bridgeman A. Survival after emergency department thoracotomy: review of published data from the past 25 years. J Am Coll Surg 2000;190:288-298