Demokrasi dalam Ruang Khayal Bangsawan dan Birokrat-Politisi Maluku Utara

*Murid Murid  -  Program Studi S3 Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Received: 2 Aug 2019; Revised: 2 Nov 2019; Accepted: 8 Nov 2019; Published: 12 Dec 2019; Available online: 11 Dec 2019.
Open Access Copyright (c) 2019 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

In response to the total reform of national political system, aristocrats and bureaucrats-politicians of North Maluku called for the establishment of North Maluku Province. They recited the sultanate's political system, which was claimed to be democratic, into a governance system implemented specifically in the region. As a result, they eventually found themselves in conflict before the establishment of the province. Bureaucrats-politicians rejected the Sultan's ideas because they considered such ideas that would revive feudalism so as to control the country's economic resources after the establishment of the province. This study reviews, understands, interprets and reflects why aristocrats and bureaucrats-politicians recited the political system of the sultanate in the republic era and then they entered the contest. By using a post-structuralism perspective, data were collected through in-depth interviews and casual conversation.  This study has found that political system is recited in order to provide antithesis to decentralization which is considered to have failed to advance development and prosperity of the people in the region. In addition, in the context of discourse, the recitation of the sultanate's political system is a new act of "historical creation" for the sultanate and themselves to achieve certain political interests. Therefore, the contestation between aristocrats and bureaucrats-politicians is caused by the process of socio-cultural and sociopolitical transformation they have made, whose traces are easily found in myths of the origin of the kingdoms and kings and historical data of European nations.

Keywords
Resitasi Sejarah Kesultanan; Politik Marjinalitas; Otonomi Daerah,; Globalisasi.

Article Metrics:

