Di Bawah Bayang-Bayang Kota: Penataan Daerah di Provinsi Banten dari Zaman Kolonial sampai Zaman Reformasi

*Radjimo Sastro Wijono  -  , Indonesia
Received: 1 Oct 2017; Published: 22 Nov 2017.
Open Access Copyright (c) 2017 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 1151 1482
Abstract
Artikel ini membahas reformasi wilayah yang berlangsung di provinsi termuda di Indonesia yaitu Banten sejak zaman penjajahan Belanda sampai masa reformasi. Reformasi wilayah yang terjadi di daerah ini sangat menarik untuk dipelajari. Situasi politik-ekonomi merupakan faktor utama terjadinya reformasi wilayah di Banten. Dengan menggunakan metode sejarah, perubahan pengaturan wilayah Banten diketahui telah terjadi beberapa kali sejak masa penguasa tradisional (kesultanan) yang dilumpuhkan oleh pemerintah kolonial pada abad ke-19 hingga masa reformasi. Pada masa kolonial, Gubernur Jenderal Daendles mereformasi wilayah Banten menjadi tiga kabupaten yaitu Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer. Sementara itu, pada masa kolonial Inggris wilayah Banten dibagi menjadi empat kabupaten yaitu Banten Lor, Banten Kulon, Banten Tengah, dan Banten Kidul. Perubahan kebijakan reformasi teritorial itu tentu saja membawa dampak dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya. Regulasi penataan wilayah di Banten tidak hanya dipengaruhi oleh bayang-bayang situasi politik dan ekonomi dari Jakarta dan Bandung, tetapi juga berdasar pada aspek ekologis serta kepentingan umum masyarakat yang multikultur.
Keywords
Penataan Wilayah; Perubahan Sosial; Banten dalam Lintasan Orde

Article Metrics:

