DESENTRALISASI FISKAL DAN OTONOMI DAERAH Di INDONESIA

*Adissya Mega Christia  -  Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Indonesia
Budi Ispriyarso scopus  -  Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 26 Dec 2018; Published: 29 Mar 2019.
Open Access Copyright 2019 LAW REFORM
License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 4440 6743
Abstract
Desentralisasi fiskal tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan otonomi daerah untuk mengatur keuangan daerah sesuai potensi masing-masing. Penelitian ini menganalisis permasalahan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan desentralisasi fiskal dalam otonomi daerah dan pelaksanaan desentralisasi fiskal dalam otonomi daerah di Indonesia. Pendekatan penelitian ini yuridis normatif dengan analisis kualitatif. Kesimpulan penelitian ini bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai desentralisasi fiskal dan otonomi daerah di Indonesia mengalami perkembangan mulai dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1975 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah hingga Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah namun sampai saat ini belum ada peraturan perundang-undangan yang secara lex specialis mengatur mengenai desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal berperan penting dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia sebagai sarana mempercepat terciptanya kesejahteraan masyarakat secara mandiri sesuai dengan potensi daerah meskipun masih terdapat banyak kendala.
Keywords: Desentralisasi; Fiskal; Otonomi Daerah; Indonesia.

Article Metrics:

  1. Badrudin, R. (2017). Ekonomika Otonomi Daerah. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
  2. Sun’an, Muammil., & Senuk, Abdurrahman. (2015). Ekonomi Pembangunan Daerah. Jakarta : Mitra Wacana Media.
  3. Putra, W. (2018). Perekonomian Indonesia. Depok: Rajawali Pers.
  4. Putra, W. (ed). (2018). Tata Kelola Ekonomi Keuangan Daerah. Depok: Rajawali Pers.
  5. Tjandra, W. (2014). Hukum Keuangan Negara. Jakarta: Grasindo.
  6. Hadi, Sofyan., & Saragih, Tomy M. (2013). Ontologi Desentralisasi Fiskal Dalam Negara Kesatuan. Perspektif, Vol. 18, (No. 3), pp.169-179.
  7. Herwastoeti. (2010). Konsep Desentralisasi Fiskal Terhadap Otonomi Daerah. Humanity, Vol. 100, (No. 2), pp.100-108.
  8. Kharisma, B. (2013). Desentralisasi Fiskal Dan Pertumbuhan Ekonomi : Sebelum Dan Sesudah Era Desentralisasi Fiskal Di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, Vol. 14, (No. 2), pp.101-119.
  9. Kurniawan, D. (2012). Otonomi Daerah Dan Desentralisasi Fiskal Di Indonesia. E-Jurnal Unisfat, Vol. 7, (No. 2), pp.129-144.
  10. Magriasti, L. (2011). Arti Penting Partisipasi Masyarakat dalam Kebijakan Publik Di Daerah: Analisis dengan Teori Sistem David Easton. Jurnal Proceding Simsposium Nasional Otonomi Daerah. LAB-ANE FISIF Untirta, Vol. 1, (No. 1), pp. 252-258.
  11. Makhfudz, M. (2013). Kontroversi Pelaksanaan Otonomi Daerah. Jurnal Hukum, Vol. 3, (No 2), pp.380-407.
  12. Nurhemi., & Suryani, Guruh. (2015). Dampak Otonomi Keuangan Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Vol. 18, ( No. 2), pp.183-206.
  13. Rasul, S. (2009). Penerapan Good Governance di Indonesia Dalam Upaya Pencegahan Tindak Pidana Korupsi. Mimbar Hukum, Vol. 1, (No. 3), pp.538-553.
  14. Sambanis, Nicholas., & Milanovic, Branko. (2014). Explaining Regional Autonomy Differences in Decentralized Countries. Comparative Political Studies, Vol. 47, (No. 13), pp.1830-1855.
  15. Saputra, Bambang., & Mahmudi. (2012). Pengaruh Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kesejahteraan Masyarakat. JAAI, Vol. 9, (No. 1), pp.96-111.
  16. Setiaji, Wirawan., & Adi, Priyo, Hari. (2007). Peta Kemampuan Keuangan Daerah Sesudah Otonomi Daerah : Apakah Mengalami Pergeseran ? Seminar Nasional Akuntansi X, Vol. 1, (No. 1), pp.1-29.
  17. Setiawan, Bakti., & Hadi, Sudharto P. (2007). Regional Autonomy And Local Resource Management In Indonesia. Asia Pacific Viewpoint, Vol. 48, (No. 1), pp.72-84.
  18. Seymour, Richard., & Turner, Sarah. (2002). Otonomi Daerah: Indonesia’s Decentralisation Experiment. New Zealand Journal of Asian Studies, Vol. 4, (No. 2), pp.33-51.
  19. Sumardi. (2015). Determinan Efektifitas pengaruh Kebijakan Desentralisasi Fiskal Terhadap Kemampuan Keuangan Daerah serta Dampaknya Pada Ekonomi Pertumbuhan Daerah (Studi Kasus: Kabupaten/Kota di Jawa Tengah). Journal of Rural and Development, Vol. V,(No. 2), pp.147-165
  20. Siregar B, Pratiwi N (2017. The Effect of Local Government Charasteristics and Financial Independence on Economic Growt and Human Development Index In Indonesia. Jurnal Manajemen Dan Kewiraushaan, Vol. 19, (No.2), pp.65–71.
  21. Psycharis, Y. Yoi, M, (2015) Decentralization and local government fiscal autonomy: evidence from the Greek municipalities. Environment and Planning C: Government and Policy, Vol. 34, (No.2), pp.262-280.
  22. Pradiptyo, R. Suprayitno, B. (2017) Fiscal decentralization and corruption: The facts in regional autonomy in Indonesia. Journal Advanced Research of Law and Economic, Vol. 8, (No.5), pp.1458-1468.
  23. Haryanto, Joko T. (2015). Desentralisasi Fiskal Seutuhnya. Retrieved from https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel-dan-opini/desentralisasi-fiskal-seutuhnya/, diakses 22 Januari 2019.
  24. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2018). APBN Kita Kinerja dan Fakta. Retrieved from https://www.kemenkeu.go.id/media/7159/apbn-kita-edisi-februari-2018.pdf, diakses 27 Januari 2019.