Editorial

DOI: https://doi.org/10.14710/jscl.v2i1.15054
Copyright (c) 2017 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 20-06-2017
Published: 20-06-2017
Section: Editorial
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author
Aspek kebudayaan telah lama tidak menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Orientasi pembangunan nasional yang melulu pada pembangunan fisik (sarana dan prasarana), dan karenanya pendekatan yang digunakan pun sangat materialistis, telah menempatkan kebudayaan sebagai “anak tiri” pembangunan. Beberapa peristiwa politik nasional yang berkembang, mau tidak mau memaksa kita untuk kembali melihat kebudayaan dengan segala aspeknya, termasuk di dalamnya adalah penciptaan identitas kelompok yang semakin menguat. Ketika dahulu orang Indonesia berupaya untuk meleburkan diri dengan kelompok-kelompok arus utama (baik politik mapun budaya), saat ini orang menjadi semakin butuh untuk memiliki identitas yang berbeda dengan yang lain. Ketika sebelumnya menjadi liyan (orang lain) adalah sesuatu yang “tabu” dan senantiasa dihindari, saat ini orang Indonesia justru berusaha keras untuk menjadi apa yang disebut dengan liyan itu
  1. Rabith Jihan Amaruli 
    Departemen Sejarah FIB Undip