  1. ADB. (1999). Asian Development Bank Outlook 1999. Oxford: Oxford University Press.
  2. Azra, Azyumardi (2002). Hitoriografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah. Jakarta: Gramedia.
  3. Badan Pusat Statistik. (2005). Banten dalam Angka 2005. Serang: BPS.
  4. Cartesao, Armando (1944). The Suma Oreintal of Pires, Jilid 2. London: The Hakluyt Society, dalam “Banten Sebelum Islam” Ayatrohaedi dalam Sri Sutjianingsih (ed.). Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra: Kumpulan Makalah Diskusi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  5. Chaniago, A. Andirnof (2003). Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia. Jakarta: LP3ES.
  6. Djajadiningrat, Hoesein (1983). Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten. Jakarta: Djambatan dan KITLV.
  7. Djiwandono, J. Soedradjat (2000). “Bank Indonesia and the Recent Crisis”, Bulletin of Indonesia Economic Studies, Vol. 36 (1).
  8. Guillot, Claude et.al. (1994). Banten Sebelum Zaman Islam: Kajian Arkeologi di Banten Girang 932 (?) – 1526. Yogyakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient.
  9. Hill, Hall (2000). The Economy in Crisis - Causes, Consequences and Lessons. Singapura: ISEAS.
  10. Jackson, Karl D. (1999). “Introduction: The Roots of the Crisis, dalam Karl D Jackson (ed.). Asian Contagion: The Causes and Consequences of a Financial Crisis. Colorado: Westview Press.
  11. Kahin, George McTurnan (1995). Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia (penerjemah Nin Bakdi Soemanto). Solo: UNS Press dan Sinar Harapan.
  12. Kartodirdjo, Sartono (1984). Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: Pustaka Jaya.
  13. Kompas, 11 Februari 2000
  14. Kompas, 13 September 2000
  15. Kompas, 2 Agustus 1999
  16. Kompas, 21 Februari 2000
  17. Kompas, 21 Maret 2000
  18. Kompas, 22 Februari 2000
  19. Kompas, 23 Februari 2000
  20. Kompas, 27 Januari 2000
  21. Kompas, 27 Maret 2000
  22. Kompas, 3 Februari 2000
  23. Kompas, 3 Maret 2000
  24. Kompas, 4 Februari 2000
  25. Kompas, 5 Juli 1999
  26. Kompas, 7 April 2000
  27. Kompas, 7 Agustus 1999
  28. Kompas, 9 Februari 2000
  29. Kompas, 9 Maret 2000
  30. Kurosawa, Aiko (1993). Mobilisasi dan Kontrol. Jakarta: Grasindo.
  31. Lapian, A. B. (2004). “Banten”. Naskah Laporan (tidak diterbitkan).
  32. Lapian, A. B. (1992). “Sejarah Nusantara Sejarah Bahari”. Pidato Pengukuhan Guru Besar Luar Biasa FSUI.
  33. Lubis, Nina H. (2003a). Banten dalam Pergumulan Sejarah: Sultan, Ulama, Jawara. Jakarta: LP3ES.
  34. Lubis, Nina H. (2003b). Sejarah Kota-Kota di Jawa Barat. Bandung: Alqoprint.
  35. Michrob, H. & Chudori, A. M. (1993). Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota Islam Banten; Suatu Kajian Arsitektural Kota Lama Banten Menjelang Abad XVI sampai dengan XX. Jakarta: Yayasan Baluwati.
  36. Nakamura, Mitsuo (1988). Jenderal Imamura dan Periode Awal Pendudukan Jepang. Jakarta: YOI.
  37. Oppenheimer, Stephen (2001). Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia. Phoenix: paperback.
  38. Radar Banten, 2, 5, 8, 18 Mei 2007
  39. Roesjani, Tb. (1954). Sedjarah Banten. Jakarta: Arief.
  40. Semah, F et.al. (1990). Mereka Menemukan Pulau Jawa. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Museum National d’Histoire Naturelle.
  41. Setia, Bambang Budi (2002). ”Masjid Agung Banten: Bukti Kejayaan Kesultanan Banten”, Kompas, 2 Juni 2002.
  42. Soeara Merdeka, 9 Oktober 1945
  43. Syafrudin, Ateng, et.al. (1993). Sejarah Pemerintahan di Jawa Barat. Bandung: Pemda Tingkat I Jawa Barat.
  44. Thee Khian Wie (2004). Pembangunan, Kebebasan, dan “Mukjizat” Orde Baru: Esai-esai. Jakarta: Kompas & Freedom Institute.
  45. Tim Penyusun (2003). Sistem Informasi dan Dokumentasi Penataan Ruang Wilayah Tengah Buku Profil Penataan Ruang Propinsi Banten. Jakarta: Depkimpraswil.
  46. Tim Penyusun Subdin Kebudayaan (2003). Profil Seni Budaya Banten. Serang: Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
  47. Tjandrasasmita, Uka (2000). Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi. Kudus: Menara Kudus.
  48. Utomo, Djoko (1997). “Banten dalam Sumber Arsip: Suatu Pengamatan Awal,” dalam Sri Sutjianingsih (ed.). Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutra: Kumpulan Makalah Diskusi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  49. Wertheim, W. F. (1958) The Indonesian Town Studies in Urban Sociology. The Haque: W. van Hoeve Ltd.
  50. Wignjosoebroto, Soetandyo (2004). Desentrali-sasi dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda: Kebijakan dan upaya sepanjang babak akhir kekuasaan kolonial di Indonesia (1900-1940). Malang: Bayumedia.
  51. Wijono, Radjimo S. & Tandiono, Bawor P. (2004). Bermain Kayu Pembangunan: Potret Kotor Industrialisasi di Jawa. Semarang: LBH Semarang, Mesias Fokalis.
  52. https://www.bantenprov.go.id/, diakses pada 24 Januari 2007.
  53. Wawancara
  54. KH. Encep Badruzzaman Raffly, tokoh masyarakat Pandeglang, 20 Mei 2007.
  55. Tohir (83 tahun), pelaku sejarah, 2 Mei 2005.