Relasi Nasionalisme Etnik, Nasionalisme Negara dan Nasionalisme Kewarganegaraan di Papua

*Susanto T. Handoko  -  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih, Indonesia
La Ode Hasirun  -  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih, Indonesia
Received: 17 Jul 2019; Revised: 8 Aug 2019; Accepted: 11 Dec 2019; Published: 12 Dec 2019; Available online: 11 Dec 2019.
Open Access Copyright (c) 2019 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

This article aims to discuss the dynamics of relations between ethnic nationalism, civic nationalism and state nationalism in the Land of Papua. The growth and development of Papuan ethnic nationalism since the integration of Papua into reform was caused by Indonesian state policies. Historical method is used in this research. The research approach is a qualitative approach to phenomenological research design. Strengthening Papuan ethnic nationalism due to the Central Government's (Jakarta) policies that were not fully accepted by indigenous Papuans. The Papuan people felt marginalized and discriminated against in the process of development in both the political, economic, social and cultural fields, especially during the New Order government. Papuan ethnic nationalism is characterized by demands for independence from the Indonesian state and instrumentalization of ethnicity for political purposes. Ethnic nationalism eventually shifts the civic and or state nationalism as part of the Indonesian state.

Keywords
Ethnic Nationalism; State Nationalism; Civic Nationalism; Papua.

Article Metrics:

  1. Abdullah, T. (2001). Nasionalisme & Sejarah. Bandung: CV. Satya Historika.
  2. Aditjondro, G. J. (2000). Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Elsam.
  3. Afwan, B. A. (2015). Mutiara Terpendam Papua: Potensi Kearifan Lokal untuk Perdamaian di Tanah Papua. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM.
  4. Amboro, K. (2015). “Membangun Kesadaran Berawal Dari Pemahaman: Relasi Pemahaman Sejarah Dengan Kesadaran Sejarah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Metro. Jurnal Historia, 3(2): 109-118.
  5. Andriana, N. (Ed.). (2016). Nasionalisme dan Keindonesiaan di Perbatasan. Yogyakarta: Calpulis – LIPI.
  6. Creswell, J. W. (2014). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  7. Crisis Group Asia Briefing No 66, 19 Juli 2007. Papua: Perspektif Lokal atas Konflik. Jakarta/Brussels: International Crisis Group.
  8. Crisis Group Asia Report No 154, 16 Juni 2008. Indonesia: Ketegangan Antar Agama di Papua. Jakarta/Brussels: International Crisis Group.
  9. Crisis Group Asia Report No 188, March 11, 2010. Radicalisation and Dialogue in Papua. Jakarta/Brussels: International Crisis Group.
  10. Edy, A, N., Setyowati, D, L., & Wasino, 2018. “Implementation of Character Education through Nationality Historical Learning in SMK Negeri Karangdadap Pekalongan Regency”. Journal of Educational Social Studies (JESS), 7(1): 61-66.
  11. Hardiansyah, A. (2013). “Teori Pengetahuan Edmund Husserl”. Jurnal Substantia. Vol. 15(2): 228-238.
  12. Hasbiansyah (2008). “Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi”. Jurnal Mediator, 9(1):163-180.
  13. Iry, A. G. (2009). Dari Papua Meneropong Indonesia: Darah Mengalir di Bumi Cenderawasih. Jakarta: Grasindo.
  14. Jailani, M. S. (2013). “Ragam Penelitian Qualitative (Ethnografi, Fenomenologi, Grounded Theory dan Studi Kasus)”. Jurnal Edu-Bio, 4: 41-50.
  15. Jati, W. R. (Ed.). (2017). Relasi Nasionalisme dan Globalisasi Kontemporer: Sebuah Kajian Konseptual. Yogyakarta: Pustaka Pelajar - LIPI.
  16. Kaisiepo, M. (1999). “Ke-Irian-an dan Ke-Indonesia-an: Mengkaji Nasionalisme dalam Konteks Lokal”, dalam Palit, D.I, (Ed.), Dinamika Nasionalisme Indonesia. Salatiga: Yayasan Bina Darma.
  17. Kartodirdjo, S. (1994). Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Kesadaran dan Kebudayaan Nasional. Yogyakarta: Aditya Media.
  18. Larasati, C. E. (2014). “Representasi Identitas Etnis Papua Dalam Film Lost In Papua”. Jurnal Commonline Departemen Komunikasi, 3 (3): 488-497.
  19. Lefaan, A. (2018). “Mengantisipasi Politik Representasi Menjelang Pilkada 2018 Di Papua (Fenomena Politik Dari Masa ke Masa yang Tidak Pernah Pupus)”. Jurnal Ilmu Sosial, 16(1): 35-40.
  20. Lindayanti & Zaiyardam, (2015). “Konflik dan Integrasi Dalam Masyarakat Plural: Jambi 1979-2012”. Jurnal Paramita, 25(2): 169-184.
  21. Lumintang, O. M. (2012). “Konflik Tanah Di Arso Papua 1980-2002”. Jurnal Paramita, 22 (1): 69-80.
  22. Mahfud, C. (2014). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  23. Mambraku, N. S. (2015). “Penyelesaian Konflik di Tanah Papua Dalam Perspektif Politik”. Jurnal Kajian, 20 (2): 75-85.
  24. Marit, E, L., & Warami, H. (2018). “Wacana ‘Papua Tanah Damai’ Dalam Bingkai Otonomi Khusus Papua”. Jurnal Ilmu Sosial, 16 (1): 41-46.
  25. Meteray, B. (2012). Nasionalisme Ganda Orang Papua, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
  26. Narwaya, St, T, G., Faruk, H, T. & Budiawan, (2018). “Politik Negosiasi Diskursus Rekonsiliasi 1965 Dan Imaji Keindonesia-an Pasca-Orde Baru”. Jurnal Politik Profetik, 6 (1): 54-74.
  27. Novianti, D., & Tripambudi, S. (2014). “Studi Fenomenologi: Tumbuhnya Prasangka etnis di Yogyakarta”. Jurnal Ilmu Komunikasi, 12 (2): 119-135.
  28. Nugroho, R, (2008). Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi, dan Strategi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  29. Pamungkas, C. (2016). “Nationalism of Border Society: Case Study of Sangir People, Sangihe Regency”. Journal Komunitas, 8(1): 59-72.
  30. Pujiriyani, D. W. (2013). “Re-Imajinasi Ke-Indonesiaan Dalam Konteks “Network Society”. Jurnal Komunitas, 5 (2): 151-161.
  31. Rachman, M. (2015). 5 Pendekatan Penelitian. Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama.
  32. Rahab, A. (2006). “Operasi-Operasi Militer di Papua: Pagar Makan Tanaman?”. Jurnal Penelitian Politik, 3 (1): 3-23.
  33. Reumi, F. (2015). “Semangat Otonomi Khusus dan Sistem Federal Dalam Mempertahan-kan NKRI”. Jurnal Hukum dan Masyarakat, 14 (2): 100-129.
  34. Samego (2008). Menumbuhkan (Kembali) Nasiona-lisme Melalui Nilai-Nilai Kearifan Lokal. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
  35. Senis, Y. (2013). “Globalisasi dan Kemiskinan Di Papua Dalam Perspektif Gramsci”. Jurnal Dinamika Sosial, 1 (1): 39-48.
  36. Soedharto, (1995). Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia di Irian Jaya. Jayapura: DHD-45 Provinsi Irian Jaya dan BP-7 Provinsi Irian Jaya.
  37. Supriyono, J. (2014). “Diskursus Kolonialistik dalam Pembangunan di Papua: Orang Papua dalam Pandangan Negara”. Jurnal Ultima Humaniora, (2) 1: 59-78.
  38. Surakhmad, W. (2009). Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
  39. Suryadi, A., Hayat, B., Rustana, C., & Abduhzen, M. (2014). Pendidikan untuk Transformasi Bangsa: Arah Baru Pendidikan untuk Perubahan Mental Bangsa. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
  40. Suryawan, I. Ng. (2012). “Dari Memoria Passionis Ke Foreri: Sejarah Politik Papua 1999-2000”. Jurnal Paramita, 22 (2): 143-156.
  41. Trajano, J.C.I. L. (2010). “Ethnic Nationalisme and Separatism in West Papua, Indonesia”. Journal of Peace, Conflict and Development, Issue 16: 12-35.
  42. Widjojo, M. S. (Ed.). 2009. Papua Road Map: Negotiating the Past, Improve the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI – Yayasan Tifa – Yayasan Obor Indonesia.
  43. Wonda, Y. (2016). “Responsitif Kebijakan Pemerintah Terhadap Dinamika Perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Di Kabupaten Puncak Jaya”. Jurnal Ekologi Birokrasi, 2 (1): 108-121.
  44. Zuhdi, S. (2017). Integrasi Bangsa Dalam Bingkai Keindonesiaan. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.