  1. Amal, M. A. (2010). Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  2. Andaya, L. Y. (1991). “Local Trade Network in Maluku in the 16th and 18th Centuries”. Journal Cakalele, Vol. (2) 2: 71-96.
  3. Baswedan, A. (2014). “Prakata”, dalam Davidson dan Van Klinken (Ed). Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: Pustaka Yayasan Obor Indonesia dan KITLV. xiii-xv.
  4. Bertrand, J. (2012). Nasionalisme dan Konflik Etnis di Indonesia. Yogyakarta:Ombak
  5. Bubandt, N. (2014). “When Trauma Come to Halmahera–Global Governance, Emotion Work. and Reinvention of Spirit in North Maluku”, dalam Stodulka and Rottger-Rossler (Eds). Feelings at the Margins: Dealing with Violence, Stigma and Isalation in Indonesia. Rankfurt - New York Campus Verleg. 81-102.
  6. Buchari, S. A. (2014). Kebangkitan Etnis Menuju Politik Identitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  7. Bujang, A. S. dan Assagaf. N (2000). “Maluku Utara Membara: Loputan Kronologi Kerusuhan di Maluku Utara.” Ternate: Naskah tidak diterbitkan.
  8. Burnet, I. (2011). Spice Islands: The History, Romance and Adventure of the Spice Trade Over 2000 Years. Australia: Rosenberg Publishing Pyt, Ltd.
  9. Clummings, W. (2015). Menciptakan Sejarah Makassar di Bawah Era Modern. Yogyakarta: Ombak.
  10. D’Andrea, C. (2013). Kopi, Adat dan Modal: Teritorialisasi dan Identitas Adat di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. Jakarta-Bogor-Palu: Yayasan Tanah Air Beta, Sayogyo Institute, dan Yayasan Tanah Merdeka.
  11. De Clereq, F. S. A. (1999). Ternate: The Redidency and Its Sultante. Washington, DC-UAS: Smithsonian Institut.
  12. Eindhoven, M. (2014). “Penjajah Baru?: Identitas, Representasi, dan Pemerintahan di Kepulauan Mentawai Pasca-Orde Baru”: 87-115). Dalam Nordholt S.S dan Gerry van Klinken (Ed). Politik Lokal di Indonesia. Jakarta, Pustaka Yayasan Obor Indonesia dan KITLVI.
  13. Fautngil, Ch. (1983). “Faktor-Faktor Penyebab Multilinguisme di Kepulauan Raja Ampat”, dalam E.K.M. Masinambow (Ed). Halmahera dan Raja Ampat: Studi-Studi Terhadap Suatu Daerah Transisi. Jakarta: LEKNAS-LIPI. 147-159.
  14. Graffland, N. (1991). Minahasa: Negeri, Rakyat dan Budayanya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  15. Hadiz, V. R. (1998). “Reformasi Total: Labour After Soeharto”. Journal Indonesia, 66:109-124.
  16. Hasyim, R. (2016). “Partisipasi Politik Elit Kesultanan Ternate dalam Dalam Perubahan Rezim: Sejarah Politik Ternate, 1946-2002”. Disertasi Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
  17. Haug, M. (2014). “What Make a Good Life – Changing Marginality and Dayak Benuaq Subjective Wellbeing in East Kalimantan”, in Stodulka T. & Rotiger-Rossier, B. (eds), Feeling The Margins: Dealing whit Violence, Stigma, and Isolation in Indonesia. Frankfurt-on-Main: Campus Verlag GmbH.30-52.
  18. Heehs, P. (1994). “Myth, History, and Theory”. History and Theory, 33 (1): 1-19. Diundu dari:
  19. Hendley, D. & Davidson, J. (2010). “Pendahahuluan: Konservatisme Radikal – Aneka Wajah Politik Adat”, dalam Davidson J, Hendley J. dan Moniaga, S. (Ed.) Adat Dalam Politik Indonesia. Jakarta: Pustaka Yayasan Obor Indonesia, halaman 1-55.
  20. Issage, N. (1980). The Traditional Spririt World”, in Issage, N. (ed). The Galela of Helmahera; A Preliminary Survey. Osaka-Japan: National Moseum of Etnology, 401-447.
  21. Jones, P. (2009). Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Fungsional hingga Post-Modernisme. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  22. Leirissa, R. Z. (1990). “Masyarakat Halmahera dan Raja Jailolo: Studi tentang Masyarakat Maluku Utara”. Disertasi pada Universitas Indonesia.
  23. Leirissa, R. Z. (2003). “Menentukan Hari Jadi Ternate”, dalam Ammarie, F. dan Siokona, S. Ternate (Ed). Ternate: Pemerintah Kota Ternate. 11-27.
  24. Leirissa, R. Z. et al. (1999). Sejarah Kebudayaan Maluku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  25. Leirissa, R. Z. et al. (1999). Ternate sebagai Jalur Bandar Sutra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  26. Laksono, P. M. (2009). Peta Jalan Antropologi Indonesia Abad Keduapuluh Satu: Memahami Invisibilitas (Budaya) di Era Globalisasi Kapital. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
  27. Laksono, P. M. (2006). Pergulatan Identitas – Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut. Yogyakarta: Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada dan Galang Press.
  28. Lapian, A. B. (1991). “Manusia Minahasa: Sejarah dan Adat Istiadatnya”, dalam E.K.M. Masinambow, et al. (eds), Si Tou Timou Tumou Tou: Peranan Manusia Minahasa dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Kerukunan Keluarga Kawanua. 131-136.
