Bersekolah di Tanah Pengasingan: Boven Digul, 1927-1943

*Langgeng Sulistyo Budi  -  Arsip Nasional Republik Indonesia, Indonesia
Received: 14 Aug 2017; Published: 22 Nov 2017.
Open Access Copyright (c) 2017 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: IDN
Full Text:
Statistics: 666 814
Abstract

Artikel ini membahas tentang penyelenggaraan pendidikan di kamp pengasingan Boven Digul pada periode antara tahun 1927-1943. Beberapa persoalan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah mengenai jenis sekolah yang didirikan di Boven Digul, para pelaku dalam proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah itu, dan dampak dari keberadaan sekolah-sekolah itu baik bagi para penghuni kamp maupun masyarakat Boven Digul. Metode Sejarah dengan pendekatan sosiologis digunakan dalam penelitian ini, dengan sumber berupa arsip dan wawancara. Kamp pengasingan Boven Digul didirikan oleh pemerintah Belanda dan dioperasikan mulai dari 1927 sampai dengan 1943. Tahanan politik yang diasingkan di kamp ini pada awalnya adalah mereka yang terlibat dalam pemberontakan komunis di Banten (Jawa Barat) dan Sumatera Barat pada 1926-1927. Namun, pada tahun-tahun berikutnya para tokoh nasionalis juga menjadi penghuni kamp itu. Para tahanan diizinkan untuk membawa keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di kamp pengasingan, pemerintah kolonial Belanda pada 1927 mendirikan Standaardschool, dan kemudian menjadi Standaardschool met Nederlandsch. Kelompok tahanan naturalisten juga diizinkan untuk mendirikan sekolah bernama Malay English School (MES), yang kemudian menjadi sekolah “tiga keluarga”, diadakan di rumah-rumah para tahanan. Pada 1940-an, murid-murid dari sekolah “tiga keluarga” dimasukkan ke Standaardschool, sebab banyak guru yang beralih profesi. Mereka mencari nafkah lain ketika suplai bantuan menurun akibat blokade Jepang terhadap perairan di sekitar Papua. Baik Standaardschool, MES maupun sekolah “tiga keluarga” hanya diperuntukkan bagi keluarga para tahanan politik. Oleh karena itu, keberadaan sekolah-sekolah itu tidak memberi pengaruh pada masyarakat asli di sekitar kamp pengasingan.

Keywords
Boven Digul;Pendidikan; Kamp Pengasingan; Tahanan Politik; Papua

Article Metrics:

  1. ANRI, “Arsip Binnenlandsch-Bestuur 1927-1942, 1954”, No. 215.
  2. ANRI, “Arsip Boven Digoel 1927-1942, 1954”, No. 317.
  3. ANRI, “Arsip Boven Digoel 1927-1942, 1954”, No. 318.
  4. ANRI, “Arsip Boven Digoel 1927-1942, 1954”, No. 319.
  5. ANRI, “Boven Digoel 1927-1942, 1954”, No. 211.
  6. ANRI, “Boven Digoel 1927-1942, 1954”, No. 46.
  7. Aritonang, Jan. S. (1988). Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak: Suatu Telaah Historis-Teologis Atas Perjumpaan Orang Batak dengan Zending (khususnya RMG) di Bidang Pendidikan, 1861-1940. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  8. Bondan, Molly (2008). Spanning a Revolution: Kisah Mohamad Bondan, Eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  9. De Jong, L. (2002). The Collapse of a Colonial Society: the Dutch in Indonesia during the Second World War. Leiden: KITLV Press.
  10. Elson, R.E. (2009). The Idea of Indonesia: Sejarah Pemikiran dan Gagasan. Terjemahan Zia Anshor. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
  11. Furnivall, J.S. (2009). Hindia Belanda: Studi tentang Ekonomi Majemuk. Terjemahan Samsudin Barlian. Jakarta: Freedom Institute.
  12. Groeneboer, Kees (1995). Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda, 1600-1950, Sejarah Politik Bahasa. Terjemahan Jessy Augusdin. Jakarta: Erasmus Taal Centrum.
  13. Hadler, Jeffrey (2010). Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisme di Minangkabau. Terjemahan Samsudin Berlian. Jakarta: Freedom Institute.
  14. Kahin, George McT. (1990). Molly Bondan: 1912-1990. Indonesia, No. 50.
  15. Kartodirdjo, Sartono (1990). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme sampai Nasionalisme. Jilid 2. Jakarta: PT. Gramedia.
  16. Kartodirdjo, Sartono (1993). Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  17. Kartomi, Margaret J. (2005). Gamelan Digul: di balik Sosok Seorang Pejuang: Hubungan antara Indonesia dengan Australia. Terjemahan Hersri Setiawan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  18. Lockwood, Rupert (1983). Armada Hitam. Terjemahan Koesalah Soebagijo Toer. Jakarta: PT. Gunung Agung.
  19. Nordholt, Henk S., Purwanto, B., dan Saptari, R. (ed.) (2008). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta-Denpasar: Yayasan Obor Indonesia, KITLV, Pustaka Larasan.
  20. Pandji Poestaka, No. 53, 2 Juli 1929, Tahoen VII.
  21. Pranoto, Suhartono W. (2010). Teori dan Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  22. Shiraishi, Takashi (2001). Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial. Terjemahan Endi Haryono, Nicolaus Loy, dan Nur Khoiron. Yogyakarta: LKiS.
  23. Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1893, No. 125.
  24. Sudiri Panyarikan, I Ktut (1996). “Sejarah Pendidikan di Indonesia: Jenjang Pendidikan Dasar pada Jaman Hindia Belanda Tahun 1900-1942”, Forum Penelitian Kependidikan Th. 8, Desember.
  25. Tsuchiya, Kenji (1992). Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Taman Siswa. Terj. H.B. Jassin. Jakarta: Balai Pustaka.
  26. Wawancara
  27. Trikoyo (83 tahun) pada 3 November 2010.
  28. Siti Chamsinah (84 tahun) pada 7 Desember 2010.