  29. Lapian, A. B. (2003). “Ternate di Masa Awal: Upaya Mencari Hari Jadi Kota”, dalam Ammari, F. dan Siokona, S. (ed). Ternate, Ternate: Pemerintah Kota Ternate. 28-58.
  30. Legge, J. D. (1993). Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Syahrir. Jakarta. Pustaka Utama Grafiti.
  31. Lipton, M. (1978). Why Poor People Stay Poor: Urban Biasin World Development. London: Temple Smith.
  32. Mahmud, I. (2014). Kelompok Etnis dalam Pelukan Elit Lokal: Instrumentasi, Komodifikasi dan Kandidasi. Ternate: UMMU Press.
  33. Mangunwijaya, J. B. (1978) Ikan-Ikan Hidu, Ido, Homa. Jakarta: Jambatan.
  34. Mansoben, J. R. (1980). “Sistem Pemerintahan Tradisional di Salawati, Raja Ampat”, dalam Masinambow, E.K.M (ed), Halmahera dan Raja Ampat; Konsep dan Strategi Penelitian. Jakarta: LEKNAS-LIPI.151-168
  35. Mansoben, J.R. (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta: LIPI-RUL.
  36. Mintz, S. W. (1987). Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History. USA: Pinguin
  37. Muller, S. (2013). “Adat as a Means of Unification and its Contestation: The Case of North Halmahera, ini Hauser-Schaublin, B (ed). Adat and Indigenity in Indonesia: Culture and Entitle-ment between Heteronomy and Self-Ascription. Theaterplaz 7: Gottingen Studies in Culture Property, Universitatverslag Gottingen. 99-114.
  38. Murray Li, T. (2010). “Adat di Sulawesi Tengah: Penerapan Kontemporer”, dalam Davidson, J, Henley, D dan Moniaga, S. (ed). Adat dalam Politik Indonesia. Kleden, E.O. dan Dwisasanti, N. Jakarta: Pustaka Yayasan Obor, halaman 367-405.
  39. Murray Li, T. (2012). The Will to Improv: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia. Bintora: Margin Kiri.
  40. Naidah. (1878). “Geschedenis van Ternate, in der Ternataanschen en Meleischen Tekst, beschreven door der Ternatataan Naidah, Met Vertaling en Aantekeringen door P. van der Grab”. Brijdragen tot de taal-, Land en Volkenduknde van Nederlandsch-Idie.
  41. Perret, D. (2010). Kolonialisme dan Identitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Ecole Francaise d’Extreme-Oriente, Farum Jakarta-Paris dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  42. Pigafetta, A. (1972). L’Indonesia Nella Relazione di Viaggio di Antonio Pigafetta. Roma.
  43. Pirres, T. (2015). Suma Oriental. Yogyakarta: Ombak.
  44. Platenkamp, D. J. M. (1993). “Tobelo, Moro, Ternate: The Cosmoligical Volarization of History Event”. Journal Cakalele (4):61-89. Honolulu: Hawaii University.
  45. Qadir, Z. dan Sulaksono (2012). “Politik Rente dan Konflik di Daerah Pemekaran: Kasus Maluku Utara”. Working Papper No. 002/JKSG/2012.
  46. Sangaji, A. (2010). “Kritik terhadap Gerakan Masyarakat Adat di Indonesia”, dalam Davidson, J. Henley, D dan Moniaga, S. (Ed), Adat Dalam Politik Indonesia. Jakarta, Pustaka Yayasan Obor Indonesia:347-366.
  47. Sarup, M. (2003). Poststrukturalisme dan Postmo-dernisme: Sebuah Pengantar Kritis. Yogyakarta: Jendela.
  48. Shils, E. (1981). Tradition. Chicago: The Chicago of University Press.
  49. Sidel, J.T. (1998). “Macet Total: Logics of Circulation and Accumulation in the Demise of Indonesia’a New Orde”. Journal Indonesia (66):150-194.
  50. Smith, A. D. (2009). Ethno-Symbolism and Nationalism: A Cultural Approach. London and New York: Routledge.
  51. Turner, J. (2011). Sejarah Rempah: Dari Erotisme Sampai Imprealisme. Depok: Komunitas Bambu.
  52. van Klinken, G. (2007). Perang Kota Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Pustaka Yayasan Obor Indonesia dan KITLV.
  53. van Klinken, G. (2010). “Kembalinya Para Sultan: Pentas Gerakan Komunitarian dalam Politik Lokal”, dalam Davidson, J, Henley, D dan Moniaga, S. (Ed). Adat dalam Politik Indonesia. Jakarta. Pustaka Yayasan Obor Indonesia:165-186.
  54. Vel, J. (2014). “Kampanye Pemekaran di Sumba Barat”, dalam Nordholt H. S. dan Gerry van Klinken, Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: Pustaka Yayasan Obor dan KITLVI:116-153.
  55. Vredenbregt, J. (1983). “Pola Dasar Kebudayaan-Kebudayaan di Indonesia”, dalam Masinambow, E.K.M (Ed). Halmahera dan Raja Ampat: Studi-Tsudi Terhadap Suatu Daerah Transisi, Jakarta: LEKNAS-LIPI. 2:1-11.
  56. Warren, C. (2010). “Adat dalam Praktek dan Wacana Orang Bali: Memposisikan Wacana Prinsip Kewargaan dan Kesejahteraan Bersama (commonwealt)”, dalam Davidson, J, Henley, (ed), Adat Dalam Politik Indonesia: Jakarta: Pustaka Yayasan Obor Indonesia.
  57. Widjojo, M. (2013). Pemberontakan Nuku. Depok: Komunitas Bambu.
  58. Wolf, E. R. (2011). Europe and the People Without History. Berkley-LosAngeles-London: Univer-sity of California Press.